Fri05242019

Last updateThu, 23 May 2019 2pm

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Berita Sosial Budaya Ganjar Pranowo, Lurah Anyare Wong Jawa Tengah

Ganjar Pranowo, Lurah Anyare Wong Jawa Tengah

Ganjar Pranowo, nama ini tentu tidak asing lagi di telinga kita saat ini. Ya, gubernur Jawa Tengah terpilih atau yang sering disebut-sebut sebagai lurah anyare wong Jateng ini kini menjadi sosok yang ditunggu-tunggu aksi dan gebrakannnya. Lalu, siapakah sebenarnya sosok Ganjar Prawono ini? Derap Serayu kali ini akan mengajak pembaca, khususnya wong Banjarnegara untuk mengenal lebih dekat gubernur baru kita ini.

Sekilas Biografi Ganjar
    Lahir di lereng Gunung Lawu Karanganyar, 28 Oktober 1968, Ganjar Prawono sudah ditempa disiplin sejak kecil. Saat masih SD, anak kelima pasangan S. Parmuji dan Sri Suparni ini harus bangun dini hari untuk menjalankan sholat, belajar, sekaligus menyemir sepatu “boots” milik ayahnya yang seorang polisi.
    `Ganjar dari SD sudah punya jiwa kepemimpinan. Dia selalu terpilih menjadi ketua kelas. Jiwa kepemimpinannya sudah terlihat sejak kecil. Kalau istirahat sering memimpin teman-temannya bermain, dan mengajak kembali ke kelas, jika sudah habis waktunya. “Herannya, teman-teman Ganjar itu juga nurut semua sama Ganjar,” kenang Suparmi, ibunya.
    Menurut Suparmi, saat masih duduk di bangku SD, pemilik nomer induk 2003 tersebut sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Tak heran, bila ulangan bahasa Indonesia, Ganjar selalu mendapatkan nilai tertinggi dibandingkan teman-teman lainnya.
    “Ganjar itu paling suka Bahasa Indonesia. Dulu, pelajaran sekolah tidak sebanyak seperti saat ini. Ganjar paling senang bahasa, kalau sudah jam pelajaran itu, Ganjar paling serius mendengarkannya,” tutur ibunya.
    Disiplin dan kerja keras yang ditanamkan orang tuanya sejak kecil itu telah membuat Ganjar menjadi sosok yang mandiri. Tatkala pindah ke Kutoarjo mengikuti tempat tugas ayahnya, Ganjar yang masih SMP bahkan sempat berjualan bensin dipinggir jalan. Saat bersekolah di SMA BOPKRI 1 Yogyakarta, kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, Ganjar yang ketika itu sudah hidup sendiri di “kos-kosan” tak pernah mengeluhkan kiriman uang saku yang pas-pasan. Keterbatasan ekonomi orang tuanya justru telah mendorong semangat dia untuk melakukan kerja sambilan.
    Ganjar Prawono remaja juga dikenal sangat pendiam dan nrima (penurut red). Laku prihatin karena kerterbatasan ekonomi keluarga dengan berjualan bensin eceran telah menempanya menjadi politikus tangguh sekaligus mengantarkannya menjadi “lurahe wong Jateng”.
    Tak heran, ketika merambah panggung politik yang dimulai sejak ia bergabung dengan PDI tahun 1992, suami dari Siti Atiqoh Supriyanti itu tidak saja peduli dengan rakyat kecil, tapi selalu mengedepankan politik yang bermartabat.
    “Kita harus menjalankan politik bermartabat, politik yang bias dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, bangsa dan negara. Bukan politik bermartabak!”, kata Ganjar saat berkampanye beberapa waktu lalu sebelum melepas jabatannya sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR-RI.
    Kesuksesan pasangan Ganjar Prawono yang menang telak dalam Pilgub Jateng 2013 seperti mengingatkan memori puluhan tahun silam yang terus di kenang oleh Hj Suparmi, ibu Ganjar.
    Dia mengarungi masa-masa sulit begitu suaminya, S Pamuji pensiun dari kedinasannya di Polri pada akhir dekede 1980-an. “Bapak pensiun saat Ganjar mau lulus SMA Bopkri Yogyakarta. Saat itu kehidupan ekonomi keluarga kami pas pasan. Kami sedang butuh uang banyak untuk kebutuhan sekolah anak-anak. Ganjar paham betul dan saya tahu dia sangat resah kalau sampai tidak bisa melanjutkan kuliah karena kakaknya persis (Prasetyawati Tyas Purwati) memang terpaksa tidak bisa kuliah karena keterbatasan biaya,” ujar Suparmi yang sampai saat ini masih berdiam di Kampung Aglik Utara RT.1/RW.8, Kelurahan Semawung Daleman, Kecamatan Kutoarjo, Purworejo.
    Ibu enem anak ini memaknai kesuksesan Ganjar merebut kursi gubernur tidak lepas dari buah perjuangannya yang rela menjalani “tirakat” (prihatin red) sejak kecil serta doa dari orang tua dan saudara-saudaranya.
    Setelah Pamudji pensiun, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, Suparmi membuka warung kelontong di dekat gang masuk ke rumahnya. Warung tersebut juga menyediakan bensin eceran dan Ganjar itu serius untuk mengelola barang dagangan yang satu ini.
    Pagi setelah subuh, Ganjar sering kulakan bensin ke SPBU Andong kemudian ditakari. “Jadi sejak kecil memeng Ganjar itu hidupnya prihatin,” katanya.
    Diceritakan Suparmi, tahun 1987 saat Ganjar lulus SMA, sekitar jam 05.00 setelah membuka warung dia lari kerumah dan langsung sujud di kaki ibunya. “Dia bilang diterima di Fakultas Hukum UGM sesuai yang dikehendaki. Saya ingat betul dia memohon agar bisa kuliah bahkan rela tidak minta apa-apa, termasuk sepeda motor.
    Katanya yang penting bisa kuliah. “Saya jadi tidak tega, meskipun kondisi ekonomi sedang sulit ya bagaimanapun nantinya saya mengiyakan,” paparnya.
    Benar saja, selama menjalani kuliah seringkali Ganjar meminta dispensasi pembayaran kuliah dengan bukti surat pernyataan bermaterai dari orang tuanya. “Saya sering tanda tangan surat pernyataan dispensasi uang kuliah. Tapi Alhamdulillah akhirnya dia lulus juga,” katanya.

Harapan Orang-orang Terdekat Ganjar
    Diceritakan Suparmi, diantara enem orang anaknya, Ganjar memeng yang tergolong pendiam sejak kecil. Politikus PDIP ini pun saat kecil tidak banyak bicara dan cenderung nrima.
    “Diberi makanan apa saja ya tidak pernah protes. Tapi bapaknya sayang sekali sama dia, karena kalau nyemirkan sepatu bapaknya hasilnya paling kinclong,” kenangnya.
    Hal yang sama diungkapkan kakak Ganjar, Prasetyawati. Sejak masih SD adiknya itu memeng tergolong anak pendiam. “Sejak kecil saya melihat Ganjar sebagai pribadi yang berprinsip. Selalu dia bilang kalau jadi orang jangan kagetan, apa pun kondisi atau keadaan yang dialami. Jadi saya yakin meskipun dia jadi gubernur tidak akan berubah karakter itu,” katanya.
    Keluarga Ganjar berharap jika menjadi gubernur nantinya agar tidak mengubah sikap menjadi pribadi yang elitis. Ganjar diminta mendengarkan aspirasi rakyat dan bekerja dengan baik. “Pesan saya kerja yang ati-ati, tidak usah neko-neko. Jangan mengejar uang karena bisa menjuruskan ke neraka dunia maupun akhirat,” ujar Suparmi.
    Kehidupan masa kecil Ganjar juga diceritakan teman satu kampungnya, Kelik Sudiyono (46). Dia melihat tidak ada yang menonjol saat SMP. Tapi memang hobinya berorganisasi di PMR, Pramuka, dan OSIS. “Kalau di Pramuka, saya sering jadi anak buahnya,” katanya.
    Kelik yang saat SMP tiap hari berangkat sekolah bersama Ganjar menyebutkan, Ganjar juga tidak tergolong sebagai bintang di sekolah. Bakat di dunia politik juga belum terlihat saat itu, karena Ganjar menjadi pribadi yang pendiam. “Dia termasuk anak rumahan,” ujar laki-laki yang ikut menjadi relawan Ganjar Heru di Kutoarjo ini.
    Meskipun demikian, Kelik mengungkapkan saat SMP Ganjar memang sangat menyukai pelajaran sejarah. Dia juga sering bercerita bahwa dia senang dengan buku-buku Soekarno. “Dulu habis pulang sekolah kami sering main ke tempat teman untuk menembak burung atau mencari jangkrik,” katanya.
    Kelik melihat perbedaaan Ganjar begitu kuliah di Yogyakarta. Setiap kali pulang, Ganjar cenderung serius setiap kali berbincang. “Kalau cerita sering dikaitkan dengan pelajaran hukum yang diterimanya saat kuliah. Saya jadi kaget dan mulai tidak nyambung. Sejak saat itulah mulai jarang ketemu,” katanya. Dia mengaku tidak tahu kalau ternyata Ganjar sudah menjadi anggota DPR RI sejak 2004. Dia baru tahu setelah melihat acara secara live Rapat Pansus Century di salah satu stasiun televisi.
    “Pengalaman hidup, bekal pendidikan formal dan keikutsertaannya dalam organisasi politik selama ini saya yakin akan menjadi modal tersendiri bagi perubahan Jawa Tengah nantinya,” katanya.

Kunci Sukses Kemenangan Ganjar
    Gubernur Jawa Tengah terpilih 2013-2018, Ganjar Pranowo, membeberkan rahasia dalam memenangi Pilgub Jateng, pada Minggu, 26 Mei 2013 lalu. Dalam kunjungannya ke Banjarnegara pada acara Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Aula Sasana Bhakti Praja, Setda Kabupaten Banjarnegara (29/7), ia membeberkan bahwa kunci kemenangannya adalah melakukan survei masalah dan kebutuhan di Jawa Tengah.
Kepada para pemuda Banjarnegara yang tergabung dalam KNPI, pada acara tersebut ia memaparkan bahwa dari survei yang dilakukan timnya, terdapat tiga permasalahan krusial yang di Jawa Tengah, antara lain, kemiskinan, pengangguran, dan infrastruktur.
    “Banyak penduduk Jateng menulis jenis pekerjaan di KTP-nya dengan pilihan swasta, yang artinya bekerja apa saja selain di kantor swasta dan supaya tidak kelihatan menganggur,” kata Ganjar.
    Selain itu, Ganjar juga mengaku menerapkan strategi “blusukan” agar lebih mudah menyerap aspirasi masyarakat. Blusukan dirasa tepat apalagi partai yang mengusungnya tidak menggunakan konsep koalisi.
    “Banyak wong cilik mengatakan perlu pejabat yang memiliki rasa mengabdi dengan ikhlas sehingga ketika memimpin rakyat di daerah lebih mudah memahami karakteristik kebutuhan masyarakatnya,” ungkapnya.
    Lebih lanjut Ganjar menginginkan pendidikan budi pekerti supaya masyarakat lebih santun dan berbudaya. Selain itu untuk meningkatkan rasa nasionalisme, perlu penerapan konsep Trisakti dari Bung Karno di kalangan muda.
    “Untuk tim pemenang Pilgub Jateng ini perlu dimaknai dengan pengejawantahan konsep Trisakti dari Bung Karno sehingga kalangan muda dapat lebih berkembang dan menghargai sejarahnya,” tegasnya.
    Dari hasil survey dan blusukan itu, maka Gubrnur Jateng Ganjar Pranowo, SH, menetapkan prioritas program pembangunan unggulannya, antara lain: Menyediakan modal usaha rakyat; Kartu Pupuk Bersubsidi (Kartu Pupuk Jateng); Kartu Solar Bersubsidi (Kartu Solar Jateng); Memberikan jaminan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat, dengan mengutamakan warga berpenghasilan rendah dan lansia bekerjasama dengan PT.ASKES (Kartu Sehat Jateng); Membangun dan memperbaiki jalan; Mboten Korupsi, Mboten Ngpusi; Gerakan Ijo Royo-Royo; dan Menumbuhkembangkan seni budaya lokal.
Sisi Lain dari Ganjar
    Sosok Ganjar Pranowo bukan hanya visioner, simpatik, merakyat, namun juga mau turun langsung dengan aksi nyata atas kencintaannya pada alam dengan mencopoti atribut balihonya sendiri yang dianggapnya mengganggu pemandangan, salah tempat, menyakiti pohon dan lingkungan dimana kita menjadi habitatnya sebagai satu kesatuan dengan alam. Inilah salah satu itikad Ganjar Pranowo tentang menjaga konservasi lingkungan.
    Buktinya, saat melakukan perjalanan dari Solo menuju Kendal, hari Kamis 25 April 2013, Ganjar Pranowo Anggota DPR yang juga menjadi kandidat Gubernur Jawa Tengah dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, berhenti sejenak dan kemudian melakukan aksi mencopoti atribut kampanyenya yang bergambar dirinya dan pak Heru Sudjatmoko yang dipasang serampangan.
    Ganjar tidak suka atribut kampanye yang bergambar dirinya dipasang serampangan, sehingga merusak lingkungan. “Memasang atribut kampanye di pohon itu tidak dapat dibenarkan. Apalagi dipaku. Itu merusak lingkungan,” katanya dengan tegas.
    Aksi Ganjar Pranowo yang dilakukan di sepanjang jalan Simpongan Raya, dekat Kelenteng Sampokong tersebut, dilakukan bersama kader-kader PDIP yang besertanya. Dengan pakaian khas-nya baju putih dan jeans, Ganjar menggunakan tang dan linggis untuk menertibkan  baliho yang dianggapnya salah pasang dan merusak pohon.
    Sosok Ganjar Pranowo juga pencinta batik yang dianggapnya akar dari tradisi leluhur. Di sisi yang lain, dia juga membuka diri terhadap dinamika dunia luar melalui music rock. Kombinasi dua hobi itu membawa dia kepada keseimbangan jiwa.
    Kaus hitam yang dikenakan Ganjar Pranowo, yang kala itu Wakil Ketua Komisi II DPR, terlihat mencolok dengan gambar wajah empat musisi besar, yakni Bob Marley, Kurt Kobain, John Lennon, dan Jim Morrison.”They all Met Together In Heaven”, begitu bagian belakang kaus yang dikenakannya senada dengan istri dan anaknya saat itu. Celana jens semakin menambah gaul penampilannya. Ganjar memang penggila musik rock klasik dan reggae.
    Puluhan keeping CD lawas, mulai Deep Purple, Gun N’n Roses, Queen, Led Zeppelin, Sepultura, Metallica, AC/DC, Pink Floyd, Dream Theatre, hingga Europe, masih rapi disimpan politikus muda PDIP ini.
    “Dulu, waktu SMP, SMA pada tahun 80-an, memang lagi trend musik rock ini. Seperti layaknya anak muda, saya juga mengikuti perkembangan musik,” kata Ganjar.
Kontras dengan gayanya yang “nge-rock” itu, Ganjar sebenarnya seorang penggemar baju batik sejati. Sehari-hari ia terlihat sering mengenakan batik. Terutama saat menjalani aktivitasnya sebagai anggota dewan, baik di gedung DPR maupun tempat lain.”Koleksi baju batik iki sampai tiga lemari lho. Sampai mobil saya pelatnya B 444 TIK (baca: batik red),” katanya.
    Selain berburu sendiri, Ganjar mengaku sering mendapat hadiah batik dari kolega, sahabat, bahkan perajin atau desainer baju batik. Mereka yang cukup dekat dengan Ganjar relatif mengetahui hobi politikus yang satu ini. Ganjar juga tak pernah melewatkan pameran batik. Dari acara semacam itu, dia sering menambah koleksinya. Ganjar bahkan lihai menjelaskan detail beberapa baju batik koleksinya. Gayanya seperti pakar batik saja.
    “Kalau ke daerah, ada waktu luang, biasanya pasti nyari baju batik juga. Setiap daerah pasti punya baju batik dengan motif unik yang melambangkan ciri khas daerahnya, seperti Banjarnegara dengan motf salak,” tuturnya.

Tekad dan Pesan Ganjar Berantas Korupsi
    Sebagai “Lurahe Wong Jateng”, Ganjar Pranowo mengajak masyarakatnya untuk tidak lengah lagi. “Saatnya kita bergerak untuk berantas korupsi. Sudah terlalu lama birokrasi dan sekelompok kecil masyarakat penguasa mengobrak-abrik kekayaan negara. Kekayaan yang sebenarnya adalah milik masyarakat dan dipergunakan sebaik-baiknya untuk ksejahteraan masyarakat,” tegasnya.
    ‘Cuci piring’ adalah istilah untuk membersihkan kembali tanpa harus merusak. Bagaimana cara memperbaiki birokrasi yang amburadul menjadi lebih baik adalah dengan poliltik yang berwawasan reformasi birokrasi.
    “Politik anggaran yang berpihak kepada masyarakat akan menghasilkan pembangunan yang sesuai dengan keinginan masyarakat bawah nantinya,” pungkasnya.  (** yovi).

 

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan