Thu05252017

Last updateWed, 24 May 2017 2pm

Back You are here: Home Derap Serayu online Info-Logi Amar Ma’ruf Nahi Munkar Tugas & Kewajiban Setiap Muslim

Amar Ma’ruf Nahi Munkar Tugas & Kewajiban Setiap Muslim

Jika kita perhatikan dan kita melihat secara sepintas saja, apa yang terjadi saat ini di tengah masyarakat Muslimin, maka kita akan mendapatkan fenomena yang seharusnya menjadikan kita semua prihatin akan umat ini. Ini mesti kita lakukan, agar kita mawas diri dan berusaha menjadikan diri kita tidak termasuk golongan mereka yang telah melampaui batas.

 

sekian banyak bentuk kesyirikan, kezhaliman, kejahatan, kemaksiatan yang dengan begitu mudah kita temukan di sekitar kita. Contohnya praktek syirik sudah menjadi suatu yang biasa dilakukan orang. Bahkan dukun, para normal, tukang ramal, ahli zodiak, dan orang-orang semacam mereka, yang jelas-jelas melakukan praktek kesyirikan, dianggap sebagai tokoh panutan dan memiliki tempat terhormat di tengah masyarakat. Contoh lain di antara kaum Muslimin sudah tidak bisa lagi menghargai nyawa seseorang, tidak bisa menghargai harta orang lain, dan bahkan tidak bisa menghargai kehormatan manusia. Padahal itu semua telah dilindungi oleh Islam, dan tidak boleh diganggu. Semua itu terjadi karena mereka telah meninggalkan Agama yang hanif ini, menuruti hawa nafsu, terpedaya dan tertipu oleh bujuk rayu setan serta gemerlapnya kehidupan dunia.

Di sisi lain di antara kaum Muslimin tidak lagi memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap saudaranya sesama Muslim, tidak peduli dengan kejadian dan kondisi yang ada, sehingga segala bentuk kemungkaran semakin hari tumbuh subur, dan sebaliknya segala bentuk kebaikan mulai terkikis dan asing dihadapan manusia. Orang-orang yang ingin selalu konsisten dan istiqamah menjalankan Agama dengan benar menjadi asing di tengah masyarakatnya. Sikap keIslaman yang baik terkesan batil dan begitu juga sebaliknya. Yang sunnah dan sesuai dengan contoh Rasulullah dianggap sebagai sikap beragama yang ekstrim, dan sebaliknya yang bid’ah dianggap sebagai jalan kebenaran sejati.

Semua itu adalah karena yang menjadi tolak ukur beragama adalah perasaan dan keridhaan manusia, bukan keridhaan Allah. Padahal Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam telah memperingatkan kita semua dari sikap timpang semacam ini dalam sabda beliau,

“Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan (mengacuhkan) kebencian manusia maka Allah mencukupkannya dari beban manusia, dan barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan (mengesampingkan) kemurkaan Allah maka Allah akan menguasakan manusia atas dirinya.” (HR. at-Tirmidzi).

“Hal itu (perbuatan mereka yang diam terhadap kemungkaran) menunjukkan sikap meremehkan perintah Allah, dan bahwasanya berbuat maksiat kepadaNya adalah suatu yang ringan bagi mereka. Seandainya mereka memiliki rasa pengagungan kepada Rabb mereka, niscaya mereka tidak akan menabrak apa-apa yang diharamkan Allah, dan niscaya mereka akan marah terhadap apa yang dimurkai Allah. Dan sesungguhnya diam terhadap kemungkaran -padahal mampu untuk merubahnya- adalah sikap yang mendatangkan hukuman; karena mendiamkan kemungkaran akan menimbulkan kerusakan-kerusakan yang besar:

Pertama, Itu menunjukkan sikap meremehkan dan menganggap enteng kemaksiatan.

Kedua, Itu akan menumbuhkan keberanian bagi orang-orang yang gemar melakukan maksiat dan orang-orang fasik untuk semakin berani melakukan maksiat, bahkan secara terang-terangan.

Ketiga, Apabila kemungkaran dibiarkan, maka ilmu Agama akan semakin redup di tengah masyarakat dan kejahilan justru akan semakin merajalela, karena apabila kemaksiatan demi kemaksiatan begitu saja dilakukan orang, dan dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha untuk merubahnya, maka masyarakat yang memang minim dengan ilmu agama akan menganggap itu semua sebagai suatu yang bukan maksiat.

4.    Di antaranya : Mendiamkan maksiat boleh jadi akan menyebabkan kemaksiatan menjadi suatu yang bagus dalam pandangan masyarakat luas, sehingga sebagian masyarakat akan meniru perbuatan pelaku maksiat karena menganggapnya sebagai sesuatu yang bagus.” (Dikutip dari Tafsir as-Sa’di secara ringkas dan adaptasi, Ali Imran: 78-79).

Karena itu, Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah kewajiban setiap Muslim yang paling utama, yang akan menjadi jalan keselamatan dan menghindarkan dari murka Allah, di dunia maupun di akhirat. Amar Ma’ruf Nahi Munkar harus tegak, dalam segala sekala sosial; individu, keluarga, masyarakat, nasional bahkan interna-sional. Kita harus senantiasa ingat bahwa Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah perintah Allah Subhanahu Wata’ala, yang mana Allah menjanjikan keberuntungan bagi kita bila ditegakkan. Firman Allah SWT:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran: 104).

Lebih dari itu, amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu di antara sifat-sifat esensi seorang Mukmin sejati, dan karenanya Allah menjanjikan rahmat bagi mereka.

Kita memohon kepada Allah agar diberi kekuatan bashirah, kekuatan hati, kekuatan ilmu, kekutan lisan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, yang ma’ruf dan yang mungkar, kemudian kita bersama-sama menegakkan yang ma’ruf dan memberantas segala bentuk kemungkaran dan kebatilan. Dengan harapan semoga Allah menggolongkan kita sebagai Mukmin sejati, melimpahkan rahmat bagi kita, dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang beruntung, amin yrb. (Kh. Suhedi)

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan

Link Penting

SIM ONLINE

PPDI

  • Profil
  • Peraturan
  • Pedoman & Standar Pelayanan
  • Formulir Permintaan
  • Info Serta Merta
  • Info Setiap Saat
  • Hak dan Tata Cara
  • Pengaduan
Info Penting
  • Penelitian / Praktek Kerja