Sun03262017

Last updateThu, 23 Mar 2017 1pm

Back You are here: Home Derap Serayu online Tajuk

Tajuk

Perempuan adalah Agen Perubahan

RUANG WANITA
Perempuan adalah Agen Perubahan

Perempuan dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara mampu menjadi motor penggerak dan motor perubahan (agent of change). Pernyataan ini disampaikan oleh Drs. Hadi Supeno, M.Si, Wakil Bupati Banjarnegara pada Resepsi Peringatan Hari Ibu Ke-86, Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) Ke-66 dan Hari Nusantara Ke-4 Tahun 2014 Tingkat Kabupaten Banjarnegara di Ruang Aula Sasana Abdi Praja Setda Kabupaten Banjarnegara, Senin (22/12).
Menurut Drs. Hadi Supeno, M.Si, dengan adanya peringatan hari ibu terbukti adanya perhatian, pengakuan akan pentingnya eksistensi perempuan dalam berbagai sektor kehidupan. Hal ini membuktikan bahwa perempuan apabila diberi peluang dan kesempatan mampu meningkatkan kualitas hidupnya secara mandiri.
“Hari Ibu Indonesia lahir dari pergerakan bangsa Indonesia. Dalam pergerakan kebangsaan kemerdekaan, peran perempuan Indonesia sungguh mengesankan” katanya.
Wabup Hadi Supeno berharap Peringatan Hari Ibu Ke-86 Tahun 2014 ini dapat mendorong terciptanya kesetaraan perempuan dan laki-laki pada setiap aspek kehidupan baik di dalam keluarga, masyarakat, maupun bangsa dan negara untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
“Marilah Kita optimalkan perjuangan kaum Ibu, agar Ibu Indonesia sesunggunya Ibu yang memberi, ibu yang melindungi, ibu yang selalu memaknai kehidupan ini, Pada hari yang berbahagia ini tidak ada kata-kata lain kecuali rasa hormat kepada kaum Ibu Indonesia, Semoga Ibu-ibu Indonesia terus melahirkan putra-putra terbaiknya” katanya.
Berkaitan dengan peringatan Hari Nusantara Ke-4 Tahun 2014, Wabup mengingatkan bahwa Dua per tiga dari wilayah kita itu adalah laut, Menurutnya Peringatan Hari Nusantara bertujuan untuk mengingatkan kembali serta mengubah mindset bangsa Indonesia mengenai ruang hidup dan ruang juang dari matra darat menjadi matra laut, artinya matra darat dan matra laut harus berimbang. “Dari Banjarnegara, walaupun kita jauh dari laut, karena kita Bangsa Maritim, mari kita kenali laut kita, jangan ada anak-anak Indoesia yang tidak kenal laut, berenang tidak bisa, melihat lautpun tidak bisa, kalaupun tidak bisa melihat laut, setidaknya melihat sungai, karena sungai itu bermuara di laut, maka kalau  yang di pantai ajakannya merawat pantai karena kita di dekat sungai, mari kita rawat sungai kita” katanya.
Kemudian kaitannya dengan peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) Ke-66 tahun 2014, Drs. Hadi Supeno, M.Si mengajak untuk membangkitkan rasa kesetiakawanan sosial. Menurutnya saat ini masih banyak Warga Banjarnegara yang membutuhkan bantuan dari kita semua, terlebih dengan kejadian Bencana Tanah Longsor Dusun Sijemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar.  “Mari kita jadikan peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) Ke-66 tahun 2014 sebagai motivasi untuk memberi kepada yang kurang” katanya.
Sementara itu Ketua Gabungan Organisai Wanita (GOW) Kabupaten Banjarnegara, Ny. Hj. Sundari Fahrudin Slamet Susiadi mengatakan tujuan peringatan Hari Ibu Ke-86, Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) Ke-66 dan Hari Nusantara Ke-4 Tahun 2014 Tingkat Kabupaten Banjarnegara yakni menjadi langkah awal penyelenggaraan gerakan bulan bakti kesetiakawanan sosial secara terkoordinasi, sinergis, terencana, terarah dan berkelanjutan. Selain itu untuk mewujudkan Dharma Kehidupan dan penghidupan masyarakat yang dilandasi oleh kesetiakawanan sosial.
“Maksud dan tujuan kegiatan ini yakni untuk menciptakan kondisi sosial yang menjamin kesetiakawan sosial, mampu menjadi pilar dasar mewujudkan Indonesia sejahtera. Kemudian mewariskan nilai-nilai luhur dan semangat perjuangan kaum perempuan kepada seluruh masyarakat, terutama generasi muda” katanya.
Ny. Hj. Sundari Fahrudin menambahkan, dalam rangka memperingati Hari Ibu Ke-86, Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) Ke-66 dan Hari Nusantara Ke-4 Tahun 2014 Tingkat Kabupaten Banjarnegara, GOW Kabupaten Banjarnegara telah menyelenggarakan berbagai rangkaian kegiatan, diantaranya menyantuni 25 warga kurang mampu di lingkungan Kota Banjarnegara dalam bentuk uang, kemudian menyantuni anak yatim piatu di Panti Asuhan Al-Munawwaroh Kabupaten Banjarnegara, adapun bentuk santunan berupa 25 paket sembako yang berisi beras, minyak dan gula.
“GOW Kabupaten Banjarnegara bekerja sama dengan TP PKK dan Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Banjarnegara juga telah melaksanakan bakti sosial ke Korban Tanah Longsor Dukuh Jemblung, Desa Sampang Kecamatan Karangkobar, adapun bantuan berupa uang sejumlah Rp 8.650.000, -, pakaian pantas pakai dan mukena sebanyak 32 buah serta bantuan lainnya yang tidak mengikat” katanya. ***** (Sudin)

150 KK Miskin Terima Bantuan Dana Bedah Rumah

 150 rumah di lima Desa di Kecamatan Susukan menerima bantuan bedah rumah. Kelima desa penerima bantuan bedah rumah tersebut adalah Desa Gumelem Wetan, Gumelem Kulon, Kemaranggon, Berta dan Dermasari.

Read more: 150 KK Miskin Terima Bantuan Dana Bedah Rumah

Tahun 2015, Semua SKPD Harus Hemat Energi

 

 

 

Pada tahun 2015, semua Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) harus melaporkan penggunaan energy dan air secara rutin. Langkah ini diambil sebagai upaya serius Pemerintah dalam upaya memecahkan masalah krisis energy. Demikian instruksi Bupati dalam sambutan kegiatan Sosialisasi Hemat Energi yang disampaikan oleh Assisten Ekonomi Pembangunan dan Kesra Sekda Dra. Sri Trisnainingsih, M. Si, akhir Oktober lalu di Sasana Karya Praja Lantai 2 Setda.

Read more: Tahun 2015, Semua SKPD Harus Hemat Energi

T A J U K

T A J U K
2014, Waktunya Bertindak dari Awal
Bukan Awal untuk Meramal
Syahdan, Bulan Januari berasal dari kata Janus, sang dewa bermuka dua – satu menghadap ke depan – satu sebaliknya - dalam mitologi Yunani. Dengan nama itu, bulan Januari disimbolkan sebagai awal. Sebuah babakan baru untuk melihat ke depan dengan pertimbangan tatapan masa lalu, dalam spektrum kekinian, bukan berarti meramal, tapi tanpa meniadakan masa yang telah lewat. Demikianlah, Januari bisa dikatakan awalan dari sebuah akhiran. Dan akhiran adalah sebuah awalan baru, kata Aristoteles.

Read more: T A J U K

PERNIK Seribu Satu Kemungkinan Mampir Oleh : Rahmat Petuguran

Ara Suhara tak menyangka akan mendapat buruan besar: pimpinan DI/TII S.M. Kartosowrjo. Prajurit pada Batalion Infanteri 328/Kujang Siliwangi itu hanya berniat mampir di sebuah gubuk di Gunung Rakutak saat itu. Ia berencana meminta air minum.
    Aneh, dalam gubuk itu ia menemukan dodol garut, jeruk garut, dan susu. Pada masa itu ketiagnya adalah makanan mewah. Melihat keanehan itu, Ara berspekulasi menanyai sang penghuni gubuk. “Pak Karto, ya?” Lelaki tua itu mengangguk, “Iya, Nak.”

Read more: PERNIK Seribu Satu Kemungkinan Mampir Oleh : Rahmat Petuguran

SOSOK SUMITRO KOLOPAKING, MERAJUT KETOKOHAN LOKAL

Semasa Pemerintahan Bupati Soemitro Kolopaking antara tahun 1927-1947, Kabupaten Banjarnegara memiliki sekitar 264 desa. Setiap 4-5 desa disatukan secara psikologis oleh seorang pinisepuh (untuk wilayah Karesidenan banyumas dinamakan Penatus, untuk wilayah Kedua dinamakan Glondong). Di Banjarnegara waktu itu terdapat sekitar 50 penatus.
Bupati tiga zaman ini dikenal mampu membina hubungan baik dan erat dengan desa-desa serta menciptakan persaudaraan yang sedalam-dalamnya. Ia ternyata memberdayakan ketokohan lokal untuk menciptakan sistem hubungan kemasyarakatan yang efisien dan produktif bagi pemerintahan dan pembangunan. Bagaimana ia merajut ketokohan lokal di Banjarnegara?

Read more: SOSOK SUMITRO KOLOPAKING, MERAJUT KETOKOHAN LOKAL

PERTAMBANGAN Banjarnegara Terus Buka Peluang Bagi Investor Bidang Tambang

Memasuki usia ke-182, Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, SH. M.Hum mengatakan, Banjarnegara makin terbuka bagi investor yang ingin menamakan modalnya. “Sektor pertanian memang penting dan sangat identik dengan Banjarnegara, namun sektor lain seperti pertambangan tak bisa dikesampingkan. Potensi yang satu ini tidak boleh luput dari perhatian kita, apalagi Banjarnegara kaya akan bahan tambang. Sektor pertambangan (khususnya Galian C) yang beragam juga bisa menjadi modal Banjarnegara lebih maju lagi kedepan,” ungkapnya.Memasuki usia ke-182, Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, SH. M.Hum mengatakan, Banjarnegara makin terbuka bagi investor yang ingin menamakan modalnya. “Sektor pertanian memang penting dan sangat identik dengan Banjarnegara, namun sektor lain seperti pertambangan tak bisa dikesampingkan. Potensi yang satu ini tidak boleh luput dari perhatian kita, apalagi Banjarnegara kaya akan bahan tambang. Sektor pertambangan (khususnya Galian C) yang beragam juga bisa menjadi modal Banjarnegara lebih maju lagi kedepan,” ungkapnya.Memasuki usia ke-182, Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, SH. M.Hum mengatakan, Banjarnegara makin terbuka bagi investor yang ingin menamakan modalnya. “Sektor pertanian memang penting dan sangat identik dengan Banjarnegara, namun sektor lain seperti pertambangan tak bisa dikesampingkan. Potensi yang satu ini tidak boleh luput dari perhatian kita, apalagi Banjarnegara kaya akan bahan tambang. Sektor pertambangan (khususnya Galian C) yang beragam juga bisa menjadi modal Banjarnegara lebih maju lagi kedepan,” ungLebih lanjut ia mengatakan, selain sektor pertanian, pembangunan daerah juga diarahkan pada pengembangan potensi lain, seperti industri, perdagangan, pertambangan, dan pariwisata. Namun demikian, arah kebijakan tahun pertama lebih dititikberatkan untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan yang bersih, kualitas pendidikan dan kesehatan penduduk, serta masalah penanganan kesejahteraan sosial. Di samping itu, pembangunan tahap pertama difokuskan pada peningkatan ketahanan pangan dan ekonomi rakyat berbasis pertanian, UKM, pariwisata, dan infrastruktur jalan serta jembatan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi terutama di pedesaan.
    Walaupun telah ditetapkan arah pembangunan tahap pertama, namun untuk mempercepat pembangunan di Banjarnegara, Bupati melakukan berbagai terobosan, diantaranya mengaktualisasi potensi pertambangan yang ada. Bahkan dalam rangka meningkatkan iklim investasi yang sejuk di Banjarnegara, Bupati menyatakan akan memberikan kemudahan kepada investor yang datang ke Banjarnegara, khususnya untuk bidang pertambangan dan industri, tanpa mengesampaikan bidang lain.
    “Banjarnegara memiliki tambang marmer, feldspar, trass, batu lempeng, batu granit, dan masih banyak yang lain. Potensi panas bumi di DT. Dieng, Wanayasa, Pejawaran, dan Kalibening kiranya layak untuk diolah lebih guna menambah daya listrik yang sudah ada. Banyaknya terjunan air sungai juga berpotensi menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Banjarnegara kini makin pro investasi, sehingga kami berkomitmen memberikan kemudahan bagi para investor. Jadi berbondong-bondonglah untuk berinvestasi di Banjarnegara,” ajaknya.
    Sedikitnya terdapat 16 jenis bahan tambang yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara, mulai dari Pegunungan Selatan, Tengah, dan Gugus Pegunungan Utara. Potensi sumber daya alam (tambang) itu terdiri dari 5 kelompok, yakni tambang mineral logam, bukan logam, bebatuan, panas bumi, dan gas alam.
    Menurut Doni Sutrisno, Kepala Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Banjarnegara, tambang mineral logam terdiri dari bijih besi, gelana, dan tembaga. Sedangkan tambang mineral   logam diantaranya asbes, feldspar, pasir kuarsa, trass, oker, zeolit, dan lain-lain. Doni menambahkan, “Untuk potensi tambang bebatuan sendiri diantaranya gamping, batu tulis/ slate, granit, marmer, andesit, sirtu, batu lempeng, breksi, dan konglomerat,” ujarnya.
    Lebih lanjut Doni menjelaskan, mutu feldspar di Kabupaten Banjarnegara mempunyai kandungan albit, kuarsa, mikrolin, dan sanadin, sangat baik digunakan untuk pembuatan keramik dan mika. Sedangkan trass merupakan endapan sekunder dari pelapukan andesit tua. Jenis tambang ini bisa digunakan untuk mencampuri atau melengkapi bahan baku tambang lain untuk industri strategis, misalnya pembuatan semen. “Jumlah cadangan trass di Kabupaten Banjarnegara cukup besar, dengan perkiraan volume sebesar 14,09 juta m³, “ ungkapnya.
    Sementara itu, jenis tambang bebatuan lain yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi namun pengolahannya sangat sederhana adalah marmer. Marmer merupakan bahan galian dari batu gamping/kapur (CoCo3) yang mengalami proses ubah karena tahunan dan temperatur yang sangat tinggi. Mutu marmer di Kabupaten Banjarnegara cukup baik, jumlah cadangnnya pun cukup banyak, sekitar 18,68 m³ dan volumenya 44.720.000 ton. Di Banjarnegara juga terdapat beberapa jenis/warna batu marmer yang tidak dimiliki daerah lain, seperti marmer berwarna merah, hijau, abu-abu, dan hitam. Marmer yang umum serta persediaannya paling besar adalah marmer yang berwarna putih.
    Selain itu, bahan galian lain yang nilai ekonomisnya tidak kalah dengan marmer adalah batu lempeng. Batu lempeng ini sangat potensial untuk dikembangkan dan dapat digunakan untuk ornament dinding dan trotoar. Sayangnya selama ini pengelolaannya masih belum optimal dan pemasarannya baru ke daerah-daerah di Jawa Barat.
    Aset tambang yang lain adalah granit. Berbeda dengan marmer dan batu lempeng yang pengolahannya cukup sederhana, granit adalah bahan galian yang memerlukan teknologi dan penelitian berlanjut dalam pengolahannya agar hasil yang diperoleh mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi. Karenanya batu granit ini kelasnya lebih tinggi dan banyak digunakan untuk lantai dan dinding gedung-gedung mewah. Banjarnegara memiliki cadangan terka batu granit sebanyak 42,54 juta m³.
    Wilayah Kabupaten Banjarnegara juga memiliki potensi pengembangan panas bumi di Dataran Tinggi Dieng. Energi potensi panas bumi ini potensial untuk menghasilkan tenaga listrik tidak kurang dari 600 MW dan 100 MW di Wanayasa. Energi sebesar ini baru dikembangkan sebesar 60 MW oleh PT. Geo Dipa Energi (GDE). Jadi kesempatan untuk berinvestasi dalam bidang ini masih terbuka luas.
    Potensi gas rawa di Banjarnegara juga cukup besar. Di Desa Pegundungan, Kecamatan Pejawaran, berdasarkan penelitian dari UPN Veteran Yogyakarta tahun 2009, diketahui potensinya mencapai 14,7 juta m³. Potensi gas rawa ini juga tersebar di beberapa lokasi lain, diantaranya Dusun Pancasan dan Kubang, Desa Sidengok, Kecamatan Pejawaran dan Desa Majasari, Kecamatan Pagentan. Namun demikian, melihat potensi alam yang ada di wilayah Kabupaten Banjarnegara, masih dimungkinkan terdapat titik lain yang berpotensi gas alam (rawa) yang belum tereksploitasi atau dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pemerintah.
     Dijelaskan Doni, gambaran singkat sektor pertambangan yang sudah termanfaatkan baru feldspar, sirtu, granit, andesit, marmer, dan batu lempeng. Sementara untuk potensi tambang mineral logam belum dimanfaatkan optimal karena terganjal belum adanya pengesahan wilayah pertambangan mineral logam dari Pemerintah Pusat.
    Volume bahan tambang yang ada di wilayah Kabupaten Banjarnegara diantaranya telah dipetakan oleh CV. Prima Karya yang terdiri dari pemetaan mineral logam dan mineral non logam. Hasil pemetaan berupa emas di Desa Pagedongan Bukit Sigelap dan Pasar Setan dengan volume 74,81 kg. Sedangkan hasil pemetaan mineral non logam di Kecamatan Pagedongan, Bawang, Mandiraja, Purwonegoro, dan Sigaluh berupa andesit dengan volume  3.378.019 ton, marmer 3.341,25 ton dan feldspar 399.096 ton.
    Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang sudah dikeluarkan menyebutkan bahwa IUP Eksplorasi PT ATR (Pemetaan Feldspar) di Kecamatan Bawang, kapasitasnya terukur 5.575.128 ton. IUP eksplorasi PT BMR  (Pemetaan Feldspar) di Kecamatan Bawang volumenya terukur 1.408.505 ton, dan CV Catur Eka Karsa (Pemetaan Emas) di Desa Purwasana, Kecamatan Punggelan, sebesar 9.180 kg dan Desa Bantar, Kecamatan Wanayasa 505.938 kg. Perzinan ini mengacu pada UU No.4 Tahun 2004 tentang mineral dan batu bara, PP.23/2010 tentang pengusahaan pertambangan mineral dan batu bara, serta Perda No.11/2010 tentang Pertambangan Mineral di Kabupaten Banjarnegara.
    Selanjutnya, kekayaan alam Banjarnegara lainnya yang masih terbuka untuk dikembangkan adalah terjunan air sungai yang potensial untuk dikembangkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Berdasarkan survei yang dilakukan sendiri oleh Pemkab. Banjarnegara tercatat ada 30 titik/lokasi dengan kapasitas 100 KW hingga 5 MW dan diperkirakan bisa menghasilkan listrik mencapai 50 MW.
     Dijelaskan Doni, sampai Juni 2013, Pemkab. Banjarnegara telah mengeluarkan Izin Prinsip untuk 30 Lokasi PLTMH dengan progress yang sudah memberikan kontribusi ke daerah terdiri dari 4 titik PLTMH, yaitu PLTMH Siteki, PLTMH Plumbungan, PLTMH Tapen, dan PLTMH Rakit. Berikutnya dalam proses pembangunan, diantaranya PLTMH Singgi, PLTMH Kincang, PLTMH Adipasir, dan PLTMH Sigebang yang ditargetkan akan bisa beroperasi tahun ini. Kemudian 22 lokasi sedang dalam proses penyusunan FS/DE, UKL-UPL dan kelengkapan perizinan lain, untuk power purchase agreement (PPA) atau pengujian jual beli listrik dengan PLN.
    “Itulah beberapa kekayaan alam yang dimiliki Banjarnegara. Kami berjanji akan memberikan kemudahan perizinan bagi investor yang ingin melakukan usaha di bidang pertambangan maupun energi terbarukan di Banjarnegara. Apabila potensi ini  ditangkap dan dikembangkan dengan baik, maka PAD Banjarnegara akan terus naik dan imbasnya masyarakat pun bisa lebih makmur dan sejahtera,” tegas Doni Sutrisno.

kapnya.

Read more: PERTAMBANGAN Banjarnegara Terus Buka Peluang Bagi Investor Bidang Tambang

HAJID DAN KERONCONG STEM

HAJID DAN KERONCONG STEM

Orang mengenal pria paruh baya berambut gondrong ini dengan nama pendeknya Hajid. Meski begitu, di usianya yang sudah separuh abad lebih tersebut pria bertubuh gempal ini masih banyak terlihat di sejumlah aktivitas, baik di dalam maupun luar kampungnya. Jiwa sosialnya yang tinggi dan kemampuan dalam bergaul membuatnya terpilih menjabat Ketua RT 02 Rejasa sampai sekian tahun lamanya. 

Sedang bagi mereka yang sering menggunakan jasa angkutan mikrolet jurusan Banjarnegara – Karangkobar hapal betul dengan wajah lelaki satu ini sebab sopir angkot menjadi pekerjaannya. Aktivitas sejak pagi buta pukul 02.00 pagi sudah dimulai dengan ngetem (menunggu) penumpang di pertigaan Gayam hingga dhuhur menjelang.
Sedang bagi komunitas seniman musik keroncong di Banjarnegara, lelaki berputera empat dan bercucu satu ini, dikenal sebagai salah satu dedengkot music Kerocong di Banjarnegara. Sejak remaja Hajid dikenal sebagai penggemar, pelaku seni music keroncong. Dua hari dalam seminggu, dirinya selalu menyempatkan waktu luangnya untuk bermain bersama dengan penggemar musik keroncong. Kegiatan ini dilakukan secara bergilir di rumah para penggemar aliran musik ini.
Saat ditemui penulis, Jumat (16/08) di sela-sela group binaanya STEM mengisi acara hiburan di malam Tirakatan HUT RI, lelaki ramah ini berujar “Sekarang saatnya yang muda untuk tampil”. Begitu dia memberi prolog pembicaraan dengan kami.
Musik Keroncong ini, sambungnya dengan penuh semangat, adalah musik asli Indonesia. Karena itu harus diuri-uri terus agar ada generasi penerusnya. Maka terbentuklah group STEM yang anggotanya sungguh sangat bervariasi dan mencerminkan daya hidup berkesenian. Anggota group ini bervariasi dari yang paling muda usia 16 tahun hingga yang tertua umur 50 tahun.
Meski diperkenalkan oleh MC Tirakatan sebagai group music jalanan dan orang pinggiran, namun anggota STEM ini mempunyai latar belakang yang beragam. Dari pelajar, anak kuliahan, pengangguran, pegawai jaga malam, ibu rumah tangga, sopir, dan kernet. Meski sangat beragam, namun persaudaraan diantara mereka sungguh kental.
Bagaimana komunitas masyarakat bawah dalam berkesenian, menggeliat diantara berbagai kesulitan, sungguh tercermin sangat indah dalam nama group ini STEM. Inilah mungkin yang disebut Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., sebagai ke-liatan masyarakat bawah dalam mensiasasi keadaan. Inilah elan vital berkesenian yang tumbuh dalam jiwa masyarakat.
Nama STEM memang terlihat gaya dan berbau ke-Inggris-Inggrisan. Namun sesungguhnya kepanjangan nama ini sungguh sangat local dan bercirikan kuat Banjarnegara. Kepanjangan nama STEM itu adalah Sapa sing TEyeng Marahi, yang artinya siapa saja yang bisa dalam bermusik mengajari lainnya.  
“Jadi diantara kami semangatnya adalah saling belajar. Di sini tidak ada yang merasa diri paling pinter dan paling penting. Semua saling membantu” katanya.
Dirinya berharap, Group keroncong yang diklaim sebagai group anak-anak muda ini, akan terus hidup menjadi penerus generasi tua penggerak dinamisasi keroncong.
“Nyatanya anak-anak muda yang dikenal hanya menggemari music pop, rock, dan dangdut bisa juga melebur di music Keroncong. Terbukti, mereka bisa menerimanya dengan baik” imbuhnya.
Tokoh pendidikan, Ki Hajar Dewantara, pernah berujar seni merupakan perbuatan manusia yang timbul dari perasaannya dan bersifat indah sehinga dapat menggerakkan jiwanya. Maka, bolehlah beragam tekanan menerpa hidup, BBM naik, Listrik naik, sekolah mahal, lowongan pekerjaan sulit, namun diantaranya masih ada celah keindahan. Celah keindahan yang menguatkan dan melahirkan harapan bagi banyak orang yaitu bermain musik keroncong.
Keliatan Hajid dan kelompok Keroncong STEM tersebut seolah membawakan pesannya sungguh sangat kuat dan indah karena lahir dari kelembutan jiwa : meski sulit namun kami masih bisa memberi. Apa yang kami beri itu namanya adalah keindahan jiwa. Keindahan jiwa itu adalah music Keroncong. Maka, tenangkanlah duduk Anda sejenak…dan dengarkan kami membawakan lagu…
di tepinya sungai serayu….waktu fajar menyingsing…pelangi merona warnanya…nyiur melambai-lambai……. (**—eko br)

 

Subcategories

  • REFLEKSI MENGHIDUPKAN RUH MANGUNYUDO
    REFLEKSI MENGHIDUPKAN RUH MANGUNYUDO Apakah semua orang harus menjadi pahlawan? Kalau pahlawan diartikan sebagai hero, heroic, dan heroism, memanggul senjata turun dari panser atau membawa tombak menunggang kuda mengejar musuh untuk dibunuh, tentulah tidak semua kurun waktu membutuhkan seorang pahlawan. Namun bila pahlawan diartikan sebagai orang yang memberikan kemanfaatan besar bagi publik, maka kehidupan ini membutuhkan banyak pahlawan untuk semua jenis kehidupan dan sepanjang masa. Dari 156 nama Pahlawan Nasional Indonesia tidak ada putera kelahiran Banjarnegara. Namun bukan berarti orang-orang Banjarnegara adalah orang-orang yang apatis apalagi menjadi pengkhianat bangsa dan Negara. Bahwa ada masa di mana para priyayi punggawa praja lebih menjadi bagian dari kekuasaan pemerintah Hindia Belanda sangatlah mungkin, dan itu menjadi fenomena umum di seluruh kawasan Nusantara. Hanya saja untuk dicatat, ada prasasti yang memastikan bahwa Banjarnega pernah melahirkan seorang hero yang berani mengambil resiko, dengan kekuatan semangat membara berihtiar mengusir penjajah Belanda dari Surakarta, tatkala raja Surakarta pun, yakni Paku Buwana II tidak mampu melakukannya. Dialah Tumenggung Mangunyudo. Dialah yang dengan gagah berani berangkat meninggalkan singgasana kekuasaannya di Banjar Petambakan menuju Surakarta memenuhi panggilan dharma Paku Buwana II untuk mengusir tentara Belanda yang menguasai keraton Surakarta, berkonspirasi dengan para elite keraton. Mangunyudo memang akhirnya gugur, yang kematiannya masih kontraversial sampai sekarang. Namun bahwa ia mati di Loji Kasunanan, di tempat yang menjadi pusat pertempuran cukup memberikan pesan bahwa seorang Mangunyudo mati dengan gagah berani saat melawan penjajah. Karena kematiannya itulah maka ia memperoleh gelar baru Mangunyudo Sedaloji. Dari buku “Sejarah dan Babad Banjarnegara” karangan guru saya Bapak S Adisarwono, begitu banyak dan penuh warna masa lalu Banjarnegara, baik yang bersifat historical dengan bukti-bukti otentiknya, legenda, mitos maupun cerita lisan yang tidak jelas sumber aslinya. Namun saya kira ada satu hal yang patut kita ambil dari buku tersebut, yaitu cerita perjuangan Tumenggung Mangunyudo. Ruh Mangunyudo adalah akar karakter orang Banjarnegara yang memiliki sifat semangat merdeka, pengorbanan untuk nusa bangsa, dan siap mengambil resiko demi sebuah kehormatan, betapapun sendirian menghadapi resiko tersebut. Bukankah kita layak mempertanyakan di mana para penguasa Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Semarang, dan yang lain-lainnya saat Mangunyudo krida bandhayuda di Surakarta? Seberapapun banyaknya tentara Belanda saat itu, seandainya Mangunyuda tidak dibiarkan sendiri memimpin pertempuran, Belanda akan mudah diusir dari Surakarta, setidaknya mundur ke kawasan lain yang bukan merupkan pusat pemerintahan. Namun itulah sejarah perang, selalu menghadirkan pahlawan dan pengkhianat, melahirkan pelopor dan kolaborator. Kita bersyukur, nenek moyang orang Banjarnegara bukan jenis kolaborator dan pengkhianat, namun masuk dalam golongan pahlawan. Mangunyudo telah lama tenggelam oleh waktu, tanpa sempat mampir dalam peta sejarah perjuangan bangsa, dan tidak masuk dalam jajaran 156 nama Pahlawan Nasional. Tetapi bila membaca sejarah hidup dan perjuangannya, tak ada yang menampik betapa gagah beraninya dia, dengan prajurit dan senjata seadanya, dengan ringannya meninggalkan Banjarnegara menuju Surakarta, lalu membinasakan para prajurit Belanda hingga dirinya berkalang tanah, lalu oleh sang kuda dilarikan hingga kembali ke tanah kelahirannya. Di makam tua pinggir Kali Merawu, sisa-sisa semangat kepahlawanan Mangunyudo masih ada. Maka di saat kita tengah getol berjuang mengubah nasib bangsa ini, mengubah Banjarnegara lebih baik lagi dari pada hari ini, kiranya ruh Mangunyuda bisa menuntun kita. Aktualisasi dari semangat Mangunyudo adalah keberanian kita untuk mandiri, untuk membela mereka yang miskin dan tertindas, membela hak, serta menegakkan harkat dan martabat sebagai manusia. Ruh Mangunyudo harus dihidupkan kembali agar generasi muda mendapatkan apinya, bukan abunya. Api Mangunyudo itu dalam konteks kekinian adalah bagaimana kita yang hidup pada saat sekarang berani hidup mandiri tanpa ketergantungan pada Negara misalnya, bagaimana memiliki kepedulian pada lingkungan hidup untuk tetap hijau dan memberikan mata air untuk menjamin sungai-sungai tetap mengalirkan air bagi kehidupan, atau tekun menemukan dan melahirkan karya-karya kreatif untuk menunjukkan kualitas sumber daya manusia pada dirinya. Pendek kata Mangunyudo harus hidup pada setiap dada generasi penerus Banjarnegara, sehingga kabupaten kita tercinta bukan ada sekedar menjalani keniscayaan alamiah pasrah sumarah tak pernah berubah, tetapi Banjarnegara yang lain, Banjarnegara yang berbeda, Banjarnegara yang selalu membawa kebanggaan untuk diucapkan dan dikibarkan. Nama-nama seperti Ebiet G Ade (musik), atau Kris John (olah raga), Prof Dr Heri Suhardiyanto (akademik), Sulistiyo (Ketua Umum PB PGRI/anggota DPD), adalah contoh bagaimana mereka telah berbuat lebih dari masyarakat pada umumnya. Para pelajar kita juga banyak yang memenangkan olimpiade internasional. Guru-guru kita juga banyak yang menjuarai lomba-lomba karya inovatif tingkat nasional. Dengan prestasi-prestasi seperti itulah kita dengan bangga bisa berkata lantang. “Inilah anak turun Mangunyudo Sedoloji yang gagah berani, yang bersedia mati untuk kehormatan sebuah negeri”. Membangkitkan semangat ruh Mangunyudo Sidoloji itulah yang harus mewarnai dan menjadi inti peringatan hari jadi Banjarnegara yang dirayakan setiap tanggal 22 Agustus. Bukan yang lainnya. Dirgahayu Banjarnegara! *** *) Penulis adalah Wakil Bupati Banjarnegara. Pertanian Tetap Jadi Prioritas Pembangunan Banjarnegara
    Article Count:
    2

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan

Link Penting

SIM ONLINE

PPDI

  • Profil
  • Peraturan
  • Pedoman & Standar Pelayanan
  • Formulir Permintaan
  • Info Serta Merta
  • Info Setiap Saat
  • Hak dan Tata Cara
  • Pengaduan
Info Penting
  • Penelitian / Praktek Kerja