Sun03262017

Last updateThu, 23 Mar 2017 1pm

Back You are here: Home Derap Serayu online wacana

wacana

Kepemimpinan Nasional Menjawab Tantangan Global Oleh : Dr. Adi Sujatno, SH., MH. Lemhannas RI

Sejalan dengan MDG’s tersebut, pembangunan nasional pada dasarnya merupakan usaha untuk membangun peradaban (Civilization Development) yang secara keseluruhan merupakan usaha untuk meningkatkan “Human & National Capabilities”, yang mencakup tidak hanya tinggi rendahnya pendapatan nasional dan pendapatan per kapita tetapi secara komprehensif mencakup pula kualitas dan kuantitas penduduk; kemajuan sains dan teknologi; tingkat korupsi dan tingkat pengangguran; daya tarik bagi penanaman modal asing; kualitas infrastruktur; stabilitas ideologi, politik dan keamanan nasional.

Read more: Kepemimpinan Nasional Menjawab Tantangan Global Oleh : Dr. Adi Sujatno, SH., MH. Lemhannas RI

Warga Sirukem Tinggalkan Pengungsian

Sebanyak 1.560 warga Desa Sirukem Kecamatan Kalibening yang mengungsi sejak Selasa (22/11) di
Desa Balun Kecamatan Wanayasa mulai kembali ke rumah masing-masing (27/11).
“Beberapa tempat pengungsian sudah mulai kosong, mereka sudah kembali ke rumah meski
sebelumnya mereka tetap bertahan,” kata Kalakhar BPBD Banjarnegara Catur Subandriyo,
Menurut Catur, warga bersedia kembali kerumah setelah diyakinkan BPBD dan BMKG jika gempa
yang pernah terjadi tidak menimbulkan ancaman bencana tanah longsor seperti yang ditakutkan selama
Ketua PMI Banjarnegara Setiawan mengatakan, untuk memastikan masih ada tidaknya warga yang
mengungsi, PMI sudah melakukan penyisiran di beberapa tempat pengungsian dan sudah tidak ada lagi
pengungsi.  Dengan kondisi ini, maka tanggap darurat yang sebelumnya ditetapkan dinyatakan selesai.
 “Pengungsi sudah pulang semua, semua personel langsung kami tarik hari itu juga,” ujarnya.
Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo berharap nantinya ada pemantauan terhadap pengungsi yang
telah meninggalkan pengungsian. “Jangan sampai ada pengungsi yang tidak mendapatkan perhatian,
berikan pengertian agar mereka selalu melakukan koordinasi dengan pemerintah terdekat jika muncul
kembali gempa,” kata Sutedjo.  (**ANHAR)

RUANG WANITA Ibu Rumah Tangga Dilatih Membatik

 Untuk meningkatkan kemampuan dalam pembuatan batik, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan batik bagi Ibu rumah tangga. Pelatihan berlangsung selama  3 bulan yang dimulai sejak tanggal 13 Januari lalu.  

“Pelatihan membatik ini diikuti oleh 30 peserta, semula peserta ini mengikuti pelatihan menjahit, agar kegiatan ini ada tindak lanjut maka di ikutkan program pelatihan membatik,” kata Kordinastor Pamong Belajar SKB Haryono.

 Haryono menambahkan pelatihan batik tersebut merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan budaya kearifan lokal. Adapun batik yang diajarkan dalam pelatihan tersebut antara antara lain batik cap, batik tulis dan batik printing .

“Setelah pelatihan akan ada ditindak lanjut bagi peserta pelatihan membatik yaitu akan dibentuk kelompok. Kelompok tersebut nantinya tidak hanya membuat batik namun juga akan merambah sektor pemasaran, saat ini kami sudah mempunyai link pemasaran hingga keluar Jawa seperti Riau dan Batam,” kata Haryono.

Haryono menjelaskan, untuk membuat satu buah batik jenis cap dan batik printing pembuatannya memakan waktu 1 hingga 10 hari, sedangkan untuk pembuatan batik tulis bisa memakan waktu  hingga 20 hari.

 Terkait dengan motif, batik yang di buat  menonjolkan motif umum untuk batik printing dan batik cap, namun pada produk batik  tulis ada beberapa motif keunggulan daerah  seperti salak, jambu, dawet ayu. Batik itu yang akan menjadi ciri khas batik Banjarnegara nantinya.

“Keunggulan lain dari batik yang di buat hasil pelatihan di SKB adalah tidak mudah luntur seperti batik yang ada di pasaran dan tahan lama. Agar pelatihan sesuai dengan harapan maka kami mengambil pelatih dari SKB Kalibagor,” lanjut Haryono.

Haryono menambahkan, Ibu ibu yang direkrut untuk mengikuti pelatihan sebelumnya telah diidentifikasi dari desa desa, dan yang diutamakan yang belum bekerja, sehingga sasaran kami tercapai yaitu mengentaskan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat. “Kami bekerja sama dengan otoritas setempat dalam calon peserta pelatihan ke desa-desa terutama  mereka yang mau  mengembangkan diri untuk maju,” kata Haryono.

Kepala SKB Eko Janu Wardoyo pada kesempatan tersebut mengatakan, seperti halnya pengusaha batik yang ada di Banjarnegara maka SKB melalui pelatihan tersebut ingin menghasilkan batik dengan motif bervariasi, dan mempunyai motif yang menjadi ikon Banjarnegara seperti Dapuran, Salak, cendol dan Dawet Ayu. “Kami berharap mampu memproduksi batik yang murah dan berkualitas,” kata Eko.

Eko menambahkan selain membatik, SKB juga mengadakan pelatihan menjahit dan  pelatihan pembuatan makanan, terakhir kami mengadakan pelatihan pembuatan makanan olahan dari bahan baku tradisional  seperti pisang, kentang, tales,ketela.  “Peserta dilatih agar bisa memanfaatkan makanan tradisional menjadi makanan ringan dan siap saji,”  kata Eko.

Pusat Makanan Khas Banjarnegara

Eko menambahkan, SKB sendiri sering mengadakan pelatihan pembuatan makanan, namun setelah itu  kebingungan dalam memasarkan hasil pelatihan karena tidak ada tempat yang jelas untuk memasarkan hasil pemasaran. 

“Kami sebenarnya ingin memamerkan hasil makanan olahan ini agar bisa di ketahui oleh masyarakat, namun kami belum mempunyai lokasi atau tempat yang tepat,” lanjut Eko.

Eko berharap adanya showroom di Banjarnegara untuk memasarkan hasil pelatihan yang diselanggarakan oleh SKB. 

“Meski kami kawal setelahnya namun biasanya peserta bingung untuk memasarkan hasil karyanya setelah mengikuti pelatihan, jika ada tempat khusus penjualan maka kami tidak akan kesulitan untuk memasarkan,” tambah Eko

Terpisah Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo mengatakan pemkab telah melakukan berbagai langkah dalam rangka pengentasan kemiskinan dengan melalui beberapa cara, seperti pemberian bantuan alat usaha, modal hingga pelatihan kewirausahaan.

“Apa yang telah dilakukan oleh SKB dengan menggelar berbagai pelatihan ketrampilan merupakan salah satu upaya dalam rangka pengentasan kemiskinan, sehingga patut mendapat dukungan,  saya berharap setelah mengikuti pelatihan peserta mampu mandiri dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya,” kata Sutedjo.(**anhar)

 

 

 

 

Wabup Minta Warga Terus Waspada di Musim Hujan

 

 

 

Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., meminta warga yang hidup di daerah rawan bencana untuk senantiasa waspada karena musim hujan belumlah berakhir. Hal disampaikannya Jumat (06/02), saat memberikan sambutan pada pemakaman mbok Darno (60 th) korban longsor di dukuh Pagergunung, desa Pagergunung, Kecamatan Wanayasa.

Menurut Badan Metereologi dan Geofisika, kata Hadi, hujan masih akan turun hingga akhir Februari. Karena itu, lanjutnya, masyarakat harus tetap sigap dengan kewaspadaan terhadap turunya hujan. Apalagi jika hujan turun sangat lebat. Jangan sampai kita abai hingga berakhir dengan adanya korban.

“Kalau kita masih di ladang saat hujan turun deras. Tinggalkan saja semua pekerjaan. Ini merupakan salah satu bentuk sikap kewaspadaan akan bencana sebab nyawa lebih penting dari harta. Kalau harta, lain waktu kita bisa mencarinya, namun kalau nyawa yang hilang siapa yang mau ganti” katanya.

Bagi kaum lelaki, lanjutnya, jika hujan turun deras paksakan untuk tetap terjaga.

“Biar kaum perempuan dan anak-anak tertidur, tapi laki-lakinya tetap terjaga. Bila hujan telah reda, kitari lingkungan rumah apabila ada gejala-gejala yang membahayakan segera pergi dari rumah” katanya.

Para leluhur, lanjutnya, sesungguhnya sudah sangat bijak memberi peringatan kepada kita. Nama Pagergunung itu sendiri mengandung pesan bahwa masyarakat yang tinggal di sini berada di daerah yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Karena itu dibutuhkan sikap-sikap dan perilaku yang berkelarasan dengan lingkungan agar bahagia dan selamat.

“Boleh menanam tanaman rendahan seperti teh, sayur-sayuran, dan seterusnya. Akan tetapi jangan dilupakan juga untuk menanam tanaman tegakan seperti pohon puspa, mahoni, aren, dan bambu. Tanaman in penting sebagai pengikat tanah agar kuat sehingga tanah tidak mudah gugur, sekaligus berfungsi menyimpan air” katanya.

Bahkan untuk tanaman aren, lanjutnya, tidak hanya berfungsi menguatkan tanah namun juga mempunyai nilai ekonomis. Tanaman aren, kata Hadi, budidayanya tidak sulit karena bisa ditanam di sembarang tempat dan ditanam bersama-sama tanaman lain. Tanaman aren, imbuhnya, bisa diambilnya ijuknya untuk bahan pelindung kabel laut terbaik dan niranya untuk dibuat gula aren yang bernilai ekonomis tinggi.

“Bila pohon aren ditanam dengan baik, setelah enam – tujuh tahun satu pohon bisa menghasilkan nira 60 liter per harinya. Jumlah ini bila diolah menjadi gula bisa menghasilkan kurang lebih 5 kg gula aren. Dengan harga jual Rp 12 ribu, satu pohon per harinya bisa diperoleh Rp 60 ribu. Berapa rupiah bisa diperoleh jika memiliki lima pohon” jelasnya penuh semangat.

Bagi siapa saja yang berniat membudidayakan tanaman aren ini sebagai tanaman konservasi, lanjutnya, silahkan mengajukan permintaan ke Kabupaten. Pemerintah, lanjutnya, akan mengupayakan pemenuhannya secara gratis.

Menurut Kades Pagergunung, Suprianto, longsor yang menewaskan mbok Darno (60 th) salah satu warganya, terjadi Kamis siang saat hujan turun sangat lebat. Saat itu, lanjutnya, mbok Darno tengah berada di ladang memetik daun teh. Saat hujan turun lebat tersebut, sesungguhnya mbok Darno juga berupaya pulang. Saat melintas di jalur sulit sisa dua longsoran sebelumnya, kata Supri, longsor ketiga datang menggulung mbok Darno hingga sejauh 100 m.

 

“Kejadian pukul 12.00 siang hari. Namun Jenasah almarhumah baru bisa berhasil ditemukan pada pukul 20.00 wib dan terlempar sejauh 100 m dari titik kejadian” katanya. (**—eko br)

 

 

 

Kinerja Membaik, Banjarnegara Masuk 6 Kabupaten Terbaik

 

 

 

Hasil penilaian Evaluasi Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2014 oleh Pemerintah Propinsi, Pemkab Banjarnegara masuk menjadi satu dari enam Kabupaten di Jawa Tengah yang dinilai memiliki kinerja terbaik selama tahun 2013. Pemkab Banjarnegara meraih skore 56. Posisi ini lebih baik 10 digit dari tahun sebelumnya dengan skore 46. Demikian disampaikan Sekretaris Daerah Drs. Fahrudin Slamet Susiadi, MM, kemarin, saat membuka Forum Komunikasi Pendayagunaan Aparatur Negara Daerah (Forkompanda) di Sasana Abdi Karya lantai 3 Setda.

“Skore 46 itu sama dengan nilai C. Kini dengan skore 56 skore menjadi CC. Pada posisi ini, Pemkab Banjarnegara berada di posisi enam besar bersama Pemkot Kota Semarang, Pemkot Solo, Pemkab Sragen, Pemkab Purbalingga, dan Pemkab Banyumas” katanya.

Prestasi yang meningkat ini, lanjutnya, hendaklah ditingkatkan untuk tahun berikutnya. Kunci dari itu, lanjutnya, adalah pencapaian kinerja harus lebih baik lagi. Maka, lanjutnya, menjadi kebutuhan penting kegiatan Forkompinda ini. Sebab penyelenggaraan Forkompinda, lanjutnya, merupakan bagian tidak terpisahkan dari serangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemkab untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional.

“Birokrasi professional diharapkan mempunyai karakteristik adaptif, berintegritas, berkinerja tinggi, berdedikasi, dan memegang teguh nilai kode etik aparatur negara sesuai grand design reformasi birokrasi 2010-2025” katanya.

Menurut Grand Design Reformasi birokrasi, lanjutnya, area perubahan dalam aspek manajemen adalah meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi. Sedangkan inti dari akuntabilitas kinerja, lanjutnya, adalah kinerja yang direncanakan, kinerja yang diperjanjikan, kinerja yang dilaksanakan, kinerja yang dilaporkan, dan kinerja yang dievaluasi.

“Harapannya, pembekalan ini dapat diserap dengan baik oleh para peserta sehingga pelaksanaan Sistem Akuntabilitas Kinerja di Pemkab Banjarnegara sesuai dengan kapasitas masing-masing pegawai menuju terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik” katanya.

Ketua Penyelenggara Forkompinda Assisten Bidang Administrasi Dra. Sri Trisnainingsih, M. Si., mengatakan, tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai wadah untuk konsolidasi dan komunikasi Pemkab dalam mewujudkan sistem akuntabilitas kinerja pemerintah. Peserta kegiatan, lanjutnya, berjumlah 71 orang. Mereka, lanjutnya, terdiri dari Sekda, Staf Ahli, Asisten, Kepala SKPD Kabupaten dan Kecamatan.

 

“Untuk mencapai kualitas pembekalan yang baik, panitia mendatangkan langsung narasumber pejabat Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Harapannya, materi yang disampaikan mendalam dan apabila ada permasalahan di lapangan bisa langsung ditanyakan ke sumbernya” katanya. (**—eko br)

 

 

 

Kartu Tani Akan Dijadikan Alat Kontrol Pemasaran Pupuk Bersubsidi

Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) mengusulkan penerapan sistem pemasaran tertutup untuk mengatasi kekacauan pemasaran pupuk bersubsidi di wilayah Batur. Gagasan ini disampaikan oleh Sekretaris KP3 Drs. Teguh Handoko saat digelar dialog antara Wakil Bupati, KP3, Dintankannak, Produsen Pupuk, Pengecer Pupuk, dan Asosiasi Petani Kentang Dataran tinggi Dieng, Kamis (12/02) di aula Balai Desa Batur, Kecamatan Batur. “Jika disetujui, Kartu tani ini nantinya akan dipegang oleh semua petani anggota kelompok tani yang berhak menerima pupuk bersubsidi. Pada setiap kartu tani ini nantinya akan ditulis masing-masing nama petani dan usulan kebutuhan pupuknya sesuai yang tercantum dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok atau RDKK yang disampaikan kelompoknya” katanya. 

Setiap kali melakukan pembelian pupuk bersubsidi, lanjutnya, masing-masing petani harus membawa kartu ini ke pengecer pupuk yang memegang RDKK kelompok tani dimaksud. Di luar pengecer yang telah ditunjuk, petani tidak dapat melakukan pembelian pupuk di tempat lain.

“Opsi pemasaran pupuk dengan kartu tani ini diajukan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi keruwetan pemasaran pupuk yang terjadi di lapangan. Namun tetap syarat pengisian RDKK harus dilakukan terlebih dahulu oleh petani. Sebab tanpa itu, produsen sulit mengeluarkan pupuk sesuai kebutuhan suatu wilayah” katanya.

Sedangkan soal kelangkaan pupuk, sambungnya, para petani tidak perlu khawatir. Untuk tahun 2015 ini, lanjutnya, aturan tentang penyaluran pupuk sudah diterbitkan berdasarkan Perbup Bupati Nomor 72 Tahun 2014. Di dalam pasal 7 Perbup, lanjutnya, sudah diatur mengenai realokasi pupuk. Aturan ini memungkinkan jika suatu wilayah mengalami kekurangan pupuk, katanya, dapat dipenuhi melalui mekanisme realokasi antar wilayah, waktu, dan sub sektor melalui keputusan Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Perternakan.

Apabila alokasi pupuk di suatu kecamatan pada tahun berjalan tidak mencukupi, penyaluran pupuk di wilayahnya dapat menggunakan sisa alokasi bulan sebelumnya dan atau dari alokasi bulan berikutnya dengan tidak melampaui alokasi pupuk selama satu tahun. Alokasi pupuk untuk Kabupaten Banjarnegara, khususnya untuk NPK selama satu tahun dipatok sebesar 10.501 ton per tahunnya.

“Jadi bila satu daerah kekurangan, bisa mengambil sisa bulan sebelumnya yang mungkin tidak habis penggunaannya atau mengambil alokasi bulan berikutnya. Bila ini tidak mencukupi bisa mengambil alokasi di wilayah lain yang masih tersisa banyak. Yang pentingnya, jumlahnya tidak melampaui alokasi total 10.501 ton” katanya.

Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., menambahkan gagasan adanya Kartu Tani ini sejalan dengan ide dari Gubernur Ganjar Pranowo yang tengah mengkaji kemungkinannya menerapkan Kartu Tani di Jawa Tengah. Bila Banjarnegara dapat menerapkannya di lapangan, maka akan mendahului rencana Gubernur tersebut dan dapat dijadikan pilot proyek dengan studi kasus di Kecamatan Batur.

Masalah kelangkaan pupuk di Batur ini, lanjutnya, memang menjadi pertanyaan besar sebab berdasar data dari produsen pada tahun 2014 kemarin telah menyiapkan 1.034 ton pupuk untuk wilayah kecamatan Batur. Namun dari catatan produsen, dari jumlah tersebut hanya terserap 731 ton. Di sisi lain, lanjutnya, para petani kentang di Batur mengeluhkan terjadinya kelangkaan pupuk.

“Fakta ini melahirkan pertanyaan, mengapa bisa terjadi hal seperti ini. Dimana letak kesalahannya. Sebab apabila petani mengeluhkan kekurangan pupuk, mengapa jumlah 1.034 ton yang dicadangkan untuk wilayah Batur hanya terserap 731 ton. Apa yang sebenarnya terjadi” katanya retoris. 

Sementara dari sisi petani sendiri disampaikan kalau di wilayah mereka bahwa petani pembeli pupuk bersubsidi ini berasal dari wilayah pejawaran, Wanayasa, dan sebagian dari Kabupaten Batang yang sebenarnya tidak diperbolehkan. Sebaliknya dari sisi petani Batur sendiri juga disampaikan kalau mereka membeli pupuk bersubsidi di wilayah lain.

“Karena itu untuk kecamatan Batur patut dipertimbangkan usulan pembagian wilayah pupuk ini tidak didasarkan pada wilayah administratif namun pada wilayah pemasaran. Sebab tidak manusiawi jika sebagian wilayah pejawaran seperti Grogol, Condongcampur, dan sebagian wilayah Kecamatan Wanayasa yang lebih dekat ke Batur harus membeli sesuai aturan di pusat kecamatannya. Namun jika dari Kabupaten tetangga tetap harus ditolak. Sebab perbuatan ini jelas ilegal dan ada sanksi hukumnya” katanya.

Agar Ide-ide Besar Anda Jadi Kenyataan di Era Serba Digital

Anda seorang yang kreatif, punya banyak ide tapi berhenti menjadi sebatas ide? Menjadi kreatif memang bisa memiliki masalah. Kita bisa memiliki begitu banyak ide-ide besar, melalui proses kreatif, tetapi kebanyakan dari ide-ide tersebut tidak pernah terjadi. Alasannya adalah bahwa kebiasaan kreatif kita cenderung untuk menghasilkan ide-ide baru, sementara kita sedang mengeksekusi ide yang kita miliki. Sebagai hasilnya, kita meninggalkan banyak proyek di tengah jalan.

Apakah situs pribadi, ide atau proyek kerja baru, sampai ide bisnis baru, sebagian besar proyek-proyek ini akan menjadi mandeg dan menjadi sumber frustrasi. Berikut ini merupakan tips dan saran untuk membuat ide-ide itu dapat terjadi alias menjadi kenyataan :

 1.  Hindari Alur Kerja Reaksioner

Tanpa disadari, sebagian besar dari kita mengadopsi “alur kerja reaksioner.” Kita terus-menerus dibombardir dengan komunikasi yang masuk: email, pesan teks, tweets, posting Facebook, panggilan telepon, pesan instan, dll. Bukannya kita proaktif dengan energi kita, kita malagan menghabiskan semua energi kita bereaksi dan diperbudak item yang masuk itu.

Untuk menghindari alur kerja reaksioner ini, beberapa orang yang paling produktif memiliki jadwal yang bisa disebut “jendela non-stimulasi” pada hari mereka. Selama dua sampai tiga jam per hari, orang-orang ini menghindari email dan semua komunikasi yang masuk lainnya. Pada saat-saat ini, mereka fokus pada daftar mereka: tugas tidak rutin, tetapi proyek-proyek jangka panjang yang memerlukan penelitian dan pemikiran yang mendalam.

Ide lain adalah mengumpulkan semua pesan di satu lokasi pusat. Pengaturan jaringan sosial Anda ke email Anda, dengan menggunakan filter yang secara otomatis mengelola email ini, akan mengurangi waktu dan fokus perhatian Anda. Dalam dunia yang memiliki banyak inbox, Anda harus mengkonsolidasikan.

2. Pisahkan Proyek Jadi 3 Elemen Utama

Setiap proyek dalam hidup pada dasarnya dapat disederhanakan menjadi hanya tiga unsur utama: 1) langkah-langkah tindakan, 2) item backburner dan 3) referensi. Langkah-langkah tindakan adalah mulai dengan kata “kerja dan kerja”. Mereka harus disimpan terpisah dari catatan dan sketsa.

Item backburner adalah ide-ide yang muncul selama brainstorming atau sesuatu yang tidak ditindaklanjuti tetapi mungkin di kemudian hari. Item backburner harus dikumpulkan di satu lokasi pusat dan ditinjau secara berkala sebagai ritual. Anda bisa selalu mencetak daftar item backburner (yang ia simpan dalam dokumen Word) pada hari Minggu pertama setiap bulan. Anda mengambil lembar-lembarnya dan kemudian duduk untuk meninjau seluruh daftar. Beberapa item akan dicoret ketika tidak relevan, beberapa akan tetap pada daftar, dan beberapa akan berubah menjadi langkah-langkah tindakan.

Unsur ketiga setiap proyek adalah referensi: artikel, catatan dan hal-hal lain yang dikumpulkan di sekitar Anda. Bisa juga menjadi referensi yang berlebihan. Daripada menghabiskan waktu berjam-jam mengatur catatan Anda, pertimbangkan hanya mengajukan catatan kronologis (yaitu tidak sesuai proyek atau apa pun) dalam satu file besar. Dalam usia kalender digital, kita dapat mencari setiap meeting dan cepat menemukan catatan yang diambil pada tanggal tersebut.

3.  Rapat Dengan Aksi Langkah

Rapat menjadi sangat mahal mengingat biaya, waktu dan interupsi yang dihabiskan. Hati-hati dengan “keharusan meeting” atau pertemuan “hanya karena Senin awal pekan.” Pertemuan seperti ini biasanya dijadwalkan pada pagi hari – ketika Anda berada di masa yang paling produktif- dan sering berakhir tanpa langkah-langkah tindakan yang realistik. Pertemuan yang berakhir tanpa langkah-langkah tindakan seharusnya cukup disampaikan via pesan/email. Namun ada saatnya rapat juga diperlukan untuk sesuatu yang sifatnya koordinasi, laporan dan evaluasi.

Mengurangi Kerawanan Kerja

Dalam era Google Analytics dan Twitter, kita menghabiskan terlalu banyak waktu dan terobsesi untuk memperoleh data real-time karena itu semua di ujung jari kita. Apakah itu traffic website Anda atau rekening bank, sekalipun memeriksanya berulang kali tidak membantu membuat ide-ide Anda terjadi. Hal-hal ini hanya membuat Anda merasa “aman”. Padahal sebenarnya ‘mubazir’.

Ini yang disebut kerawanan kerja, ketika hal yang kita lakukan (1) tidak memiliki hasil yang didefinisikan, (2) tidak bergerak ke depan dengan cara apapun dan (3) memakan waktu sedikit demi sedikit tanpa kita menyadarinya. Namun, seringkali itu yang membuat kita tenang, karena merasa ada yang sudah dilihat.

Langkah pertama untuk mengurangi ‘kerawanan kerja’ adalah menjadi sadar diri. Identifikasi ‘kerawanan kerja’ ini dalam kehidupan sehari-hari Anda. Langkah kedua adalah menetapkan pedoman sendiri yang menciptakan disiplin. Mungkin Anda bisa mencoba membatasi obsesi Anda pada data real time itu menjadi 30 menit dalam setiap hari? Langkah ketiga, jika ada, adalah mendelegasikan tugas-tugas ini pada orang lain, yang dapat meninjau data secara berkala dan melaporkan sesuatu pada Anda.

Proses Kreatif Adalah Bagaimana Tetap “Survive” belajar dari “Proyek Plateau.”

Setiap orang memiliki pendekatan mereka sendiri untuk menghasilkan ide-ide. Tidak ada “cara terbaik” untuk menjadi kreatif. Tapi ketika datang ke proses eksekusi ide atau pelaksanaan, kita semua menghadapi satu tantangan spesifik: bertahan dengan ide itu. Sebagian besar ide ditinggalkan pada apa yang saya sebut “proyek plateau”: titik ketika kreatifitas berkurang dan rasa penderitaan karena deadlines dan manajemen proyek mulai memberatkan.

 

Untuk menghindari rasa sakit (frustasi) ini, kita menghasilkan ide baru lagi dan meninggalkan yang kita kerjakan. Proses ini dapat dengan mudah terulang-ulang, tanpa kita pernah menyelesaikan sesuatu yang berarti. Tunjukkan ide-ide Anda, dan habiskan sebagian energi Anda untuk mengeksekusi hal tersebut. Jika tidak untuk Anda, lakukan untuk orang lain sehingga mereka mendapatkan keuntungan dari ide-ide Anda. (yovihumas)

BKR “Tumpuan Harapan” Desa Sirukun Kalibening Siap Wakili Jateng Lomba BKR Tingkat Nasional

 

 

 

Bina Keluarga Remaja (BKR) “Tumpuan Harapan” Dusun Sampo Desa Sirukun Kecamatan Kalibening, Banjarnegara baru-baru ini, dinilai oleh Tim Penilai Provinsi Jawa Tengah pada Penilaian Kelompok BKR Terbaik Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 di aula Balai Desa Sirukun, beberapa waktu lalu.

Hadir dalam acara penilaian seluruh pengurus dan anggota BKR beserta anggota keluarganya yang berusia remaja, Kades Sirukun beserta perangkat, dan Muspika Kalibening dan jajarannya. Hadir pula menyaksikan penilaian, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten, Hj. Sakinatun Hadi Supeno dan Kepala BKBPP, Drs. Suyatno, M. Hum, sementara dari Tim Penilai diketuai oleh Ny. Anisah Wibowo dengan tiga orang anggota.

Tiga Besar

Dalam sambutan selamat datang, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Banjarnegara, Hj. Sakinatun Hadi Supeno mengatakan kegembiraannya atas terpilihnya BKR “Tumpuan Harapan” sebagai tiga besar dalam Pemilihan Kelompok BKR Terbaik Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015, meskipun harus bersaing dengan dua pesaing lain yakni dari Purbalingga dan Batang. “Kami optimis, semoga Tumpuan Harapan bisa menjadi tumpuan harapan kami, yaitu menjadi yang terbaik sehingga dapat mewakili Jawa Tengah dalam lomba BKR Unggulan tingkat nasional.”

Sakinatun mewakili PKK Kabupaten turut bangga, kegiatan Keluarga Berencana dapat berjalan dengan baik di desa kecil seperti Sirukun. Karena menurutnya, KB bukanlah monopoli kaum wanita. Namun kaum pria, lansia dan remaja punya andil besar menyukseskan program KB yang bermuara pada terciptanya keluarga bahagia yang terencana.

Di awal penilaian, Ny Suwiti Karpi, selaku Ketua PKK Desa Sirukun menyampaikan paparan mengenai kondisi desa dan kegiatan KB khususnya BKR yang sedang dinilai. Suwiti mengatakan, pada awal berdirinya pada 15 Oktober 2013, kegiatan BKR “Tumpuan Harapan” antara lain pemanfaatan lahan pekarangan, usaha ekonomi produktif untuk peningkatan gizi, dan penyuluhan hubungan harmonis dengan keluarga. “Alhamdulillah, warga kami sangat respon, sehingga kegiatan kini sudah banyak berkembang. Uniknya, penyuluhan tidak harus kumpul banyak orang. Di sawah, dimana tempat dengan beberapa orang saja yang ketemu, penyuluhan bisa berjalan,” katanya.

 Triad KKR

Tim penilai kemudian melakukan survey ke sekretariat BKR Tumpuan Harapan yang berlokasi di RT 03 RW 01. Ketua BKR Tumpuan Harapan, Ika Yuliani, S. Pd, mengatakan, saat ini, BKR Tumpuan Harapan yang beranggotakan 66 keluarga, tak hanya fokus pada kegiatan untuk perempuan usia produktif, tapi giat juga melakukan penyuluhan bagi remaja. “Permasalahan remaja menjadi isyu penting. Jumlahnya yang besar karena berdasarkan sensus penduduk 2010 saja, jumlah remaja Indonesia sudah mencapai angka 64 juta lebih atau 27,6 persen lebih dari jumlah penduduk Indonesia, sekarang pasti sudah berkembang. Disamping itu, remaja sangat rentan terhadap resiko Triad Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) atau tiga resiko yang dihadapi oleh remaja, yakni karena seks bebas, ancaman HIV/ AIDS dan Napza. Dalam evaluasi penilaian, Ketua Tim Penilai Pemilihan Kelompok BKR Terbaik Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 menyatakan puas dengan kinerja KBR Tumpuan Harapan dan juga dukungan seluruh masyarakat Desa Sirukun. Anisah Wibowo mengatakan, bahwa penilaian lomba tersebut bukanlah yang utama. “Karena yang lebih penting adalah tindak lanjut pembinaan kegiatan ini agar benar-benar berjalan dengan rajin sehingga anggota BKR dan masyarakat merasakan manfaatnya,” ujarnya. (Muji Prast).

 

 

 

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan

Link Penting

SIM ONLINE

PPDI

  • Profil
  • Peraturan
  • Pedoman & Standar Pelayanan
  • Formulir Permintaan
  • Info Serta Merta
  • Info Setiap Saat
  • Hak dan Tata Cara
  • Pengaduan
Info Penting
  • Penelitian / Praktek Kerja