Thu11232017

Last updateTue, 21 Nov 2017 12pm

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Derap Serayu online Pendidikan Membangun Banjarnegara Lewat Sinema

Membangun Banjarnegara Lewat Sinema

Film merupakan media yang muncul pada abad 20 dan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam peradaban manusia.  Pada Perang Dunia 2 misalnya, Adolf Hitler dan Partai Nazi Jerman menggunakan film sebagai alat propaganda dalam menyemangati dan melegitimasi bangsa Arya dalam menganeksasi negara-negara tetangganya di Eropa. Pun demikian pula dengan Jepang, mereka turut menjadikan film sebagai alat propaganda untuk meraih dukungan bangsa Indonesia dalam Perang Asia Timur Raya melawan Sekutu.

 

Dalam perkembangannya Amerika sebagai pemenang Perang Dunia 2 juga menggunakan media film untuk menguatkan dominasinya sebagai negara adi kuasa, baik untuk mengesankan bahwa dirinya kuat tak terkalahkan, maupun untuk menutupi segala kekurangannya. Lewat film Rambo misalnya, Amerika ingin menutupi kekalahan mereka melawan komunis Vietkong di Vietnam. Juga melalui film-film tokoh-tokoh manusia super khayalan dari mulai Superman, Captain America, maiupun Iron Man, sesungguhnya sedang dijadikan alat untuk mengkooptasi pemikiran warga negara lain untuk menjadi inferior terhadap Amerika.

Pun demikian, tidak selalu film dikonotasikan untuk keperluan negatif. Beberapa film juga memiliki pengaruh yang sangat positif. Rhoma Irama misalnya, nada dan dakwahnya semakin kuat manakala ia juga bermain film sehingga amanat bahwa kebenaran selalu menang, meskipun di akhir episode, tetap dapat dihidupkan.

Contoh lain bahwa film berimbas positif adalah setting film yang mampu menarik penontonnya untuk berwisata. Kita dapat menengok dari kesusksesan film Laskar Pelangi yang mampu menjadikan Belitong sebagai settingnya kini menjadi destinasi wisata yang sangat pesat. Pun demikian pula dengan film-film bersetting Papua seperti Denias, mampu membuat penasaran penontonnya sehingga berbondong plesiran ke Papua. Atau dipilihnya Bali sebagai salah satu setting film yang dibintangi Julia Robert dalam Eat Pray Love juga semakin menegaskan Bali sebagai tujuan wisata dunia yang sangat menarik.

Karena kekuatan film itulah yang kemudian mengilhami Yayasan Sahabat Muda Indonesia untuk menggelar Festival Film Serayu Banjarnegara 2015. Kegiatan ini bahkan disambut dengan sangat baik oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan fasilitasi penuh. Dengan festival tersebut, kita ingin geliat perfilman di Banjarnegara paling tidak sebanding dengan kabupaten tetangga Purbalingga, yang telah eksis tujuh tahun terakhir. Kita ingin, para filmaker (baca: pembuat film) di Banjarnegara turut membangun Banjarnegara melalui sinema.

Tentu tidak semudah membalik telapak tangan, dan jangan pula memiliki ekspektasi terlalu tinggi untuk membangun Banjarnegara melalui sinema. Para filmaker paling tidak dapat mengambil peran dalam hal memperkenalkan kekayaan budaya, tradisi, wisata, kuliner, dan segala macam hal yang dapat dijual kepada khalayak melalui karya-karya film yang dihasilkan. Di era multimedia semacam ini, tentu marketing merupakan salah satu kunci untuk keberhasilan berbisnis apapun.

Dengan materi festival yang lebih pada pengayaan materi bagi filmaker dalam membuat film dokumenter, harapannya akan tercipta banyak karya film bersetting Banjarnegara dalam tahun-tahun mendatang. Bibit-bibit filmaker yang kebanyakan merupakan pelajar dan mahasiswa, harapannya memiliki energi yang cukup kuat untuk membangun Banjarnegara melalui sinema.

Penulis adalah Ketua Umum Yayasan Sahabat Muda Indonesia, Penggagas Festival Film Serayu Banjarnegara 2015

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan