Thu05252017

Last updateWed, 24 May 2017 2pm

Back You are here: Home Derap Serayu online Gendu_Gendu Rasa "DAKWAH" Oleh Hadi Supeno

"DAKWAH" Oleh Hadi Supeno

Apakah dawah itu? Dakwah adalah mengajak orang ke jalan kebaikan. Islam adalah agama syariat, yang memuat nilai-nilai kebaikan. Maka siapapun yang mengaku Muslim, wajib menyebarkan kebaikan, menyuarakan kebenaran, walaupun hanya punya satu ayat. Karena secara universal kebaikan dan kebenaran itu relatif, maka Islam sejak awal sudah memberikan rambu-rambu, untuk saling mengingatkan dengan cara sabar dan bijaksana.



Nabi Muhammad SAW dengan pengalamannya menyemai dan menyebarkan kebenaran memahami benar betapa beratnya mengajak ke jalan yang benar. Pada sisi sebaliknya, betapa mudahnya mengajak ke jalan yang sesat. Oleh karena itulah, maka mengajak ke jalan kebaikan dan kebenaran harus dilakukan dengan cara yang sabar dan bijaksana.
Contoh spektakuler dan aktual sepanjang masa adalah saat Nabi harus berhadapan dengan orang Qurais di Mekkah yang mengancam jiwa Rasulullah. Ia tidak melawan frontal perang habis-habisan, namun memilih mundur, hijrah ke Madinah, sembari melakukan konsolidasi menyusun strategi baru memekarkan dinnullah. Hikmahnya, dua kelompok besar, kaum Muhajirin dan Anshor bisa bersatu bergotong royong merealisasikan ajaran Nabi.
Sekian abad kemudian, para wali di Jawa juga menyebarkan agama Islam dengan pendekatan budaya. Para wali menyadari betapa nilai-nilai lama yang ditinggalkan oleh kekuasaan Hindu telah mendarah daging dalam masyarakat Jawa. Para wali tidak memilih perang sebagai strategi dakwahnya, melainkan dengan pendekatan budaya lokal. Lahirlah tembang-tembang dolanan, tembang macapat, gamelan, wayang, dongeng, dan aneka elemen budaya lannya. Nilai-nilai substansi Islam, seperti ketauhidan, kemanusiaan, dan fikh tetap bisa ditegakkan, namun kearifan lokal tetap dipertahankan.
Dengan pendekatan budaya, wajah Islam yang sesungguhnya menjadi tampak. Yakni  Islam sebagai agama humanis, agama damai, agama yang bersahabat, agama yang berbudaya, dan agama yang bisa menerima kemajuan ilmu dan teknologi. Pada akhirnya, Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Sangat disayangkan, seiring perjalanan waktu konsep dakwah mengalami distorsi yang cukup serius. Dengan membawa bendera atas nama Tuhan, bahasa kasar, sikap melecehkan adat dan tradiisi, bermain dengan warna kekerasan, diambil oleh mereka yang mengaku sedang berdakwah. Mereka menebarkan nilai kebenaran dan kebaikan menurut versinya, yang jangankan berstandarkan nilai-nilai internasional universal,  sedangkan memenuhi standard internal dalam agamanya pun tidak.
Yang tergambar kemudian adalah Islam sebagai agama pedang dan penthungan. Semangatnya bukan mengajak kepada kebaikan, namun bagaimana memerangi mereka yang tidak sepaham.  Kelompok ini ingin ada, dengan meniadaka orang lain. Padahal dengan konsepnya lakum dinukum waliyaddin sesungguhnya pengakuan tentang pluralism sudah sangat jelas di dalam Islam. Rupanya sunnah Rassul, riwayat para sahabat,  tabiit dan tabiin, serta gerakan dakwah para wali belum cukup bagi para penganut sok dakwah di berbagai belahan dunia.
Di Afrika Utara muncul gerombolan teror Bokoharram yang menculik dan membunuh kaum remaja perempuan. Di Di Timur Tengah lahir Al-Qaeda yang sukses meruntuhkan menara kembar World Trade Centre di Amerika. Di Afganistan muncul Taliban yang menghancurkan semua situs berbudaya, dan belakangan kita disentakkan oleh munculnya ISIS (Islam State for Iraq and Suriah). Sementara di Indonesia muncul gerakan radikal Front Pembela Islam (FPI) yang sangat dikenal masyarakat sebagai organisasi sarwa kekerasan. Itu tak terbantahkan.
Dua musuh dakwah
Musuh dakwah bukanlah kaum sendiri, apaun alirannya,  atau agama lain. Musuh dakwah sesungguhnya ada dua. Pertama, kaum atheis, yakni golongan yang tidak percaya adanya Tuhan, apalagi agama. Atheism tidak memiliki nilai-nilai moral religiusitas, yang ada hanya nilai-nilai logika dan kemanusiaan. Logika ansih mendatangkan kesombongan. Humanisme berlebihan menghilangkan nilai-nilai kolektivitas dan kebersamaan, karena puncak humanism adalah pemujaan individualism. Turunan atheism adalah materialime dan hedonisme. Mereka memuja kenikmatan duniawi dan menjadi satu-satunya motif kehidupannya. Atheisme merumuskan sendiri tentang kebenaran.
Mereka hanya berkutat pada benar dan salah berdasarkan logika, tidak ada konsepsi baik dan buruk. Itulah maka sampai kapanpun logika berfikir kaum atheis tidak akan nyambung dengan para penganut agama. Sampai kapan pun. Oleh karena itu sangat keliru bila dalam dakwah berisi menjelekkan agama lain, karena hal itu kontra produktif. Kita hidup di Negara berdasarkan Pancasila, yang mengakui kesetaraan hak dalam berkeyakinan. Saling serang antaragama hanya akan menimbulkan konflik yang merugikan semua pihak. Luka perang Ambon memberikan pengalaman, begitu banyak korban dalam keluarga saudara kita sendiri, dan begitu lamanya untuk menyembuhkannya.
Musuh kedua adalah kaum ekstremis. Yakni kaum yang menafsirkan kebenaran dan kebaikan hanya berdasarkan subyektifitas dirinya, tidak pernah menghargai subyektifitas orang lain. Kaum ekstremis, di agama manapun, menganggap pendapat subyektif manusia menjadi suyektifitas kebenaran Tuhan. Tafsir organisasi diklaim sebagai tafsir Tuhan. Oleh karenanya siapapun yang menentang dirinya dan kelompoknya, dianggap menentang Tuhan.
Lebih parah lagi, kaum ekstremis menjadi penganut Machiavelli, yakni menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara kekerasan. Maka atas nama Tuhan, atas nama agama, mereka lakukan teror, kekerasan, ancaman, pembunuhan, dan sebagainya. Untuk mempertahankan monopoli kebenaran, maka kebenaran yang lain diberangus. Termasuk warisan-warisan sejarah juga harus ditiadakan karena akan membelenggu cara berfikir generasi masa kini. Persis seperti Polpot saat berkuasa di Kamboja, rakyat yang mendukungnya dibantai, tanaman, binatang, dan benda-benda yang menurutnya tidak mendukung pendapatnya diberangus, setidaknya diganti nama.

Nir kekerasan
Bagaimana cara kita menolak aliran kekerasan ini? Tidak bisa kekerasan dilawan dengan kekerasan, sebab ia akan menjadi spiral kekerasan yang tak bisa dihentikan. Menghadapi fenomena ekstremitas, kita harus menyiapkan mental dengan strategi dakwah yang tetap mengedepankan  kesalehan pribadi dan sosial. Mantan Ketua PB NU Hasyim Muzadi benar, ketika menyampaikan pandangannya bahwa perlakukan keras pada kaum ekstremis tidak akan menghentikan gerakan mereka. Yang harus dilakukan adalah membekali kemampuan dakwah para da’I, para kiai, para santri, untuk tidak mudah terbujuk oleh rayuan dan pandangan ekstremis. Semakin dewasa suatu masyarakat, akan lebih memilih jalan damai dan harmoni khidupan bersama.
Bukti menunjukkan, demostrasi FPI yang menolak Ahok di Jakarta, tidak memperoleh respon positif dari masyarakat luas. Mungkin banyak yang sesungguhnya tidak setuju dengan cara-cara kepemimpinan Ahok. Namun masyarakat jauh lebih tidak setuju dengan cara-cara keras dan kasar seperti ditunjukkan kaum ekstremis.
Ini pelajaran berarti bagi banyak pihak. Bahwa jalan dakwah yang lemah lembut sebagaimana dicontohkan Rosulullah, diikuti oleh para wali, dan tahun 1980-an sangat popular dengan gaya Pak AR Fachruddin, akan sangat diterima masyarakat. Dakwah dengan cara kekerasan bukanlah dakwah, namun justeru sebuah langkah penghancuran nama baik Islam.
Marilah kita semua menjadi pendakwah yang lembut. Agar dunia damai menjadi kenyataan.*** 

Penulis adalah Wakil Bupati Banjarnegara

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan

Link Penting

SIM ONLINE

PPDI

  • Profil
  • Peraturan
  • Pedoman & Standar Pelayanan
  • Formulir Permintaan
  • Info Serta Merta
  • Info Setiap Saat
  • Hak dan Tata Cara
  • Pengaduan
Info Penting
  • Penelitian / Praktek Kerja