Sat08242019

Last updateFri, 23 Aug 2019 7am

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Berita Pendidikan Dindikpora Genjot Pendidikan Non Formal dan Pemberantasan Buta Aksara

Dindikpora Genjot Pendidikan Non Formal dan Pemberantasan Buta Aksara

BANJARNEGARA - Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa memandang status sosial dan jenis kelamin. Namun, banyak di antara anggota masyarakat yang mengalami kendala untuk menempuh pendidika formal reguler, misalkan kendala biaya, waktu, usia, dan lain sebagainya. Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat yang mengalami kendala untuk menempuh pendidikan formal reguler tersebut, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Banjarnegara di tahun 2010 ini mengembangkan Program Pendidikan Non Formal yang merupakan tugas pemerintah untuk memfasilitasinya.

Sampai saat ini, menurut Kepala Dindikpora, Wiwit Winarso, sudah dilaksanakan program pendidikan non formal dengan anggaran Rp.60 juta dari APBD Kabupaten untuk kesetaraan pendidikan dalam bentuk Kejar Paket A, B, C, dimana Kejar Paket A untuk pendidikan setara dengan Sekolah Dasar/MI, Kejar Paket B untuk pendidikan setara SMP/MTs, dan Kejar Paket C setara dengan SMA/MA. Sedangkan untuk pemberantasan buta huruf di Kabupaten Banjarnegara sudah dilaksanakan program Keaksaraan Fungsional. ”Bermacam kendala dihadapi dalam pelaksanaan program ini, antara lain, kondisi geografis, kurangnya kesadaran belajar, terbatasnya sarana dan pra sarana. Namun diusahakan jalan keluar, antara lain dengan menyediakan pendidikan di tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat, seperti sekolah-sekolah, rumah penduduk, atau pun di aula pengajian. Untuk mengatasi rendahnya kesadaran belajar, diusahakan dengan pemberian pengertian akan pentingnya pendidikan dan juga disiapkan metode pemberian materi yang menarik, supaya tumbuh inisiatif dari murid (warga belajar) untuk datang sendiri. Dan, karena keterbatasan sarana dan pra sarana, semua potensi yang dimiliki dioptimalkan dan dimanfaatkan seefektif mungkin,” jelasnya.

Sebenarnya program tadi bukan merupakan program baru, melainkan kelanjutan dari program di tahun sebelumnya. Namun Wiwit mengungkapkan keunggulan program tahun ini adalah dengan ditambahkannya materi vokasi atau keterampilan dalam Kejar Paket A, B, C dan Keaksaraan Fungsional. Dalam Kejar Paket A,B, dan C, materi vokasi (ketrampilan) dimasukkan dalam muatan lokal, jadi disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing. Sedangkan untuk Keaksaraan Fungsional, dibentuk Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) yang merupakan kelanjutan dari Keaksaraan Fungsional dasar dengan pembentukan warga belajar ke dalam kelompok-kelompok yang diampu lebih lanjut dengan menambahkan materi ketrampilan. ”Dengan cara ini, diharapkan mereka yang sudah belajar di sini bisa lulus dengan mempunyai skill (keahlian) yang lebih dari sebelumnya, sehingga lebih bisa mengusahakan kehidupan yang lebih baik,” tambahnya.

Hasil yang ingin dicapai dari pelaksanaan program ini secara umum adalah agar ada peningkatan mutu sumber daya manusia dan tenaga kerja. Sedangkan targetnya adalah menghasilkan output berupa masyarakat dengan jenjang pendidikan tertentu sesuai dengan keinginan dan ketika lulus mereka juga mempunyai ketrampilan lebih. Manfaat untuk masyarakat adalah yang bersangkutan bisa melaksanakan tujuan hidupnya dengan lebih baik sesuai dengan kebutuhan. Jika mereka mempunyai sertifikat dan ijazah, mereka bisa meningkatkan daya saing dengan pencari kerja lain yang melalui pendidikan formal reguler atau pun bisa melanjutkan pendidikan sampai dengan jenjang yang diinginkan.

 

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan