Tue04252017

Last updateTue, 25 Apr 2017 5pm

Back You are here: Home Derap Serayu online wacana Kepemimpinan Nasional Menjawab Tantangan Global Oleh : Dr. Adi Sujatno, SH., MH. Lemhannas RI

Kepemimpinan Nasional Menjawab Tantangan Global Oleh : Dr. Adi Sujatno, SH., MH. Lemhannas RI

Sejalan dengan MDG’s tersebut, pembangunan nasional pada dasarnya merupakan usaha untuk membangun peradaban (Civilization Development) yang secara keseluruhan merupakan usaha untuk meningkatkan “Human & National Capabilities”, yang mencakup tidak hanya tinggi rendahnya pendapatan nasional dan pendapatan per kapita tetapi secara komprehensif mencakup pula kualitas dan kuantitas penduduk; kemajuan sains dan teknologi; tingkat korupsi dan tingkat pengangguran; daya tarik bagi penanaman modal asing; kualitas infrastruktur; stabilitas ideologi, politik dan keamanan nasional.

 

KUALITAS PIMNAS YANG DIHARAPKAN, NEGARAWAN & INDEKS KEPEMIMPINAN NASIONAL INDONESIA

Sejalan dengan kondisi bangsa kita saat ini, guna memberikan solusi politik atau jalan keluar maka dibuat dalam bentuk Resque Program (jalan alternatif untuk menyelamatkan bangsa) sebagai langkah strategis untuk mengatasi beberapa permasalahan aktual dimaksud.

Untuk melaksanakan resque program dan langkah strategis yang feasible, applicable and workable dalam rangka membangun bangsa ini menjadi bangsa besar dituntut adanya “strong leadership” yang mampu berperan sebagai: solidarity maker and administrator maker yang baik, komunikatif, bersih dan berani bersikap tegas, mempunyai visi ke depan,serta memiliki kharisma yang dihormati dan disegani rakyat.

Hal ini juga diperjelas dengan sabda Rasullallah Muhammad SAW yang artinya “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas hasil kepemimpinannya”. (H.R. Imam Bukhari Muslim).

Menurut Ibnu Taimiyah syarat tegaknya sebuah negara akan terwujud apabila di dukung oleh beberapa faktor, di antaranya adalah: 1. IImunya seorang ulama; 2.Pemimpin yang adil; 3. Pedagang/Pengusaha yang jujur; 4. Masyarakat/rakyat yang patuh; dan 5. Pegawai yang disiplin.

Pada ajaran Nasrani di dalam bukunya yang berjudul Lead Like Jesus (Ken Blanchard and Phil Hodges) yang di tulis oleh Rick Warren, seorang penulis The Prophet Driven Life mengatakan, bahwa ada 4 (empat) bidang penting dalam diri manusia dan bagaimana mereka membantu membawa Anda menjadi pemimpin yang luar biasa. Keempat bidang itu mencakup: (1) Hati, (2) Kepala, (3) Tangan, dan (4) Kebiasaan. Sebaliknya, “Yesus menunjukkan model kepemimpinan yang melayani, memimpin dengan teladan hidup”. Dia berkata, “Aku datang untuk melayani, bukan untuk dilayanan”. Dialah satu-satunya teladan yang sempurna. (Rick Wanen, Penulis The Prophet Driven Life, dikenal sebagai salah seorang dari “25 Pemimpin terbaik di AS). Di dalam Kitab Suci versi King James menyebut kata pemimpin sebanyak enam kali sedangkan kata pelayanan disebut sebanyak sembilan ratus kali.

Pada ajaran Buddha masalah kepemimpinan ditampilkan dalam falsafah Dhamma pada uraian Thakada. Di sana diuraikan bahwa kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang memenuhi “Sepuluh Kewajiban Raja” (Dasa Raja Dhamma) yang terdiri dari: Dhana (suka menolong, tidak kikir dan ramah tamah), Sila (bermoralitas tinggi), Paricaga (mengorbankan segala sesuatu demi rakyat), Ajjava (jujur dan bersih),Maddava (ramah tamah dan sopan santun), Tapa (sederhana dalam penghidupan), Akkhoda (bebas dari kebencian dan permusuhan), Avihimsa (tanpa kekerasan), Khanti (sabar, rendah hati, dan pemaaf), Avirodha (tidak menentang dan tidak menghalang-halangi).

Pada ajaran Hindu, falsafah kepemimpinan dijelaskan dengan istilah-istilan yang menarik dan memiliki makna yang mendalam, seperti: Panca Stiti Dharmeng Prabhu (lima ajaran seorang pemimpin), Catur Kotamaning Nrepati (empat sifat utama seorang pemimpin), Asta Brata (delapan sifat mulia para dewa), Catur Naya Sandhi (empat tindakan seorang pemimpin).

Dalam Catur Naya Shandi diterangkan, bahwa seorang pemimpin hendaknya melaksanakan empat hal, yaitu: Sarna (menandingi kekuatan musuh), Bheda (melaksanakan tata tertib dan disiplin kerja), Dhana (mengutamakan sandang dan papan untuk rakyat), Oandha (menghukum dengan adil mereka yang bersalah). Ajaran Hindu juga mengajarkan pantangan larangan bagi seorang pemimpin yang diistilahkan Molimo (lima me): 1) Memotoh (main judi), 2) Metuakan (minum-minuman keras), 3) Memati-mati (membunuh), 4) Memadat, 5) Memitra/Madon (selingkuh). 10

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sesungguhnya letak strategis seorang pemimpin dan kepemimpinan pada kepribadian dan kecerdasan akal budinya. Ada beberapa peran seorang pemimpin dan kepemimpinannya, antara lain: seorang pemimpin mempunyai peranltugas untuk mempengaruhi, mengajak, menggerakkan, mengambil keputusan dan harus siap menjadi figur, teladan, contoh, panutan dari seluruh orang-orang yang dipimpinnya serta lingkungan masyarakatnya. Pada gilirannya hal ini juga dimaksudkan sebagai upaya mewujudkan rekonsiliasi nasional guna mengharmonisasikan situasi dan kondisi masa lalu dengan masa sekarang serta mengharmonisasikan semua aspek-aspek kehidupan nasional.

Sejatinya, pemilu adalah media bagi rakyat untuk mendapatkan sosok kepemimpinan yang refresentatif bagi bangsanya. Oleh karena itu Pemilu merupakan agenda yang sangat penting dalam upaya mendapatkan sosok Pemimpin Nasional yang berkualitas. Untuk itu kecerdasan rakyat dalam menentukan pilihan sangat dibutuhkan, sehingga pada akhimya rakyat tidak salah memilih pemimpinnya.

Sekarang ini dan ke depan Indonesia memerlukan pemimpin dan kepemimpinan yang kuat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Sosok Pemimpin Nasional yang kuat terdiri dari tiga (3) kriteria sebagai berikut:

1. Sosok PIMNAS yang dipercaya dan diterima masyarakat (social trust).

Hubungan yang erat antara pemimpin dan yang dipimpin merupakan syarat utama bagi tercapainya tujuan kepemimpinan secara berdaya guna dan berhasil guna. Pemimpin akan dapat melaksanakan fungsi kepemimpinan-nya dengan efektif apabila ia diterima, dipercaya, didukung serta dapat diandalkan. Agar dapat memperoleh kepercayaan rakyat, untuk itu seorang pemimpin harus memiliki reputasi yang baik, kinerja yang optimal terutama dalam mengantisipasi tantangan ke depan dan keberhasilannya mengatasi berbagai permasalahan krusial serta membawa kemajuan yang dirasakan langsung oleh rakyat.

Selain mendapat kepercayaan dari rakyat, kehidupan berbangsa akan semakin mantap bila dipimpin oIeh sosok kepemimpinan yang tingkat resistensinya rendah serta memiliki integritas dan kualitas kepemimpinan yang teruji. Sosok kepemimpinan yang memiliki resistensi yang rendah dapat dilihat dari kualitas-kualitas sebagai berikut:

1)     Dikenalluas oleh sebagain besar rakyat.

2)     Dikenal memiliki karakter dan kepribadian yang baik.

3)     Mampu membangkitkan rasa optimisme dan motivasi rakyatnya.

4)     Dikenal memiliki orientasi pengabdian dan dedikasi.

5)     Mampu menangani konflik secara bijak dengan ketabahan dan kearifan yang tinggi.

6)     Mampu berinteraksi dan berkomunikasi secara luas dengan berbagai elemen dan lapisan masyarakat.

7)     Memiliki wawasan dan pemahaman yang luas mengenai masalah ideologi, politik,sosial, budaya, hankam,serta hubunganantar bangsa.

8)     Memilki”track record” yang baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

9)     Tidak diragukan integritasdan kesetiaannya kepada NKRI,Pancasila dan UUD 1945,serta memiliki komitmen yang kuat terhadap kepentingan bangsa.

Sosok PIMNAS yang konsisten, tegas dan tidak ambivalen.

Agar upaya pencapaian cita-cita dan tujuan nasional dapat dicapai dengan efektif dan efisien, diperlukan sosok individu atau pribadi pemimpin yang memiliki kemampuan leadership yang mapan, antara lain selalu konsisten, tegas dan tidak ambivalen, disiplin serta konsekuen dalam pengambilan keputusan. Pemimpin yang diinginkan rakyat adalah pemimpin yang tegas, berani karena benar, benar karena menurut hukum. Pemimpin yang demikian itu adalah pemimpin yang kuat karakternya, yang tidak ragu untuk membenarkan dan menyalahkan, tidak ambivalen.

Sosok PIMNAS yang konsisten, tegas dan tidak ambivalen merupakan cerminan dari sifat wajib para nabi yang patut diteladani, yaitu: Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah. Pemimpin yang memilikisifat Siddiq adalah pemimpin yang memiliki kejujuran dan kebenaran. la tegas dalam menyatakan pendapatnya secara benar, tulus dan jelas sesuai dengan kenyataan. Seorang pemimpin dituntut untuk jujur tata pikimya, jujur tata bicaranya, jujur tata lakunya dan jujur pula tujuannya.

Pemimpin yang memiliki sifat Amanah adalah sosok pemimpin yang mampu melaksanakan segenap tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya, termasuk di dalamnya dalam hal pengelolaan keuangan negara. la menyakini bahwa jabatan dan kekuasaan merupakan amanah rakyat dan Tuhan yang akan dimintakan pertanggungjawabannya, sehingga ia konsisten terhadap visi, misi dan kontrak sosial yang dibebankan kepadanya. Pada gilirannya ia akan menjalankan amanah tersebut dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kepemimpinan yang produktif (berdaya guna dan berhasil guna).

Pemimpin yang memiliki sifat Tabligh adalah sosok pemimpin yang mahir dalam mensosialisasikan kebijakan-kebijakannya dan memiliki kemampuan dalam pergaulan intemasional secara baik dan benar.

Pemimpin yang memiliki sifat Fathonah adalah sosok pemimpin memiliki kecerdasan intelektual dan profesionalisme. Pemimpin yang memiliki keluasan ilmu akan mengantarkannya menjadi pemimpin yang bijaksana dalam mengambil keputusan, toleran terhadap perbedaan serta cerdas dan tangkas dalam mengatasi dan mengantisipasi berbagai gejolak yang muncul dalam masyarakat sehingga ia tidak ambivalen dalam mengeluarkan suatu kebijakan.

3. Sosok PIMNAS yang memiliki kecerdasan intelektual (intelectual quality), emosional (emossional quality) & spiritual (spiritual quality)

Sebagai seorang negarawan, pemimpin dituntut untuk mampu berfikir, bersikap dan bertindak visioner dalam rangka mengatasi masa-masa sulit. Disamping itu, ia dituntut mempunyai kemampuan untuk memilih prioritas sasaran pembangunan, serta memimpin negara agar tetap tegak dan kokoh menuju tercapainya cita-cita dan tujuan nasional. Tindakan cerdas seorang pemimpin nasional sangat diperlukan agar mampu mengantisipasi dan menyikapi perkembangan lingkungan strategis, baik global, regional maupun nasional, sehingga nasib bangsa dan negara tidak terombang ambing dalam ketidakpastian.

Selain memiliki kecerdasan intelektual,seorang pemimpin juga harus memiliki kecerdasan emosional. Kesalahan pemimpin dalam membaca dan menterjemahkan emosi lawan bicara, termasuk emosi rakyat, dapat berakibat fatal dalam proses pengambilan keputusan-keputusan yang strategis. Berbagai fungsi yang melekat pada pribadi seorang pemimpin jelas memerlukan kecerdasan emosional, sehingga mampu mengorganisasikan orang lain serta mampu membuat keputusan besar yang berdimensi nasional, regional dan global secara cepat, tepat dan benar.

Disamping kedua kecerdasan di atas, dan tak kalah pentingnya adalah, seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan spiritual. Bila seorang pemimpin terus mengasah kecerdasan spiritualnya dengan cara keluar sejauh mungkin dari jebakan-jebakan keduniaan, maka Insya Allah si pemimpin itu dapat memiliki ketangguhan guna menghadapi masalah-masalah bangsa yang sudah multi kompleks. Dan agar tidak terjerat ke dalam kepentingan-kepentingan dunia yang seringkali nista, pemimpin perlu mengasah kerohaniannya dengan mengamalkan ajaran-ajaran agama yang dianutnya secara benar.

Bagi seorang muslim misalnya, dengan memperbanyak amalan-amalan sunnat terutama shalat malam (qiyamul lail), selain tidak pemah meninggalkan amalan-amalan yang wajib.

Selain itu, ia tidak pernah lupa bahwa ibadahnya, shalatnya, hidupnya dan matinya harus dipersembahkan hanya kepada Tuhan Seru Sekalian Alam.

Kepemimpinan Nasional Indonesia yang integratif harus memiliki pola pikir, pola sikap dan pola tindak sebagai negarawan. Seorang negarawan tidak perlu harus menduduki jabatan kenegaraan walaupun ia berada pada tatanan kehidupan kemasyarakatan maupun tatanan politik nasional yang harus memiliki sifat dan ciri kenegarawanan yaitu mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi atau kepentingan golongan/kelompoknya. Negarawan diharapkan mampu mengubah kondisi saat ini melalui proses untuk menciptakan kondisi yang diharapkan dalam rangka mencapai tujuan nasional dan mewujudkan cita-cita nasional. Proses perubahan tersebut harus mengacu pada nilai-nilai Pancasila, UUD NRI 1945, wawasan nusantara, dan ketahanan nasional serta mempertimbangkan lingkungan strategis yang berpengaruh.

1) Berfikir sebagai Negarawan

Berfikir sebagai negarawan memiliki ciri “SATRIA”, yaitu mampu menyatukan kesatuan berfikir yang meliputi masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Negarawan harus selalu berfikir agar masa kini lebih baik daripada masa lalu, masa mendatang lebih baik daripada masa kini. Landasan berfikir sebagai negarawan adalah:

1. Pancasila sebagai falsafah, ideologi dan dasar negara

2. UUD NRI 1945 sebagai Konstitusi Negara

3. Karsa Nasional yaitu: a) Cita-cita Nasional: Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur

b) Tujuan Nasional: meliputi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

4. Kepentingan Nasional Utama (Main National Interest)

a) Tetap tegaknya NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. b) Identitas dan integritas nasional. c) Berhasilnya pembangunan nasional.

2) Bersikap sebagai Negarawan

Bersikap sebagai negarawan harus berlandaskan pada nusantara yang merupakan wawasan nasional lndonesia yaitu:

1. Mawas ke dalam Mengutamakan persatuan dan kesatuan dan menjamin kelestarian fungsi lingkungan hidup bangsa.

2. Mawas ke luar, Menjamin kepentingan nasional Indonesia dan ikut serta memelihara ketertiban dan perdamaian dunia yang adil.Seorang negarawan hendaknya dapat bersikap meletakkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadil kelompok daerah, diserta kesadaran bela negara dan patriotisme/jiwa dan semangat juang yang tinggi.

3) Bertindak sebagai Negarawan

Bertindak sebagai negarawan harus berlandaskan atau berpedoman padakonsepsi ketahanan nasional dalam penyelenggaraan kehidupan nasional dan pembangunan nasional juga dinamakan pendekatan ketahanan nasiional yang memiliki asas:

1. Pendekatan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi dan selaras (harmonis);

2. Holistik, komprehensif integral (utuh, menyeluruh, terpadu);

3. Hirarki (saling keterkaitan);

4. Mawas ke dalam dan ke luar;

5. Kekeluargaan dan Kebersamaan.

Penerapan konsepsi ketahanan nasional akan menghasilkan ketahanan nasional yang memiliki sifat-sifat : Dinamis; Wibawa; Konsultasi dan kerjasarna; Mandiri.Selain konsepsi ketahanan nasional, sebagai negarawan juga harus bertindak secara konsisten dengan mengacu pada Pancasila, dan UUD NRI 1945 yang dirumuskan dalam rangka mencapai tujuan nasional dan mewujudkan cita-cita nasional.

b. Sosok dan Karakteristik Seorang Negarawan

Dengan demikian siapa saja yang termasuk dalam kategori pimpinan tingkat nasional (the national leaders) harus memahami dan sanggup untuk menghadapi dan mengatasi kompleksitas permasalahan nasional di atas, dalam hal ini persoalannya tidak akan berhenti pada kesanggupan dan tekad semata-mata. Di sinilah seseorang akan diuji kualitas kepemimpinan (leadership) dan kenegarawannya (statesmanship).

Leadership secara mendasar dan konseptual berbeda dari Statesmanship. Seorang pemimpin harus banyak mempunyai karakter yang luar biasa (the leader is a much more ordinary character). “Leadership” merupakan “a learned skill and competence”, yang dibutuhkan dalam hal ini ada 2 yaitu: (1) Vision, untuk memprediksi apa yang diharapkan oleh organisasi di masa depan dan bagaimana untuk mencapainya secara lebih cepat/efisien. Untuk bisa memprediksi, maka dibutuhkan beberapa teori dan konsep yang merupakan hasil kontemplasi dan memiliki fungsi-fungsi: “To Describe’:’ “To Explain”; and “To Predicf’; dengan demikian untuk kepentingan organisasi dan manajemen yang prima, harus terjadi kombinasi antara teori atas dasar a sound, knowledge; action and skill;dan (2) Sympathy.

Di era yang penuh turbulensi ini, dikatakan bahwa “leadership is very critical” (genting), karena seorang pemimpin harus bekerja secara efektif dalam kompleksitas permasalahan yang lintas sektoral dan global, “Statesmanship” sebaliknya hanya dimiliki oleh manusia perkecualian atau manusia istimewa yang merupakan “agreat man” yaitu seorang yang memiliki karakter khusus, yang lebih dari sekedar seorang pemimpin (leader).

Dengan mengkaji sejarah dan otobiografi pelbagai orang besar di dunia seperti: Adolf Hitler, Winston Churchill, Lee Kuan Yew, Dalai Lama, Albert Einstein, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Joseph Stalin, Jawaharalal Nehru, Soekarno, Mahatir Mohammad, dan lain-lain.

Maka dapat diinventarisasi pelbagai karakteristik seorang negarawan, dengan catatan bahwa orang-orang terkenal tersebut tidak semuanya dapat dikategorikan sebagai seorang negarawan (statesman) dan hal ini semakin penting saat ini, karena di era globalisasi saling ketergantungan antara bangsa-bangsa di dunia semakin besar, sehingga prinsip-prinsip kepemimpinan semakin mengglobal.

Sebaliknya, “Yesus menunjukkan model kepemimpinan yang melayani, memimpin dengan teladan hidup”. Dia berkata, “Aku datang untuk melayani, bukan untuk dilayanan”. Dialah satu-satunya teladan yang sempurna. (Rick Warren, Penulis The Prophet Driven Life, dikenal sebagai salah seorang dari “25 Pemimpin terbaik di AS). Di dalam Kitab Suci versi King James menyebut kata pemimpin sebanyak enam kali sedangkan kata pelayanan disebut sebanyak sembilan ratus kali.

Pada ajaran Buddha masalah kepemimpinan ditampilkan dalam falsafah Dhamma pada uraian Thakada. Di sana diuraikan bahwa kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang memenuhi “Sepuluh Kewajiban Raja” (Dasa Raja Dhamma) yang terdiri dari: Dhana (suka menolong, tidak kikir dan ramah tamah), Sila (bermoralitas tinggi), Paricaga (mengorbankan segala sesuatu demi rakyat), Ajjava (jujur dan bersih), Maddava (ramah tamah dan sopan santun), Tapa (sederhana dalam penghidupan), Akkhoda (bebas dari kebencian dan permusuhan), Avihimsa (tanpa kekerasan), Khanti (sabar, rendah hati, dan pemaaf), Avirodha (tidak menentang dan tidak menghalang-halangi). 7

Pada ajaran Hindu, falsafah kepemimpinan dijelaskan dengan istilah-istilah yang menarik dan memiliki makna yang mendalam, seperti: Panca Stiti Dharmeng Prab3) Indeks Moralitas dan Akuntabilitas Institusional.

Dengan harapan semoga bangsa ini segera mendapatkan calon-calon pemimpin nasional yang tidak saja pemimpin yang kuat (Strong Leader) sebagai perpaduan karakter manager pemimpin (leader) dan negarawan (statesman) dengan standar internasional tetapi juga merupakan personal “good leader” yang berwawasan kebangsaan.

Pendapat diatas senada dengan yang diungkapkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X yang menyatakan bahwa syarat mutlak bagi kepemimpinan nasional yang kuat dan berwibawa, yang mampu mengantarkan bangsa ini menuju pemulihan kehidupan bangsa yang lebih bermutu adalah mengimplementasikan TRILOGI KEPEMIMPINAN yang terdiri dari: ketauladanan, kemauan (political will) dan kompetensi.Dan rasanya penting untuk diingat sesanti dari Sri Sultan Hamengku Buwono X: “Setiap kita sesungguhnya memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin. Kekuatan terdahsyat seorang pemimpin adalah keteladanan dan kejujurannya (siddiq)”

Pada akhirnya, menurut pendapat penulis, perjalanan bangsa Indonesia menuju masyarakat yang adil dan makmur, adalah sebuah perjuangan yang menuntut keseriusan semua pemimpin dan jajarannya untuk bekerja keras menangani berbagai permasalahan bangsa dan tantangan global yang sedemikian rumit. Kondisi Bangsa kita saat ini sedang menghadapi ujian yang sangat dahsyat, bukan karena hanya krisis multidimensional yang belum juga terselesaikan, tetapi menyangkut pula hilangnya ketauladanan, sifat panutan dari para pemimpinnya. Banyak kita saksikan para pemimpin bangsa ini tidak satu hati dengan perkataannya, juga tidak satu kata dengan perbuatannya. Bangsa ini sesungguhnya telah kehilangan tauladan dari sang pemimpinnya. Kapan lahirnya generasi tauladan? Hadist Nabi Muhammad SAW, menyatakan: Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian dari keluargamu” Wawasan ini dikenal dengan wawasan IBDA BINAFSIK yaitu mulailah atau ajaklah dirimu sendiri terlebih dahulu sebelum mengajak orang lain atau didiklah dirimu sendiri sebelum mendidik orang lain, Pimpinlah dirimu sendiri sebelum Memimpin orang lain.

Generasi Tauladan adalah generasi yang tidak hanya memiliki komitmen terhadap moral dan etika serta kompetensi, tetapi juga memiliki karakter. Generasi Tauladan adalah mereka yang mempunyai komitmen keber-IMAN-an dan mempunyai tekad untuk mencerdaskan dirinya.

“Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu” demikianlah janji Allah kepada Generasi Tauladan.

Proses perubahan dapat dilakukan mulai dari tahapan peningkatan kualitas dan peran para pimpinan dalam mengemban tugas pokok dan fungsinya masing-masing secara profesional mewujudkan kondisi kepemerintahan yang baik (Good Governance) menuju pemerintahan yang bersih dan berwibawa (Clean Government). Kondisi kepemerintahan dengan kualitas aparatur yang baik dapat dicapai jika upaya pemberdayaan segenap aparatur pemerintah diimbangi dengan upaya aktualisasi nilai-nilai kepemimpinan, keteladanan, integritas moral dan etika segenap pimpinan baik dari tingkat bawah sampai pada tingkat pimpinan puncak nasional. (selesai). ***

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan

Link Penting

SIM ONLINE

PPDI

  • Profil
  • Peraturan
  • Pedoman & Standar Pelayanan
  • Formulir Permintaan
  • Info Serta Merta
  • Info Setiap Saat
  • Hak dan Tata Cara
  • Pengaduan
Info Penting
  • Penelitian / Praktek Kerja