Thu05252017

Last updateWed, 24 May 2017 2pm

Back You are here: Home Derap Serayu online Tajuk REFLEKSI MENGHIDUPKAN RUH MANGUNYUDO Antara Kaliwinongo dan Cikapundung

Antara Kaliwinongo dan Cikapundung

Cerita sukses sebagian peserta

Kongres Sungai Indonesia membuat kita penasaran, hal apa sesungguhnya yang sudah dilakukan oleh para komunitas sungai di berbagai kota di tanah air. Beberapa di antara mereka memang menceritakan kepiluan atas nasib sungai-sungai di daerahnya yang tercemar parah bahkan sekarat. Namun tidak sedikit para peserta yang menyampaikan keberhasilannya. Karena rasa penasaran itu, awal November lalu kami beserta berbagai kalangan mengunjungi komunitas sungai Kaliwinongo di Jogjakarta. Kaliwinongo adalah nama sungai yang membelah kota Yogyakarta bagian barat dari utara ke selatan. Sebagaimana karakter sungai di tengah kota yang penuh sampah, limbah, dan pencemaran, begitupun Kaliwinongo di masa lalu

Saat kami ke sana, Kaliwinongo sudah tampak tertata. Belum selesai benar ihtiar untuk memperoleh sungai yang asri, namun desain besarnya sudah mulai tampak. Sepanjang pinggiran dibuat joging trak, ada tama-taman dan ruang terbuka publik, ada bangunan-bangunan tradisional balai-balai dan panggok untuk aktivitas warga, ada kolam renang, ada pengelolaan mata air untuk sumber air bersih, dan sebagainya

Sebagaimana kali Code, Kaliwinongo telah menggeliat mengubah diri dari titik negatif berubah menjadi kekuatan positif. Tiada lagi terlihat orang nongkrong di tepian sungai buang air besar, karena kanan kiri sudah terbangun taman, banyak orang lalu lalang sehingga membuat malu mereka yang masih suka Mekong alias meme bokong.

Media edukasi

Hal yang lebih spetakuler kami lihat di Cikapundung, Bandung, dua minggu kemudian. Bantaran sungai Cikapundung, yang merupakan anak sungai Citarun di jantung kota Bandung dulu berupa pemukiman kumuh. Sekarang bantaran sungi sudah kosong pemukiman, dan kanan kiri berhiaskan taman aneka macam media edukasi, dari ampheteater, air mancur tanpa kolam, taman bunga, taman batu, museum sungai, dan sebagainya.

Persoalan utama sungai di Jawa Barat adalah sungai Citarum yang menjadi penyangga tiga waduk dengan pensuplai listrik utama Jawa Bali, namun Citarum adalah sungai paling parah dari sekian sungai di Indonesia. Sungai menjadi besar karena anak-anak sungai. Maka bila ingin memperoleh sungai yang bersih harus dimulai dari anak sungai. Itulah mengapa, sungai Cikapundung ditata, untuk memperoleh air yang bersih sekaligus pendukung keindahan wajah kota

Kuncinya komunitas

Baik Kaliwinongo maupun sungai Cikapundung memang didukung degan biaya besar, namun bukan itu kunci keberhasilan menata dua sungai tersebut. Kuncinya adalah kehadiran komunitas sungai, yakni kelompok warga yang peduli pada sungai tanpa memandang status dan profesi. Mereka diikat oleh satu kesadaran bahwa sungai adalah urat nadi ekonomi utama oleh karena itu tidak boleh tercemar. Mereka diikat oleh satu kepentingan, yakni kepentingan mewujudkan sungai yang bersih, sungai yang terawat, sungai yang dimanage hingga memiliki potensi ekonomi.

Satuan Kerja perangkat Organisasi (SKPD) atau instansi pemerintah bisa saja main proyek, program, dan kegiatan dengan biaya besar lalu melakukan apa saja pada sungai. Namun bisa dipastikan hal itu tidak akan berlangsung lama karena masyarakat tidak punya rasa memiliki yang kuat untuk merawat apa yang sudah dibangun pemerintah.

Forum Komunitas menjadi faktor penentu. Forum Komunitaslh yang melakukan perencanaan, sosialisasi, hingga pelaksanaan program-program. Ketika perencanaan komunitas nyambung dengan program pemerintah, apa salahnya pemerinta mefasilitasinya.

Kami tujuh tahun melakukan gerakan komunitas, hasilnya belum seperti yang diharapkan. Namun masyarakat sudah banyak yang terlibat”ujar Endang, Koordinator Forum Komunitas Kaliwonongo . Hal senada dikemukakan oleh Nancy dari Program CitaCitarum.

Untuk penyadaran masyarakat Cikapundung, kami butuh waktu empat tahun. Ketika berhasil melakukan awareness, efeknya luar biasa. Masyarakat bantaran sungai Cikapundung misalnya, mereka sendiri yang menentukan pindah lokasi meninggalkan pemukiman di sempadan sungai. Mereka sendiri yang membongkari keramba-keramba di sungai Cikapundung”akunya.

Lebih hebat lagi pengakuan Profesor Suratman dari Gerakan Restorasi Sungai Jogjakarta yang melakukan pendampingan masyarakat tepian kali Code. Menurutnya pendampingan itu sudah berlangsung selama 15 tahun, dan masyarakat yang tersadarkan baru mencapai 30 persen. “Jadi pembudayan sungai bersih memang lama, maka para aktivis jangan mudah patah semangat”pesan Profesor Suratman.

Kesadaran tentang sungai yang menjadi garapan Komunitas sebenarnya sangat sederhana. Dimulai dari kebiasaan tidak membuang sampah di sungai, tidak merusak tubuh sungai, berinisiatif menanami tanaman tegakkan di tepian sungai, tidak mendirikan bangunan permanen di sempadan sungai, tidak mencemari air sungai, dan sebagainya

Mundur, munggah, madhep

Yang tersulit adalah mengajak masyarakat untuk memiliki visi mundur, munggah, madhep kali. Mundur maksudnya, memundurkan bangunan-bangunan di sempadan sungai sampai batas aman, setidaknya minimal tiga meter dari tepi sungai sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 28 tahun 2015. Munggah, para penghuni sempadan sungai berani naik semaksimal mungkin sehingga tubuh sungai bisa leluasa menampung air di musim hujan, sekaligus para penghuni pinggiran sungai tidak takut terkena banjir. Dan madhep, maksudnya bagaimana membiasakan masyarakat yng tinggal di tepian sungai agar menghadapkan rumahnya kea rah sungai. Tujuannya agar sungai menjadi halaman depan, bukan halaman belakang. Karena sungai itu halaman depan maka ia harus tampil bersih dan indah, penuh taman, bukan tempat membuang sampah.

Sungai-sungai di Banjarnegara cukup banyak. Senyampang belum sekarat seperti sungai-sungai di kota-kota besar, sudah saatnya mengantisipasi dengan membentuk Forum Komunitas Sungai. Masyarakat harus disadarkan, dicerahkan, dan digerakkan untuk melakukan sesuatu terhadap sungai di sekitarnya.

Palet dan Serayu

Untuk uji coba kita baru membentuk dua kelompok komunitas sungai pada tanggal 18 dan 19 November lalu. Pertama Forum Komunitas Sungai Palet, dan kedua Forum Komunitas Serayu Utama. Harapannya pada dua sungai ini akan hadir menjadi sungai yang tertata rapih, indah, bersih dan menawan, sehingga bukan saja enak untuk area khidupan sehari-hari, namun juga menarik minat wisatawan untuk menikmati panorama dan keindahan sungai.

Saya bermimpi, setiap desa di Banjarnegara memiliki komunitas sungai, karena inilah salah satu kunci untuk menuju Kabupaten konservasi, yakni kabupaten yang hijau, jauh dari becana bajir dan tanah longsor, serta tidak pernah kekurangan sumber air bersih. Mari, jaga dan rawatsungai-sungai kita.***

Penulis adalah Wakil Bupati Banjarnegara

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan

Link Penting

SIM ONLINE

PPDI

  • Profil
  • Peraturan
  • Pedoman & Standar Pelayanan
  • Formulir Permintaan
  • Info Serta Merta
  • Info Setiap Saat
  • Hak dan Tata Cara
  • Pengaduan
Info Penting
  • Penelitian / Praktek Kerja