Profil

Sejarah

Penetapan hari jadi Banjarnegara yang baru, yakni tanggal 26 Februari telah melewati proses panjang penelitian sejarah oleh ahli sejarah dan tim yang berkompeten.

Salah satu sumbernya adalah Buku “Babad Kalibening” (bukan Kalibening Kecamatan di Banjarnegara) yang menjadi salah satu rujukan sejarah Kadipaten Wirasaba (cikal bakal wilayah Banyumas Raya). Serta diperkuat dengan catatan sejarah yang menuliskan tentang kepulangan Raden Jaka Kaiman (alias “Adipati Mrapat”, menantu Adipati Wirasaba) disertai gandhek atau pengawal dari Kesultanan Pajang,

Disebutkan, bahwa hari jadi Banjarnegara adalah tanggal 26 Februari 1571 atau bertepatan dengan 1 syawal 978 Hijriah.
Hal tersebut adalah saat Jaka Kaiman secara ksatria berani menghadiri undangan Sultan Pajang pasca wafatnya Adipati Wirasaba yang terjadi akibat kesalahanyang dilakukan oleh pihak Kesultanan. Sedangkan, tidak ada satu orang pun putra Adipati Wirasaba yang mau menghadiri undangan Sultan tersebut, karena khawatir akan celaka atau kembali diperdaya seperti ayahanda mereka.

Ternyata, undangan tersebut bukan untuk menghukum, melainkan memberi penghargaan kepada putra-putra Bupati Wirasaba atas kesalahan yang telah dilakukan Sultang Pajang.

Usai mendapat kanugrahan atau penghargaan dari Sultan Pajang sebagai pemegang tampuk kekuasaan di daerah Wirasaba, Jaka Kaiman menyampaikan gagasan untuk membagi kekuasaan Kadipaten Wirasaba yang sangat luas menjadi 4 wilayah untuknya dan saudara saudara iparnya.
Momen tersebut kemudian mendapat julukan “Adipati Mrapat” (Jawa : Mara Papat atau membagi empat). Wirasaba kemudian dibagi 4 wilayah yaitu : Wirasaba sendiri, Merden (Pamerden – saat ini masuk wilayah Banjarnegara), Banjar Petambakan (sekarang Banjarnegara), dan Kejawar (Banyumas).

Wilayah Kejawar yang ada di Banyumas dijabat Jaka Kaiman Sendiri, sementara 3 kadipaten lainnya dipegang oleh saudara iparnya.
Dari empat kadipaten itu,  Banjar Petambakan pada kekuasaan berikutnya memunculkan tokoh bupati heroik yakni Mangunyudha atau kondang sebagai “Sedaloji” yang gugur di loji kompeni untuk membela tanah air pada Geger Pracino di Keraton Surakarta.

Berpegang dari peristiwa itu (Dibaginya Wirasaba jadi 4 wilayah oleh Adipati Mrapat), hari jadi Banjarnegara tidak jauh beda dengan Banyumas. Banyumas 22 Februari, empat hari kemudian 26
Februari, diyakini sebagai Hari Jadi Banjarnegara. Tanggal ini membawa semangat nasionalisme dan kebanggaan sebagai warga Banjarnegara, yang ksatria, cinta damai namun anti penjajahan.

Dalam catatan sejarah, beberapa orang yang sudah pernah menjadi pemimpin di wilayah Banjarnegara dimulai dari R.Tumenggung Dipoyuda yang menjabat sebagai Bupati sampai tahun 1846, kemudian diganti R. Adipati Dipodiningkrat, tahun 1878 pensiun. Penggantinya diambil dari luar Kabupaten Banjarnegara. Gubermen (pemerintahan) mengangkat Mas Ngabehi Atmodipuro, patih Kabupaten Purworejo (Bangelan) I Gung Kalopaking di panjer (Kebumen) sebagai penggantinya dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Jayanegara I. Beliau mendapat ganjaran pangkat “Adipati” dan tanda kehormatan “Bintang Mas”
Tahun 1896 beliau wafat diganti putranya Raden Mas Jayamisena, Wedana distrik Singomerto (Banjarnegara) dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung JayanegaraII.

Dari pemerintahan Belanda Raden Tumenggung Jayanegara II mendapat anugrah pangkat “Adipati Aria” Payung emas Bintang emas besar, Officer Oranye. Pada tahun 1927 beliau berhenti, pensiun. Penggantinya putra beliau Raden Sumitro Kolopaking Purbonegoro, yang juga mendapat anugrah sebutan Tumenggung Aria, beliau keturunan kanjeng R. Adipati Dipadingrat, berarti kabupaten kembali kepada keturunan para penguasa terdahulu. Diantara para Bupati Banjarnegara, Arya Sumitro Kolopaking yang menghayati 3 jaman, yaitu jaman Hindia Belanda, Jepang dan RI, dan menghayati serta menangani langsung Gelora Revolusi Nasional (1945 – 1949).

Ia mengalami sebutan “Gusti Kanjeng Bupati“, lalu “Banjarnegara Ken Cho” dan berakhir “Bapak Bupati“. Selanjutnya yang menjadi Bupati setelah Raden Aria Sumitro Kolopaking Purbonegoro ialah :

1. R. Sumitro, Tahun 1949 – 1959.

2. R. Mas Soedjirno, Tahun 1960 – 1967.

3. R. Soedibjo, Tahun 1967 – 1973.

4. Drs. Soewadji, Tahun 1973 – 1980.

5. Drs.H. Winarno Surya Adisubrata, Tahun 1980 – 1986.

6. H. Endro Soewarjo, Tahun 1986 – 1991.

7. Drs.H.Nurachmad, Tahun 1991 – 1996.

8. Drs.H.Nurachmad, Tahun 1996 – 2001.

9. Drs.Ir. Djasri, MM, MT dan Wabup : Drs. Hadi Supeno, Msi, Tahun 2001-2006

10. Drs.Ir. Djasri, MM, MT dan Wabup : Drs. Soehardjo. MM, Tahun 2006-2011

11. H. Sutedjo Slamet Utomo, SH, M.Hum dan Wabup : Drs. Hadi Supeno. M.Si, Tahun 2011-2016

12. Budhi Sarwono dan Wabup : H. Syamsudin, S.Pd., M.Pd, Tahun 2017-2022

Lambang

Tanggal 17 Agustus 1967 merupakan tanggal bersejarah bagi rakyat Banjarnegara yang ditandai pembukaan selubung Lambang Daerah Kabupaten Banjarnegara oleh Bupati Banjarnegara ke-7, M.Soedjirno, di ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong (DPRDGR), setelah disyahkan DPRDGR Kabupaten Banjarnegara 11 Agustus 1967.

LAMBANG Daerah itu “diukir” oleh panitia khusus DPRDGR, ditambah gambar dari pemenang kedua dan pemenang harapan “Sayembara Lambang“. terdiri dari: R. soenardi (Ketua merangkap anggota), Moh. Kosim (Wakil ketua merangkap anggota),Soetarno (anggota), dan Soedijono Tjokrosapoetra (anggota), dan Marchaban Mangunhardjo (anggota). Panitia khusus tersebut dibentuk berdasarkan Surat Keputusan DPRDGR Banjarnegara No. 145/17/DPRDGR-66 tertanggal 9 Desember 1966.

Arti Lambang

BENTUK, ISI DAN WARNA

 

Pasal(1) Bentuk pokok dari pada Lambang Daerah Kabupaten Banjarnegara merupakan sebuah perisai yang bergayakan (ngestijleerd) berwarna dasar hijau dengan pelisir berwarna kuning emas.
Pasal(2) Pada perisai tersebut terlukis 12 macam benda alam / bangunan yang tata letaknya tersusun secara artistik terdiri dari :
  a) Sebuah segi lima yang seperempat bagian kanan dan kiri bawah berwarna merah, sedang seperempat bagian kiri atas dan kanan bawah berwarna putih ;
  b) Setangkai padi berisi 17 butir berwarna kuning emas disebelah kanan segi lima ;
  c) Serangkai 8 buah kapas yang terbuka penuh berwarna putih disebelah kiri segi lima ;
  d) Sebuah bintang sudut lima berwarna kuning emas ;
  e) Sebatang pohon beringin : daunnya berwarna hijau serta berakar gantung sebanyak 8 buah ; batangnya dengan 5 buah akar berwarna coklat muda ;
  f) Sebuah keris tak berukel, berwarna hitam ;
  g) Sederetan pegunungan berwarna biru muda ;
  h) Sederetan daerah hutan berwarna hijau ;
  i) Syphon ( suling saluran air ) berwarna hitam dengan 6 buah cincin yang membagi suling saluran air ini atas 7 buah bagian / ruas ;
  j) ?Bidang tanah, diatas mana pohon beringin berdiri : disebelah atas Syiphon berwarna hijau ; disebelah bawah Syiphon merupakan petak – petak / tingkat – tingkat berwarna coklat ;
  k) Air sungai berwarna biru muda dengan 3 jalur gelombangnya berwarna putih ;
  l) Sehelai selendang dibawah segi lima berwarna kuning emas, diatas dimana tercantum nama “BANJARNEGARA” dengan tulisan hitam ;


MAKNA, BENTUK, ISI DAN WARNA LAMBANG ( Pasal(3) )

(1) Perisai dan keris melambangkan jiwa kepahlawanan dan kesatriaan rakyat Banjarnegara ;
(2)

Segi lima yang berdiri tegak, melambangkan watak kepribadian serta jiwa persatuan dan kesatuan rakyat Banjarnegarayang berlandaskan Pancasila ;a. Bintang melambangkan kepercayaan beragama yang kuat ;

b. Pohon beringin melambangkan tradisi yang baik dari Pemerintahan rakyat Banjarnegara ;

(4) Syphon, petak-petak tanah (tanah persawahan yang bertingkat-tingkat) melambangkan daya cipta yang besar dengan nilai-nilai kebudayaan khas dari rakyat Banjarnegara ;
(5) Pegunungan dengan hutan-hutannya melambangkan keadaan alam daerah Banjarnegara dengan bermacam-macam kekayaannya sebagai sumber kehidupan rakyat ;
(6) Air sungai dengan 3 jalur gelombang melambangkan sungai serayu yang mengalir di sepanjang daerah Kabupaten Banjarnegara dengan 3 macam peggunaan airnya, yaitu untuk PERTANIAN, PERIKANAN, dan INDUSTRI;
(7) Bidang tanah tempat berdiri pohon beringin yang berwarna hijau melambangkan kesuburan tanah pada umumnya di daerah Banjarnegara ;
(8) Bidang-bidang berwarna merah dan putih di dalam segi lima menandakan daerah Kabupaten Banjarnegara sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ;
(9)

Warna hijau dari pada perisai yang dibatasi oleh pelisir kuning, dimana terbentang :a. Selendang dengan tulisan “BANJARNEGARA”

b. Padi dan Kapas : Mengkiaskan hari depan yang gemilang bagi rakyat Banjarnegara menuju masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa.

 

Arti Lambang

SESANTI / SURYA SENGKALA

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Banjarnegara Nomor 11 Tahun 1988 tentang Perubahan Pertama Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Tentang Lambang Daerah.
Sesanti tersebut berbunyi :

“WANI MEMETRI RAHAYUNING PRAJA”

Yang mempunyai makna : Segenap Warga Daerah Banjarnegara bertekad bulat melestarikan kemakmuran menuju kebahagiaan lahir bathin bagi rakyat dan pemerintahannya.

 

Sumber : HUMAS SETDA Banjarnegara

1xbet 1xbet bahisno 1 bahsegel slot oyna ecopayz güvenilir bahis siteleri canli bahis siteleri iddaa marsbahis marsbahis marsbahis marsbahis marsbahis marsbahis marsbahis marsbahis marsbahis marsbahis marsbahis marsbahis restbet canlı skor süperbahis mobilbahis
1xbet asyabahis betebet betgaranti betlike betvole ligobet pinbahis polobet verabet
betmatik
bahissenin tipobet
betvakti elexusbet gorabet maksibet maltcasino milosbet quennbet setrabet atlantisbahis artoscasino dumanbet elitbahis fashionbet favoribahis hiltonbet liderbahis oslobet romabet vegabet yorkbet kalebet bet10bet bahislion bahislion bahislion betpark dakikbet dumanbet fenomenbet holiganbet kalebet kolaybet lordbahis olabahis onwin piabet pusulabet süper10bet vipbahis supertotobet mariobet
bahigo bahis siteleri güvenilir bahis siteleri kaçak bahis siteleri betist 1xbet asyabahis betebet betgaranti betlike betvole ligobet pinbahis polobet verabet