Wed11222017

Last updateTue, 21 Nov 2017 12pm

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Derap Serayu online Tajuk Tahun 2015, Semua SKPD Harus Hemat Energi

Tahun 2015, Semua SKPD Harus Hemat Energi

 

 

 

Pada tahun 2015, semua Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) harus melaporkan penggunaan energy dan air secara rutin. Langkah ini diambil sebagai upaya serius Pemerintah dalam upaya memecahkan masalah krisis energy. Demikian instruksi Bupati dalam sambutan kegiatan Sosialisasi Hemat Energi yang disampaikan oleh Assisten Ekonomi Pembangunan dan Kesra Sekda Dra. Sri Trisnainingsih, M. Si, akhir Oktober lalu di Sasana Karya Praja Lantai 2 Setda.



“Penghematan eneri dan air tidak akan terwujud tanpa peran aktif dan tindakan nyata dari segenap pemangku kepentingan seuai dengan peran masing-masing. Paling tidak melalui pelaporan rutin penggunaan energy dan air tersebut, maka dapat diketahui apakah sudah terjadi penghematan atau belum.” katanya.
Kebijakan pelaporan energy dan air ini oleh SKPD, lanjutnya, sebetulnya telah berjalan di Kabupaten Banjarnegara, namun belum optimal. Sampai dengan tahun 2014, lanjutnya, baru sekitar 10 dari 35 SKPD yang melaporkan secara rutin penggunaan energy dan air.
“Ke depan, semua SKPD harus melakukan pelaporan energy dan air secara rutin” katanya.
Agar kebijakan ini berjalan dengan baik, lanjutnya, maka saya minta Kepala SKPD melakukan kampanye internal pada jajaran pegawainya untuk melakukan penghematan energy dan listrik. Namun penting menjadi perhatian, lanjutnya, bahwa masalah penghematan energy ini juga tidak menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Sebab, sambungnya, pelaku usaha dan masyarakat juga mempunyai peran penting keberhasilan upaya ini. Tanpa partisipasi mereka, lanjutnya, upaya mengatasi krisis energy ini akan berjalan timpang dan ada ancaman bahayanya.
“Peraturan Pemerintah Nomor 70 tahun 2009 tentang konservasi energy menyatakan upaya konservasi enegi menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, Pengusaha dan masyarakat” katanya.
Salah satu yang menjadi pendorong keluarnya PP ini, lanjutnya, adalah ketersediahan bahan bakar fosil semakin hari semakin berkurang. Di sisi lain, lanjutnya, permintaan kebutuhan engeri semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Kondisi ini, lanjutnya, makin lama menimbulkan ketidakseimbangan antara ketersediaan bahan bakar dan permintaan, sehingga melahirkan krisis energy.
“Jika kita gagal dan membiarkan krisis energy ini berlangsung lama, maka dapat mengganggu kegiatan perekonomian rakyat dan pada akhirnya dapat mengganggu kestabilan ekonomi” katanya.
Di dalam upaya penghematan energy dan air ini, kata Tris, tidak usah terpaku pada upaya besar dulu. Saran saya, lanjutnya, mulailah menanamkan budaya hemat engeri dan air ini dari diri kita sendiri. Setelah bisa, lanjutnya, kembangkan di anggota keluarga. Kalau semua orang melakukannya, lanjutnya, saya yakin bangsa ini sudah bisa melakukan penghematan luar biasa.
“Mulailah dari yang kecil-kecil dulu dengan membiasakan mematikan lampu jika sudah selesai penggunaanya. Gunakan alat-alat listrik dan air seperlunya. Kalau mandi lebih irit pakai shower daripada gayung yang lebih banyak menghabiskan air. Itu ide-ide kecil dari masing-masing individu namun jika dilakukan oleh semua orang merupakan sumbangan sangat besar bagi negeri ini” katanya.
Salah satu pembicara, Karnoto, dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Banyumas menambahkan bahwa dalam kampanye ini mau tidak mau pemerintah memang harus memberi contoh upaya dan tindakan nyata untuk mengurangi pemborosan pemakaian energy dan air melalui penghematan energy dan air. Oleh karena telah menjadi ketentuan, lanjutnya, maka hal sama ditempuh oleh Pemkab Banyumas.
“Kami menyadari peluang kebocoran dari langkah ini, maka dalam upaya ini kami menerapkan pengawasan dan control yang ketat. Upaya ini membawa dampak signifikan terjadinya penghematan penggunaan energy dan air di lingkunan isntansi pemerintah. Sehingga Kabupaten Banyumas keluar sebagai juara satu tingkat propinsi dalam hal penghematan energy di isntansi pemerintah” katanya.
Kabid ESDM pada Dinas PSDA ESDM Kun Dharmawan mengatakan bahwa pada tingkat propinsi, Banjarnegara keluar sebagai nomor urut enam. Pada waktu itu, lanjutnya, yang diajukan adalah gedung Sekretariat Daerah. Terlepas dari itu, lanjutnya, pihaknya kini tengah mengupayakan perluasan sosialisasi hemat energy ini ke kalangan pelaku usaha dan para pelajar lanjutan tingkat atas.
“Pelaku usaha karena mereka memang kelompok masyarakat yang diperhitungkan paling banyak membutuhkan energy. Harapannya, kesadaran untuk hemat energy di kalangan pengusaha akan member cukup besar kontribusi. Sedangkan anak-anak sekolah karena mereka generasi muda yang akan menjadi penerus negeri. Bila budaya hemat energy dan air telah tercipta sejak muda, ke depannya kita bisa berharap adanya penghematan energy yang lebih besar lagi” katanya. (**—eko br)


 

 

 

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan