Mon09252017

Last updateFri, 22 Sep 2017 11am

Back You are here: Home Berita Pemerintahan 17 Pemuda Gondrong Cabut Singkong

17 Pemuda Gondrong Cabut Singkong

BANJARNEGARA – Tujuh belas pemuda berambut gondrong, secara bersama-sama mencabut ketela pohon di lahan milik Makhful warga Desa Legoklangkir, Wanayasa. Desa Legoklangkir, merupakan desa kesekian kalinya yang pada penyelenggaraan kegiatan Kuduran ke 7 ini menyumbang ketela sebagai bahan dasar pembuatan ondol. Dan keterlibatan tujuh belas pemuda gondrong ini menjadi simbol keterlibatan 17 desa se Kecamatan Wanayasa dalam kegiatan Kuduran Budaya. Demikian disampaikan oleh Ketua Panitia Kuduran Budaya, Nono, Sabtu (26/09), di sela-sela kegiatan.

“Ketela pohon yang tengah dipanen ini merupakan sumbangan dari warga Desa Legkolangkir yang akan dijadikan bahan dasar ondol yang akan dibentang sepanjang 1000 meter esok harinya di ibu kota kecamatan Wanayasa” katanya.
Sesudah dipanen, lanjutnya, diambil dua singkong terbesar yang mewakili simbol ketela lanang dan ketela wadon. Dua ketela ini, lanjutnya, yang akan dimandikan di sumber mata air Kaliwali yang merupakan mata air keramat yang ada di desa.
“Setelah prosesi cuci ketela ini, ketela lanang dan wadon dibawa ke Desa Susukan Wanayasa tempat kegiatan bentang ondol berlangsung dimana untuk selanjutnya diolah menjadi bahan dasar ondol” katanya.
Kuduran Budaya, lanjutnya, menampilkan sejumlah kegiatan seni dan budaya. Selain ritual cabut tela dan bentang ondol, Kuduran juga menampilkan festival kuda lumping dan balap kuda lumping.
“Pada Sabtu malam diselenggarakan Sedekah Nada yang menampilkan berbagai kegiatan seni budaya seperti puisi, musikalisasi puisi, kus plus, dan group musik Sendawa” katanya.
Kades Legoklangkir, Sutanto mengatakan pada kegiatan ini total sumbangan ketela pohon dari warganya berjumlah 3,5 Kwintal. Dirinya berharap jumlah tersebut dapat memenuhi kuota bahan untuk membuat ondol sepanjang 1000 meter.
“Warga kami menyumbang ketela dengan sukarela. Karena mereka menyadari nilai penting kegiatan ini bagi perkembangan pariwisata di Wanayasa” katanya.
Perlu diketahui, lanjutnya, untuk membuat ondol yang benar-benar khas Wanayasa diperlukan ketela yang berasal dari bibit induk yang memang masih murni. Sebab ketela yang berasal dari indukan murni, lanjutnya, akan melahirkan rasa yang berbeda.
“Sekarang ini, jarang ditemui ketela yang berasal dari bibit indukan murni. Karena itulah ketela pohon yang berasal dari Legoklangkir sekarang ini dikenal mempunyai nama sendiri menjadi ketela Langkir. Rasa ketelanya dijamin enak” katanya.
Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., menambahkan dirinya sangat apresiasi dengan kegiatan Kuduran Budaya ini. Apalagi kemasannya kemasan kegiatan budaya ini melibatkan warga Wanayasa secara keseluruhan dan isu yang dibawa dari kegiatan ini tidak semata budaya. Ada nilai idealis dari para penyelenggara yang mengangkat potensi pangan lokal.
“Saya kira patut diapresiasi tinggi upaya panitia mengangkat ondol menjadi ikon kegiatan ini. ondol ini merupakan simbol makanan rakyat yang berbahan dasar ketela pohon. Upaya ini bisa diterjemahkan sebagai upaya pelesatarian pangan lokal dan bahan pangan lokal pengganti nasi yaitu Ketela pohon” katanya. (**--eko br)

 

 

 

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan