Wed07262017

Last updateWed, 26 Jul 2017 9am

Back You are here: Home Berita Pemerintahan Suara dari Kesunyian

Suara dari Kesunyian

BANJARNEGARA – Orang kebanyakan tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa kami, para tuna rungu, juga mempunyai keinginan sama seperti halnya orang bisa mendengar yaitu ingin mengetahui banyak hal. Namun kekurangan yang ada pada kami seringkali menjadikan alasan orang lain, lembaga, institusi, bahkan negara untuk mengabaikan hak-hak sebagai manusia dan sebagai warga negara untuk memperoleh informasi. Demikian Galuh Sukmara Soejanto, S.Psi, M.A , seorang deaf educator dari Rumah Belajar The Little Hijabi for Special Needs Childreen, Bekasi, beberapa waktu lalu saat audiensi dengan Wabup di rumah dinas.

“Tidak tahu apa yang sedang dikerjakan itu menyedihkan sekaligus menakutkan. Karena itu seperti membiarkan kami memasuki ruang gelap tanpa penerang. Sehingga untuk mengerti berbagai hal harus dilakukan secara mandiri. Lebih parah lagi saat ingin memperoleh informasi dari orang yang tahu justru mereka menyepelekan dengan mengabaikan kesulitan yang kami hadapi dalam berkomunikasi. Ini seperti berada di ruang sunyi di tengah keriuhan kehidupan, sementara kami hadir secara fisik namun tetap dibiarkan dengan ketidaktahuan kami” katanya.
Situasi seperti ini, dihadapi saya dan rekan-rekan kami sesama difabel tuna rungu dari kecil hingga dewasa. Saat berbagi pengalaman diketahui beberapa teman tidak saja mengalami kekerasan psikis seperti tersebut diatas, namun mereka juga mengalami kekerasan fisik karena terlahir menjadi seorang difabel. Banyak diantara mereka mengalaminya mulai dari keluarga sebab keluarga kurang membantu untuk hidup mandiri tapi lebih menekankan pada kekurangan kami untuk dibelas kasihani. Padahal sebagaimana manusia yang bisa mendengar, kami juga ingin mengembangkan bakat dan menentukan hidup kami sendiri.
“Di luar rumah, secara sosial, budaya, dan kenegaraan juga kurang menghargai kehadiran kami sebagai manusia. Olok-olok kekurangan kami ada yang dilakukan dengan cara terus terang ataupun bisa dilihat dari sikap-sikap yang meremehkan saat menjalin komunikasi. Hal ini tidak saja dilakukan oleh orang-orang berpendikan rendah namun hampir di semua lapis masyarakat, termasuk mereka yang berada di menara gading dan oleh pemerintah” katanya.

Pengalaman Saat Kuliah
Hal ini dibuktikan Galuh selama sekolah di sekolah umum dan yang paling berkesan adalah saat dirinya berupaya memperoleh gelar Sarjana Psikologi dari Universitas Gadjah Mada. Gelar kesarjanaan yang rata-rata ditempuh teman-temanya selama lima tahun harus dijalaninya selama 10 tahun. Ini dikarenakan berbagai kendala yang dihadapinya saat mengikuti perkuliahan. Bahkan selama lima tahun mengikuti perkuliahan, kata Ibu seorang anak yang komunikasinya dibantu alat bantu dengar ini, dirinya sama sekali tidak mengerti dan memahami materi kuliah yang disampaikan dosen.
“Saya berupaya keras untuk memahami materi dengan cara membaca gerak bibir dosen. Namun cara bicara dosen yang terlalu cepat membuat saya sulit untuk memahaminya. Tak ada pertejemah dan pencatat yang membantu saya dalam memahami materi perkuliahan. Di film-film yang diputar untuk membantu menjelaskan materi perkuliahan juga tidak disediakan penterjemah bahasa Isyarat. Ini kondisi umum yang dihadapi mahasiswa tuna rungu bila ingin melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi di Indonesia” katanya.
Saat saya mencoba bicara dengan sekolah, mereka pun tidak peduli dengan kondisi ini dan menganggap ini sebagai kesalahan saya karena sudah tahu tidak bisa mendengar mengapa nekat kuliah.
“Saya hampir frustasi menghadapi hal ini. Beruntung di perjalanan, saya bertemu teman yang pandai bahasa isyarat. Meskipun tidak sempurna, namun saya banyak terbantukan sekali hingga akhirnya saya dapat menyelesaikan sekolah saya” katanya.
Kondisi ini, lanjutnya, beda sekali saat dirinya meneruskan pendidikan S2 Bahasa Isyarat di La Trobe University, Bundoora, Melbourne, Australia. Karena dirinya tuna rungu, maka sekolah memberinya dua orang penterjemah yang mendampinginya secara bergantian dan seorang pencatat, sehingga dirinya dapat mengikuti kuliah dengan baik sebagaimana orang normal lainnya.
“Para penerjemah dan pencatat disediakan oleh negara dan dibayar oleh negara. Saya merasakan, mereka pemerintah Australia sangat menghargai betul hak-hak manusia untuk mendapatkan informasi yang sepadan dengan orang yang dapat mendengar. Saya menjadi sedih, mengapa negara saya Indonesia tidak melakukannya untuk kami kaum difabel tuna rungu. Sepertinya kami merupakan warga negara kelas dua di negara sendiri” katanya.
Keseriusan Pemerintah Australia memberi penghargaan yang tinggi terhadap manusia, kata Galuh, juga dilakukan di aspek-aspek lainnya. Hal ini seperti pengalaman saya waktu melahirkan anak pertama.
“Saat melahirkan, oleh Rumah Sakit saya diberikan penterjemah yang menerjemahkan instruksi dari tenaga medis apa yang harus saya kerjakan saat melahirkan. Selain itu,  dan membantu saya mengkomunikasikan kondisi saya ke dokter yang membantu persalinan. Sungguh pengalaman dahsyat dan mengharukan karena saya menjalani proses kelahiran tersebut dengan pengetahuan” katanya.
Setelah selesai menempuh pendidikan Master Sign of Linguistics La Trobe University, Bundoora, Melbourne, Australia, sambungnya, saya sempat mampir kembali ke almamater saya di UGM dan bertemu dosen-dosen saya. Mereka terkejut dengan kemajuan saya, terutama dalam hal komunikasi. Banyak dari mereka terharu dan merasa menyesal tidak banyak membantu saat saya kuliah dulu.

Kegelisahan Galuh
Kedatangan Galuh beraudiensi dengan Wakil Bupati tidak sendiri. Dirinya ditemani oleh lima orang rekannya sesama difabel tuna rungu pengajar di sekolah miliknya dan teman-teman Komunitas Sahabat Difabel Banjarnegara. Maksud kedatangannya adalah dirinya ingin menawarkan konsep baru sekolah bagi kaum difabel seperti yang dikerjakannya di Bekasi. Sebelum mengembangkannya di tempat lain, dirinya ingin mendirikan sekolah inklusif bagi kaum difabel di Banjarnegara kota kelahirannya. Dan dirinya berharap Pemerintah dengan kekuasaan yang dimilikinya bersedia mendukung proposalnya.
“Saya ingin mendirikan sekolah inklusif di Banjarnegara. Sebab saya ingin teman-teman sesama difabel di Banjarnengara memperoleh pendidikan terbaik. Dan saya berharap pemerintah mau mengakomodir dan mendukung proposal kami ini” katanya.
Berbeda dengan model sekolah inklusi yang sudah ada, Galuh Sukmara Soejanto, S.Psi, M.A mencoba mengembangkan model pendekatan yang lebih humanis, dimana dirinya lebih menekankan pada penyesuaian kebutuhan peserta didiknya berdasarkan kelainan, potensi kecerdasannya dan atau bakat istimewa yang dimilikinya. Dengan sistem homeschooling yang dianut sekolahnya, guru mendampingi setiap siswa berkebutuhan khusus paling tidak 4-5 orang. Kemudian guru memberikan materi berdasarkan keinginan siswa.
Proses penyampaian materi ajar pun disesuaikan dengan prinsip kenyamanan, maksudnya ketika anak merasa lebih mudah dan nyaman untuk menangkap materi maka guru dapat menggunakan gaya belajar  tersebut untuk menyampaikan materi. Di sini jelas setiap siswa memiliki gaya belajar sendiri-sendiri untuk itu guru bukanlah satu-satunya dijadikan sumber belajar tetapi siswalah yang dijadikan fokus sumber belajar guru.
Galuh selalu menekankan kepada orang tua yang menyekolahkan anaknya di The Little Hijabi Homeschooling  untuk lebih mengapresisasi anak berkebutuhan khusus tanpa memandang sebelah mata kekurangan yang dimilikinya.
“Apresiasi ini akan menumbuhkan rasa percaya diri yang kuat pada anak. Hal ini sangat penting bagi proses perkembangan anak” katanya.
Konsep baru ini diterapkan karena menurut Galuh, selama ini guru-guru di sekolah luar biasa salah dalam mendidik anak diffabel. Kerap kali guru memaksakan anak diffabel, misalnya anak tuna rungu untuk bisa bicara dengan cara melatih terus menerus dan memaksakan agar dapat berkomunikasi seperti halnya orang normal. Menurut Galuh kebijakan ini tidak tepat.
“Memaksakan dan melatih anak tuna rungu agar dapat berbicara bukan solusi yang tepat. Di sinilah pentingnya bahasa isyarat. Penyampaian bahasa isyarat kepada anak-anak tuna rungu jauh lebih memanusiakan mereka daripada harus memaksa mereka untuk berbicara” katanya.
Kecenderungan yang ada sekarang ini, sambungnya, anak-anak tuna rungu lebih terbiasa menggunakan oral untuk berkomunikasi karena tidak diajarkan bahasa isyarat di sekolah. Bagi anak-anak tuna rungu kondisi ini menjadi kendala besar karena dituntut untuk memperhatikan setiap gerakan mulut.
“Karena itu, penyandang tuna rungu harus belajar bahasa isyarat. Stigma yang mengatakan kalau bahasa isyarat akan membuat kemuduran bahasa jelas tidak benar adanya. Dan tugas pemerintah adalah menyebarkan bahasa isyarat” katanya.
Bahasa isyarat, lanjutnya, lebih memerdekakan teman-teman tuna rungu dalam berkomunikasi, lebih terstruktur layaknya bahasa lainnya, dan lebih mudah dalam berkomunikasi. Dalam hal ini, Galuh banyak mengkritik Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ada karena katanya pelajaran bahasa isyarat yang diajarkan membuat bahasanya menjadi berantakan.
Di bahasa isyarat yang diajarkan sekarang ini, katanya, susunannya banyak dikaitkan dengan kata dasar yang seringkali secara makna artinya jauh berbeda dengan kata bentukannya. Dicontohkan kalau mau bicara mengarang dilakukan dengan mengabungkan kata dasar karang yang berarti batu karang dengan isyarat jari yang mengartikan mengarang. Sama dengan saat ingin mengatakan mobil jalan juga dilakukan mengabungkan kata mobil dengan gambaran orang jalan. Ini kan jelas jauh bedanya. Beda mobil yang melaju dengan orang berjalan kaki. Dan mobil itu tidak berjalan sebagaimana manusia.
“Di bahasa isyarakat, genggaman sudah mengartikan mobil. Dan mobil berjalan cukup digerakan. Sedang bila ingin mengatakan mobil melaju cepat cukup digerakan dengan cepat. Bahasa isyarat seperti ini juga yang ingin kami perbaiki” kata Galuh sambil melakukan peragaan.
Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., menyambut baik prakarsa Galuh dengan konsep baru sekolahnya dan juga dengan bahasa isyarat yang dikenalkannya. Ada baiknya, lanjutnya, pertemuan ini tidak dilakukan sekali ini. Akan tetapi pada kesempatan lain diselenggarakan kembali dengan melibatkan orang tua yang memiliki anak difabel, para pengelola dan guru-guru SLB.
“Pertemuan lanjutan ini penting, terutama bagi orang tua, para pengelola SLB dan guru-gurunya. Sebab ternyata ada paradigma baru dalam bahasa yaitu bahasa isyarat yang dikenalkan Galuh. Sebaiknya ada diskusi yang mempertemukan mereka sehingga terbuka wacana” katanya.
Koordinator Sahabat Difabel, Riza menambahkan audiensi ini diselenggarakan karena dirinya bersama komunitas mengagumi gagasan Galuh bersama rekan-rekannya yang ingin membantu sesama kaum difabel dan membangun sekolah di Banjarnegara. Salah satu upayanya adalah mempertemukannya dengan pemerintah.
“Saya harap ide-ide cemerlang mbak Galuh ini bisa terwujud” katanya. (**--eko br)

 

 

 

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan