Sun07152018

Last updateFri, 13 Jul 2018 9am

Back You are here: Home ILPPD Isi Ringkasan ILPPD (Urusan Wajib) B. Bidang Kesehatan
Tuesday, 11 July 2017 10:08

B. Bidang Kesehatan

Written by 
Rate this item
(1 Vote)

Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kesinambungan antar upaya program dan sektor. Oleh karena itu menjadi suatu keharusan bagi semua pihak untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan demi kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia,  Pembangunan Bidang Kesehatan diarahkan untuk menyediakan akses pelayanan kesehatan berkualitas yang bermutu, merata dan terjangkau untuk seluruh masyarakat.

Pemerintah menaruh perhatian pada pencegahan kematian pada ibu dan bayi melalui upaya untuk menurunkan angka kematian Ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), termasuk penyediaan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi, dan upaya perbaikan gizi masyarakat terutama penanganan gizi buruk. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular (PTM) dilakukan dengan peningkatan kegiatan survailance, kerja sama lintas sektor, dan memberdayakaan masyarakat untuk membentuk perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dilakukandengan peningkatan pelayanan jamkesda.

Untuk mencapai sasaran tersebut, maka pada tahun 2016 telah dialokasikan APBD sebesar Rp.106.906.786.250,00 lewat DKK melalui beberapa program dan kegiatan pembangunan kesehatan, meliputi: Program Upaya Kesehatan Masyarakat, Program Perbaikan Gizi Masyarakat, Program Promosi Kesehatan Masyarakat, Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular, Program Pengembangan Lingkungan Sehat, Program Pengadaan Peningkatan dan Perbaikan Sarana dan Prasarana Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Jaringannya, Program Kemitraan Peningkatan Pelayanan Kesehatan dan program Pengadaan Obat dan Perbekalan Masyarakat yang menyediakan obat esensial untuk puskesmas dan jaringannya.

Program Upaya Kesehatan Masyarakat dilaksanakan dengan cara pelayanan kesehatan penduduk miskin yang semakin baik, meningkatnya penduduk yang menggunakan jamban sehat dan terlaksananya pengembangan puskemas mampu menangani KTPA (Kekerasan Terhadap Perempuan dan anak).

Untuk meningkatkan kenyamanan pelayanan kesehatan di wilayah dilakukan pembangunan maupun perbaikan beberapa fasilitas kesehatan melalui program Pengadaan, Peningkatan dan Perbaikan sarana prasarana puskesmas /puskesmas pembantu dan jaringannya seperti Terlaksananya Pembangunan Puskesmas, Rehabilitasi sedang/berat Puskesmas, Pengadaan Kendaraan Dinas, Pembangunan/pemeliharaan rutin rumah dinas dokter dan paramedis, Selanjutnya, pengawasan terhadap peredaran obat dan makanan di masyarakat dilakukan dengan pembinaan bagi petugas penyehatan makanan di puskesmas dan didukung oleh pengawasan melalui bimbingan teknis sarana produksi dan distribusi obat dan makanan.

Upaya mendidik masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dilakukan dengan kegiatan promosi kesehatan, berupa media promosi dan penyuluhan kesehatan untuk memperlancar dan penyebarluasan informasi berisi informasi kesehatan bertema Ajakan PHBS, diapresiasi dengan diperolehnya Juara III Tingkat Provinsi Film Promosi Kesehatan “Dicegah Men Gagah”.

Pelayanan vaksinasi dilakukan dengan kegiatan pelayanan vaksinasi rutin bagi balita/ anak sekolah dan wanita usia subur di 35 Puskesmas. Kinerja imunisasi tampak semakin baik dengan tercapainya angka 100% desa UCI (Universal Child Imunization), sementara capaian tahun 2016 sebesar 100%, tahun 2015 sebesar 100% dan tahun 2014 sebesar 99,3%.

Capaian kinerja pembangunan gizi masyarakat pada tahun 2016 menunjukan prevalensi gizi buruk 0,05% sedangkan 2015 sebesar 0,04% (target < 1% balita) dengan jumlah kasus 29 balita gizi buruk dan mendapat perawatan mencapai angka 100%. Menurunnya persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif 59,4% (Tahun 2015 =65,15%), sehingga perlu Mengoptimalkan Pelaksanaan IMD pada ibu melahirkan di tiap pelayanan kesehatan dan Pembentukan serta pendampingan kelas ibu menyusui yang diselenggarakan secara berkesinambungan.

Program perbaikan gizi masyarakat, dilakukan dengan kegiatan penyusunan peta informasi gizi di 35 UPT Puskesmas, kemudian didukung oleh penyediaan pemberian tambahan makanan dan minuman bagi masyarakat rentan gizi. Pemberian tambahan berupa makanan dan vitamin bagi balita rawan gizi, pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan ibu hamil untuk pencegahan kekurangan energi kronik /anemia, PMT untuk pemulihan gizi buruk.

Posyandu menjadi sasaran pemulihan gizi dengan pemberian PMT posyandu. Ibu hamil diberikan suplemen gizi serta penyediaan makanan pendamping ASI (MPASI) baik lokal maupun pabrikan kepada balita rawan gizi terutama balita dari keluarga miskin. Tersedianya peran serta aktif masyarakat dengan adanya Posyandu Purnama sebesar 33,23% (tahun 2015 = 38,17%) dan Posyandu Mandiri sebesar 33,35% (tahun 2015 = 15,8%) yang mendukung upaya pemulihan gizi masyarakat.

Capaian kinerja pembangunan kesehatan lingkungan pada tahun 2016menunjukan hasil yang baik dan meningkat dari tahun 2015. Angka persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat sebesar =48,56% (tahun 2015 = 44,05%), hal ini didukung adanya kegiatan penyuluhan jamban sehat, stimulan jamban sehat, deklarasi desa SBS 20 desa, Terlaksananya kegiatan stimulan sanitasi dasar 18 desa. Pemicuan CLTS di desa Pamsimas 11 desa, Tersedianya replika jamban sehat 210 buah, Terlaksananya monitoring desa, Terlaksananya Pelatihan CLTS & Workshop STBM.

Tempat umum seperti pasar menjadi sasaran pencegahan penyakit menular dengan dilakukannya penyemprotan vektor lalat di 4 (Empat) titik yaitu TPA Winong, Pasar Kota, Pasar Karangkobar, danPasar Klampok. Selain itu Terlaksananya Pembangunan IPAL di UPT Puskesmas sebagai upaya untuk mengolah limbah di lingkungan.

Penyemprotan sarang nyamuk penyebab penyakit demam berdarah dilaksanakan untuk membatasi penyebaran kasus. Kegiatan penyemprotan (fogging) dilakukan sebanyak 97 kali di beberapa wilayah yang terdapat kasus demam berdarah. Capaian kinerja penderita demam berdarah dengue yang ditangani sebesar 100%.

Penyakit menular HIV/AIDS pada tahun 2016 terus meluas. Kegiatan sosialisasi bahaya HIV/AIDS dilakukan terus. Sejalan dengan penemuan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Banjarnegara dilakukan upaya pengobatan untuk 23 (Dua Puluh Tiga) orang penderita yang didukung oleh penyediaan klinik VCT di Kabupaten Banjarnegara.

Upaya penanganan kasus malaria dilakukan dengan pemeriksaan sediaan darah malaria sebanyak 2.000 slide, survei entomologi dan penyelidikan epidemiologi yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh JMD (Juru Malaria Desa). Capaian kinerja pemberantasan malaria diperoleh angka API (jumlah penderita baru malaria) sebesar 0,21/1.000 penduduk (tahun 2015 = 0,32/1.000 penduduk), Penderita malaria yang diobati 100% (Tahun 2015=100%)

Capaian penemuan kasus lumpuh layu akut/ acute flaccid paralysis (AFP) per 100 ribu penduduk usia < 15 tahun sebesar 5 orang (tahun 2015 = 6 orang). Capaian Kesembuhan  Kasus TB BTA + sebesar 65,6% (Tahun 2015=74,7%) perlu ditingkatkan jejaring Rumah sakit dan puskesmas baik dalam maupun luar wilayah dalam pengobatan TB. Penanggulangan penyakit menular tidak terlepas dari perbaikan akses masyarakat terhadap sumber air bersih, dimana kinerja pada tahun 2016 dicapai Persentase kualitas air minum yang memenuhi syarat sebesar 82 % (tahun 2015 = 81%) dan didukung penduduk yang memiliki akses terhadap air minum yang berkualitas sebesar 84% (tahun 2015 = 83%).

Sementara upaya guna menekan masalah kematian ibu dan bayi dilakukan melalui audit medis kasus kematian/kesakitan ibu sebanyak 8 kali dan kegiatan audit sosial sebanyak 8 kali dengan melibatkan masyarakat sebanyak 80 orang. Didukung pula dengan pertemuan dan pembinaan kelas ibu hamil, kelas ibu balita, dukun bayi dan kader kesehatan melalui kegiatan di 35 (Tiga Puluh Lima) UPT Puskesmas, Terlaksananya Pertemuan ANC terpadu, Terlaksananya Pertemuan Deteksi Risti untuk bidan desa dan kegiatan di tingkat desa serta pengembangan puskesmas mampu PONED (terdapat 13 UPT Puskesmas Perawatan Mampu PONED), dan Terlaksananya penyediaan Rumah Tunggu Kelahiran di Wilayah UPT Puskesmas 18 dari 21 RTK.

Angka kematian ibu (AKB) dari sebesar 120,3/100.000 kelahiran hidup (Tahun 2015=107,7/100.000 KH), sebanyak  19 kasus kematian ibu,  pada tahun 2015 sebanyak 17 kasus kematian ibu. Angka kematian bayi menurun dari tahun lalu yaitu 13,17/1.000 KH (sebanyak 208 kasus) sedangkan pada tahun 2015 sebesar 13,32/1.000 kelahiran hidup (sebanyak 209 kasus). Persalinan dengan tenaga kesehatan (Linakes) yang memiliki kompetensi kebidanan sebesar 98,9% meningkat dari tahun lalu (tahun 2015 = 98,7%). Kunjungan bayi tercapai 97,2% (tahun 2015 = 96,3%), cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 99,9% (Tahun 2015=100%) dan cakupan pelayanan ibu nifas sebesar 96,4% (tahun 2015 = 95%).

Upaya penurunan AKI-AKB di Kabupaten Banjarnegara merupakan wujud komitmen pemerintah daerah dalam mencapai Sasaran pokok RPJMN 2015-2019 adalah meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan anak, yang secara bersama - sama dan bersinergi dilakukan ditingkat pelayanan dasar di puskesmas maupun pelayanan rujukan di RSUD Hj. Anna Lasmanah Kabupaten Banjarnegara.

Program kemitraan, diutamakan pada pemberian bantuan rujukan bagi masyarakat miskin, dengan capaian pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat miskin dan rujukan masyarakat miskin sebesar 100%.

Untuk menjamin terselenggaranya mutu pelayanan kesehatan yang semakin baik dimasa depan, maka perlu diupayakan terus menerus perbaikan manajemen mutu dan pengembangan sistem informasi kesehatan di lingkungan di Dinas Kesehatan serta menerapkan perangkat teknologi yang semakin canggih.

 

Dalam Hal manajemen mutu pada Tahun 2016 Kabupaten Banjarnegara mendapat penghargaan di tingkat provinsi kategori puskesmas berprestasi kategori pedesaan yang diperoleh UPT Puskesmas Mandiraja 1 serta ditetapkannya 4 (Empat) UPT Puskesmas oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai UPT Puskesmas terakreditasi Madya yaitu UPT Puskesmas Banjarmangu 1, UPT Puskesmas Sigaluh 1, UPT Puskesmas Punggelan 1 dan UPT Puskesmas terakreditasi Dasar yaitu UPT Puskesmas Karangkobar. Dalam Bidang Sistem Informasi telah dicanangkannya SIMPUS dibeberapa UPT Puskesmas dan dalam tahap pengembangan bridging dengan P-Care BPJS Kesehatan, untuk menunjang kecepatan dan ketepatan sistem pencatatan, pelaporan dan evaluasi capaian kinerja.

Read 1268 times
admin2

Email This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan