13 Agustus 2020 Jam 08:33

KKN Tematik IPB Kembangkan Kopi Kapulaga

Sadar dengan potensi pertanian yang dimiliki Dusun Lintang Tiba Desa Cendana Kabupaten Banjarnegara, Kelompok KKN Tematik dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan produksi kopi kapulaga di dusun tersebut. Hal itu karena Dusun Lintang Tiba merupakan penghasil kopi robusta dan juga rempah kapulaga. Salah satu mahasiswa KKN Tematik IPB Sandika Yudha mengatakan, pengembangan kopi kapulaga ini sejalan dengan tema KKN selain pemberdayaan desa juga terkait Covid 19.

“Kopi kapulaga memiliki efek penghangat dan juga menjadikan tubuh lebih bugar karena kandungan alaminya. Ini tentu sejalan dengan tema KKN dari IPB sebagai salah satu upaya pencegahan covid 19” jelas Yudha.

Selain mengembangkan kopi kapulaga, mereka juga menginisiasi pembentukan Kelompok Wanita Tani (KWT) guna mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan rumah. Program ini diawali dengan sosialisasi pemanfaatan pekarangan, pembagian bibit, dan penanaman bibit sayur di pekarangan warga Dusun Lintang Tiba.

Dalam KKN Trmatik di Desa Cendana yang telah berlangsung dari tanggal 8 Juli 2020 itu, juga sudah dilaksanakan sosialisasi mengenai new normal dan edukasi covid 19 secara door to door ke rumah warga, pemanfaatan lahan pekarangan warga, dan pelatihan olahan produk pertanian khususnya untuk olahan pertanian salak yang dijadikan selai dan manisan salak.

Salah satu warga Desa Cendana Agus mengungkapkan, KKN Tematik IPB sangat bermanfaat karena ada beberapa hal baru yang dilaksanakan. “Selain edukasi covid 19, mereka juga bisa menggerakkan ibu-ibu membuat KWT, dan yang paling bagus tentu adanya kopi kapulaga. Semoga produk tersebut bisa mengangkat potensi desa kami. Saya pikir KKN Tematik semacam ini sangat bermanfaat bagi warga yang ditempati” jelas Agus.

Kepala Desa Cendana Tusro juga mengungkapkan hal senada. Menurutnya KKN Tematik semacam ini perlu dilanjutkan karena pesertanya berasal dari desa asal mahasiswa, sehingga mereka tahu persis kondisi dan potensi desanya. “Ini bagus karena para mahasiswa pulang kampung, menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki desanya sehingga seperti jaman Pak Bibit Waluyo dulu, bali ndeso mbangun deso. KKN seperti ini murah juga karena mahasiswa bisa makan minum di rumah sendiri” tandas Tusro.

Artikel Terkait…

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *