Sun09242017

Last updateFri, 22 Sep 2017 11am

Back You are here: Home Derap Serayu online Tajuk REFLEKSI MENGHIDUPKAN RUH MANGUNYUDO Hujan, Antara Berkah dan Musibah

Hujan, Antara Berkah dan Musibah

Hujan pertama selalu indah. Bau harum tanah ditingkah senyum sumringah setelah lama
berbulan-bulan merasakan musim kemarau yang penuh gerah. Alhamdulillah, di awal
November ini, hujan yang dinanti itu, telah turun di sebagian wilayah Banjarnegera, dan insya
Allah akan terus turun di semua wilayah ini.
Oleh : Hadi Supeno
Hujan pertama selalu indah. Namun jangan lupa, hujan bisa menjadi berkah, di sisi lain bila lengah  bisa berubah menjadi
musibah. Kita hidup di kawasan tropis, dengan curah hujan tinggi bisa mencapai rata-rata 2000-3000 mm/tahun.
Bandingkan dengan curah hujan rata-rata dunia yang hanya 900 mm/tahun.
Apa artinya? Indonesia sangat kaya akan air hujan. Itu anugerah tak ternilai harganya. Karena hujan itulah, tanah
menjadi subur, tanaman tumbuh menghijau, bunga-bunga semarak semerbak aneka warna, buah-buahan dengan mudah
tersedia. Dengan hujan pula sawah dan ladang mudah digarap, lalu menghasilkan pangan sumber kemakmuran. Dengan
hujan itu, maka kali mengalir deras, tercipta bendungan, terbangun irigasi, terbentang kolam-kolam dan empang
menghasilkan ikan sumber gisi. Hujan menghadirkan alam yang basah, indah.
Ingatan kolektif
Yang tak boleh dilupakan, di balik anugerah itu bisa berubah menjadi musibah. Bila hujan deras bebas membuncah 
mencacah bumi yang telanjang, maka akan menghasilkan banjir bandang, menerjang semua penghalang, manusia,
binatang, atau bangunan apapun tak pandang-pandang.
Tanah longsor, juga menjadi sumber was-was di kala musim hujan datang. Pengalaman bencana tanah longsor dusun
Gunungraja desa Sijeruk, kecamatan Banjarmangu, dan juga bencana tanah longsor Jemblung kecamatan Karangkobar,
dimana keduanya menelan korban ratusan jiwa, selalu menjadi ingatan kolektif warga Banjarnegara, ingatan tentang sakit,
penderitaan, dan kehilangan bukan saja harta benda barang berharga,tetapi kehilangan orang-orang tercinta.
Kita sudah belajar tentang itu semua. Kita tak bisa menghalangi hujan datang berhari-hari, bukankah kita juga susah
bila kemarau terlalu lama? Betapapun hujan sering menghadirkan bencana kemanusiaan, namun akan jauh lebih menderita
manakala negeri ini tidak memperoleh hujan. Lihatlah bumi Afrika yang gersang dan kerontang, di sana masyarakat sering
kelaparan, kekurangan pangan.
Hujan berkah
Hujan pertama selalu indah. Ia seperti puisi yang menggugah. Dan hujan itu sudah mulai menderas. November,
Desember, Januari, dan seterusnya, akan terus tumpah memandikan tanah. Bagaimanakah agar hujan terus menjadi
berkah?
Pertama, telitilah kanan kiri pemukiman kita, utamanya saudaraku yang hidup di lereng-lereng bukit, apakah  ada
rekahan tanah di sekitar pemukiman. Bila ada, lakukan langkah darurat, mampatkan rekahan itu agar tidak menjadi rongga
jalan air yang berpotensi mendorong tanah di atasnya. Mencari pemukiman yang lebih aman, tentu paling disarankan.
Kedua, bersihkan selokan-selokan dan drainase di sekitar pemukiman dan di tepian jalan-jalan, baik jalan desa,
maupun jalan raya. Dengan selokan yang bersih, akan mampu menampung air dalam volume besar, sehingga air tidak lari
ke jalanan atau pemukiman.
Ketiga, buatlah lobang-lobang tabungan air dengan membuat embung di sekitar pemukiman. Tujuannya, agar air hujan
yang turun tidak semuanya lari terbuang sia-sia menuju  aliran liar, namun sebagian bisa masuk lobang-lobang
penampungan, yang bisa dimanfaatkan pada saat tidak ada curahan air hujan dari langit.
Keempat, Kurangi kolam-kolam dan empang di tanah lereng dimana ada pemukiman di sekitarnya. Kolam dan empang
akan melunakkan tanah, danakan mempermudah luncuran permukaan tanah bila ada dorongan yang lebih kuat dari atas.
Kelima, tanamah pohon di tanah-tanah kosong. Pohon dipilih sesuai dengan karakter tanah. Disarankan tanaman aren,
bambu, dan kaliandra, yang memiliki cengkeraman akar sampai jauh ke dalam, bahkan mampu menembus lapisan tanah
kedua. Lebih-lebih,aren dan bambu, selain untuk konservasi, ia juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Tanaman kopi, kakao,
jengol, petai,  atau tegakkan lainnya juga baik. Yang penting, pastikan tiada tanah gundul tanpa tanaman tegakkan.
Tanaman perdu macam sayuran atau buah-buahan boleh-boleh saja karena itu sumber penghidupan kaum tani, tetapi
harus propoorsional, jangan dihabiskan, sisakan untuk tanaman tegakkan.
Tanaman-tanaman tegakkan yang tepat, selain menahan erosi juga mampu menyimpan air di akar-akarnya, yang akan
dikeluarkan tetes demi tetes bahkan menjadi sumber mata air. Ketersediaan mata air akan menjamin sungai tetap
mengalirkan air untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Keenam, tetaplah waspada di segala waktu dan tempat. Di  area yang licin, di jalanan yang berkabut, di kawasan yang
penuh petir, selama musim hujan haruslah tidak boleh hilang kewaspadaan. Hujan bukan sumber bencana, karena bencana
itu ketika manusia lengah menyikapi fenomena alam.
Hujan dan puisi
Hujan pertama selalu indah. Ia menjadi jawaban atas doa panjang di tengah gerah. Dan bicara tentang hujan, saya
teringat puisi dari penyair terkenal Sapardi Djoko Damono berjudul “Hujan Dalam Komposisi 2” yang melankolis romantis:
Apakah yang kita harapkan dari hujan?/ Mula-mula ia di udara tinggi, ringan dan bebas/lalu mengkristal dalam
dingin/kemudian mlayang jatuh ketika tercium bau bumi/ dan menimpa pohon jambu itu, tergelincr dari daun-daun,
melenting di atas genting, tumpah di pekarangan rumah, dan kembali ke bumi./ Apakah yang kita harapkan? Hujan juga
jatuh di jalan yang panjang, menyusurnya, dan tergelincir masuk selokan kecil, mericik suaranya, menyusur selokan, terus
merici sejak sore, mericik juga di malam gelap ini./bercakap tentang lautan/Apakah? Mungkin ada juga hujan yang jatuh di
lautan. Selamat tidur.
Ya selamat tidur bagi anak-anak dan kaum perempuan kala hujan datang di malam hari. Namun bukan untuk kaum laki-
laki dan anak-anak muda.  Bergilir meronda dan waspada harus dilakukannya.
Selamat datang wahai hujan yang ditunggu lama. Semoga engkau menjadi hujan-hujan penuh barokah, jauh-jauh dari
sumber musibah. Insya Allah. ***
Penulis adalah Wakil Bupati Banjarnegara.

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan