18 September 2020 Jam 08:03

Dua Komunitas Musik Pentas Kolaborasi

BANJARNEGARA – Dua komunitas seniman musik yakni Assosiasi Single Keyboard Banjarnegara (Assik Bara) dan Art Bara atau Insan Seni Banjarnegara, (17/9/2020) pentas bersama di Historia Café, Hotel Surya Yudha Banjarnegara.

Assik Bara merupakan komunitas player single keyboard, sementara Art Bara merupakan wadah bagi singer atau penyanyi dari kota Gilar-Gilar ini. Anggota Assik Bara mengiringi rekannya dari komunitas penyanyi Art Bara.

Uniknya, di panggung megah Historia Café itu, terpasang sebelas keyboard dari berbagai merek, dengan pemain dari berbagai genre atau aliran musik. Dua puluhan lagu pun mengalun dengan urutan yang rapih dan enak didengar.

Diawali lagu “Juwita Malam” yang dibawakan penyanyi muda Kamaratih Supabra, dengan iringan player senior Ignatius Hendro. Lagu karya komposer Ismail Marzuki ini terdengar syahdu dalam balutan swing jazz. Nuansa jazzy masih terasa ketika Anggita Rahma, singer ternama Kota Dawet Ayu mengusung Best Part diiringi musisi kawakan Hartono Jazzy, dengan memilih style unplugged yang renyah.

Berikutnya, tembang pop Indonesia serta nomor dangdut klasik silih berganti. Malam semakin hangat ketika genre dangdut kekinian giliran tampil. lagu “Ditinggal Pas Sayang-Sayange” yang lagi trending, dibawakan dengan manja oleh Purni Santika iringan Joni, juga pada nomor “Ninggal Tatu” yang melow duet Septi Permata dan player muda Bontot Arfanada, dengan sampler kendang yang yahud. Tampil juga pentolan Art Bara, Rini Geboy, yang sedang getol mempromosikan lagu “Banjarnegara Gilar-Gilar” buah cipta Ijaz Music.

Ketua Assikbara, Andy Magma, menyatakan puas dengan pentas malam itu. Baik tata panggung, sound system, dan atmosphere yang disediakan panitia.

“Panggung dan sound-nya sekarang lebih mantap, kami juga merasa semakin kompak dan teratur tampilnya,” kesannya.

Adapun Hartono Jazzy, salah seorang player senior, berharap agar acara tersebut bisa berlanjut.

“Saya senang, rekan-rekan pekerja seni masih bisa berbuat positif dan kreatif selama pandemi, semoga tetap semangat sehingga kita bisa bangkit lagi,” ujarnya.

Menurut Endro Setiyoko, senior assisten manager entertainment yang mebawahi di Historia Café, pentas tersebut guna memberikan wadah dan sarana berkreasi untuk komunitas-komunitas yang ada di Banjarnegara.

“Agar komunitas punya tempat yang representatif untuk pentas dan sharing. Juga sebagai pemanasan setelah sekian lama mendekam akibat pandemi Covid-19,” kata Endro.
Ia menambahkan, acara ini dilakukan dengan protokol kesehatan yang berlaku. Antara lain pengisi acara dan pengunjung wajib mengenakan masker.

“Alhamdulillah, semuga berjalan dalam protokol kesehatan. Namun begitu, tidak mengurangi antusiasme. Baik dari artis maupun pengunjung, semua sangat terhibur dengan pentas ini,” imbuhnya.
Historia Café di Hotel Surya Yudha Banjarnegara, menjadi barometer pementasan musik bermutu di Kota Dawet Ayu dan sekitarnya. Sebelum pandemi, seluruh genre musik diberi wadah untuk tampil, seperti Top 40, jazzy, pop/ rock alternative, golden memories, hingga Koes Plus Mania. Kini di masa transisi menuju new normal, Historia Café kembali berbenah dengan mempercantik panggung, alat musik dan penataan sound system. ***(mjp).

Artikel Terkait…

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eryaman escort