Miswan, Atlit Disabilitas Banjarnegara Peraih Medali Emas Perpanas 2016

Namanya Miswan. Nama panggilannya juga Miswan. Pendek saja.
Saat awal berjumpa dengannya, Miswan tengah mengikuti sosialisasi Pilkada bagi para penyandang disabilitas, beberapa waktu lalu di Sasana Bhakti Praja, Setda. Sekilas penampilannya sama seperti orang normal lainnya. Bahkan dia tampak atletis sekali dengan pakaian casual jaket T Shirt dan Trainingnya. Tubuhnya tegap dan berotot. Membuat gagah penampilannya. Apalagi di jaket sport biru miliknya tertulis kontingen Jateng. Mhm….

Untuk sejenak saya sempat mencari cari, di bagian apa yang membuat anak muda ini masuk kategori disabilitas. Oo…rupanya Miswan tidak memiliki dua tangan yang sempurna. Kedua tangannya diamputasi sebatas siku. Meski begitu, dari kedua tangannya ini anak muda kelahiran 01 Mei 1993 mampu melakukan banyak hal seperti makan, minum, main hp, dan aktivitas orang normal lainnya. Meski ada beberapa aktivitas yang memang tidak bisa dia lakukan secara sempurna dengan kondisi seperti ini.
Dari kedua tangan yang tidak lengkap ini pula putra asli Banjarnegara warga Dusun Banjaran, desa Cendana, Kecamatan Banjarnegara meraih emas pada kejuaraan nasional Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV/2016 yang diselenggarakan di Stadion Siliwangi Kota Bandung, 15 Oktober 2016. Dia meraih emas untuk kategori 50 m gaya dada S7 dan 100 m gaya bebas S7. Kode S7 ini menunjukan klasifikasi cacat fisiknya.
“Persembahan untuk Jawa Tengah, kota Solo tempat saya bekerja, dan kota kelahiran Banjarnegara” begitu katanya.
Cacat pada kedua tangannya itu, bermula pada lima tahun lalu. Dirinya saat itu tengah bekerja membangun bangunan pondok pesantren di Doglek, Tlagawera, Pagedongan. Pondok ini adalah tempat dia belajar agama. Naas saat mengangkat adonan bangunan menggunakan besi ke lantai atas, besi yang dipegangnya menyentuh kabel listrik. Akibatnya kedua tangannya terbakar parah. Advice dokter final, kedua tangannya harus dipotong sebatas luka bakarnya.
“Saya biasa saja Mas. Meski tahu kedua tangan saya akan dipotong. Saya dah terima ini sebagai takdir. Tidak apa-apalah. Saya yakin masih ada kesempatan lain” katanya.
Tekadnya itu rupanya, bukan sekedar pelipur lara. Dia sungguh-sungguh untuk itu. Cacat itu tidak menghalanginya untuk berkarya. Meski dia memulai dari awal yang tidak jelas. Karena pekerjaannya serabutan. Apa yang ditawarkan orang diterimanya.
“Saat itu saya belum memikirkan hasilnya. Diberi berapa saya mau. Saya tidak takut tidak makan. Prinsip saya kalau kita obah pasti mamah” katanya.
Meski serabutan, Miswan tidak ngawur. Dia memilih pekerjaan serabutan yang mengajarinya keterampilan. Karena itu, saat mendapat tawaran untuk bekerja di penjahit Arjuna Solo dia bersemangat sekali menerimanya. Satu karena dia memang ingin mencari pengalaman baru di rantau, dan kedua, karena pekerjaan barunya adalah menjahit. Kelak bila mahir, dia dapat menghidupi dirinya sendiri. Dan hebatnya lagi, penjahit Arjuna Solo ini merupakan penjahit langganan keluarga Presiden RI Jokowi.
“Tahunya penjahit Arjuna langganan keluarga Jokowi ya baru saat di sana. Saya tidak tahu apakah selama di sana pernah menjahitkan atau belum. Kebetulan hubungan keluarga Pak Jokowi dengan bos saya langsung” katanya.
Dua tahun bekerja di sana. Pria muda yang mengaku hoby olah raga ini tertarik mengikuti les renang.
“Waktu itu saya lagi suka renang saja. Tidak ada pertimbangan lain mengapa memilih renang dan bukan jenis olah raga lainnya” katanya.
Baru enam bulan berlatih, ada seleksi olahragawan untuk bertanding di Peparnas 2016 di Bandung. Pelatih memasukannya saya di proses seleksi. Saya terpilih untuk mewakili daerah tempat saya kerja di Cabang renang di nomor 50 meter gaya dada klasifikasi S7 dan gaya bebas 100 m S7.
“Alhamdulillah saya berhasil mengemban tugas yang diberikan pelatih. Dua medali emas saya menangkan dengan mengalahkan saingan terkuat saya dari Kaltim dan Kalbar” katanya.
Perpanas 2016 merupakan Pekan Olah Raga Nasional bagi para penyandang disabilitas. Di Peparnass 2016 mempertandingkan 13 cabang olahraga yakni atletik, angkat besi, goal ball, renang, panahan, boli, sepak bola, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, boling, judo dan catur.
Putra ketiga dari almarhum Maryono dan Ibu Manisem (57 th) ini mengaku tidak mempunyai target muluk muluk di karirnya. Dia hanya ingin membawa nama harum Banjarnegara, daerah asalnya.
“Saya hanya ingin bawa nama harum Banjarnegara” pungkasnya. (**--eko br)

новинки кинематографа
Машинная вышивка, программа для вышивания, Разработка макета в вышивальной программе, Авторский дизайн