Pengembangan Industri Konveksi akan Dukung Batik Gumelem

(BANJARNEGARA) – Diitengarai, Produksi Batik Gumelem ke depan selain masih mempertahankan produk batik tulisnya, pengembangannya juga akan lebih berakselerasi dengan kemauan pasar. Kesimpulan ini muncul saat kunjungan Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., beberapa waktu lalu di sentra industry kerajinan Batik Gumelem, di Susukan.

 

“Dari sejumlah kunjungan ke pengrajin Batik, saya melihat kreasi produk Batik cukup beragam corak dan motifnya. Di sisi lain, saya juga melihat produksi batik sejumlah perajin batik Gumelem sudah cukup maju dalam menyesuaikan tuntutan pasar. Diantaranya tuntutan tersedianya batik Gumelem, namun harganya murah” katanya.

Sejumlah perajin, lanjutnya, kini telah mulai menerapkan teknik printing dalam produksinya. Hasilnya memang sangat membantu menurunkan harga Batik. Dengan teknik tersebut, lanjutnya, ada perajin yang mematok harga batiknya mulai dari Rp 60 ribu ke atas per kainya. Harga murah ini tentu untuk mengurangi image Batik Gumelem mahal.

Hadi dapat memahami upaya yang ditempuh perajin dalam menghadapi pasar. Meski demikian dirinya meminta, apapun teknik pembuatannya Batik Gumelem harus mempunyai  cirri tersendiri yang khas Batik Gumelem. Dimana cirri ini tidak terdapat di tempat lain dan juga kekhasan ini menjadi harga mati serta harus dipertahankan untuk semua produk.

“Kalau Batik Gumelem kehilangan kekhasan, kerajinan Batik Gumelem akan hancur dengan sendirinya. Karena itu, jangan sampai hilang kekhasannya, sebab inilah yang membuat Batik Gumelem dicari orang” katanya.

Di lain sisi, lanjutnya, pengembangan batik printing sudah saatnya diikuti dengan pengembangan industry konveksi, namun yang dikelola secara professional. Bila pengelolaan bisa dilakukan secara professional akan menekan tingginya biaya produksi, salah satunya adalah ongkos jahitan. Sebab di sentra produksi pakaian di kota-kota Bandung dan Pekalongan, lanjutnya, ongkos jahitan untuk satu pakain bisa sangat murah sehingga sangat mendukung pengembangan industry.

“Di Banjarnegara ada desa yang menjadi pendukung pengembangan industry konveksi di tanah Abang, Jakarta. Hampir semua penduduknya terlibat dalam pengerjaan menjahit pakaian yang hasilnya dipasarkan di Tanah Abang, sentra industry pakaian jadi nasional. Di tempat tersebut, ongkos jahitan untuk satu baju sangat murah. Kami berharap Disindagkop dapat menghubungkan para pengrajin Batik Gumelem dengan tempat tersebut sesegera mungkin. Saya yakin bila tercapai kesesuaian, industi konveksi Batik Gumelem akan lebih berkembang lagi” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Wabup melakukan kunjungan dan dialog langsung dengan perajin dan pengusaha Batik seperti Wardah Batik, Mirah Batik, dan Giat Batik. Kunjungan tersebut dilakukan sebab Hadi ingin mendengar langsung masalah Batik dari perajin sendiri tanpa harus dikondisikan atau dipersiapkan terlebih dahulu.

Kesempatan tersebut rupayanya dimanfaatkan betul oleh perajin Batik. Edi pemilik Wardah Batik menyampaiakan bahwa diakui kini sangat sulit mencari generasi muda pembatik di Gumelem. Agaknya hal ini patut disiasati dengan memperbanyak pelatihan. Namun dirinya meminta bila ada pelatihan pembuatan Batik Gumelem yang diselenggarakan Dinas sebaiknya jangan hanya berlangsung dua hari.

“Idealnya, pelatihan Batik itu seperti magang. Untuk berlatih membatik dan setelah selesai bisa membatik tidak cukup waktu satu-tiga hari. Minimal, sepuluh hari. Kalau di bawah waktu minimal tersebut saya rasa lebih banyak mubazirnya” katanya.

Sedangkan Mirah dengan produk Mirah Batik justru lebih menginginkan bantuan modal sebab dirinya mempunyai banyak pesanan dan di lingkungan sekitarnya ada kurang lebih 40 pembatik. Menurut Mirah, para pembatik yang umumnya Ibu-ibu rumah tangga tersebut siap untuk membantunya kapan ada pekerjaan batik.

“Bila ada suntikan modal yang tidak harus berbentuk uang, bisa berujud bahan baku, kami berani menambah penerimaan pesanan karena tenaga siap. Selama ini pesanan senantiasa mengalir, namun modal jadi kendala” katanya.

Sedangkan Giat pemilik Batik Giat Usaha mengusulkan tentang pelatihan pembuatan kain perca Batik untuk souvenir pernikahan. Sebab dirinya mengamati dalam pembuatan pakaian banyak tersisa potongan kain batik yang selama ini hanya dibuang percuma.

“Pelatihan banyak ragamnya, bisa untuk membuat kipas, boneka, dan sebagainya. Sebab saya merasa eman-eman potongan kain batik tersebut masih bisa menghasilkan uang bila kita mau sedikit kreatif” katanya.

Dalam hal pembuatan pakaian jadi, lanjutnya, ketiga perajin tersebut melakukannya. Namun kebanyakan hanya sebatas pesanan, sebab bila dibuat terlebih dahulu takut tidak pas. Menurut Edi dari WArdah, para perajin sebenarnya punya ide untuk mengembangkan fashion, namun umumnya takut merugi sebab bahan bakunya yang mahal dan ongkos pembuatannya lumayan tinggi untuk satu bajunya. Karena itu terhadap usulan menghubungkan dengan pengusaha konveksi professional, imbuhnya, akan sangat mereka menolong dalam pengembangan industry fashion batik Gumelem.

“Harga pakaianjadi batik akan berkurang jauh jika kita berhasil bekerja sama dengan pengusaha konveksi professional. Sebab selama ini, ongkos jahitan ini menjadi salah satu kendala utama pengembangannya. Kami sangat berharap ada fasilitasi dari pemerintah” katanya.

Sementara itu Kabid UMKM pada Disindagkop Marwoto mengatakan menghadapi gagasan yang berkembang dalam kunjungan Wabup ke sentra Batiik dirinya mengaku pihaknya siap memfasilitasi ide menghubungkan perajin batik Gumelem dengan pengusaha konveksi professional.

“Kita akan mewujudkan gagasan ini. Beberapa pelatihan akan diselenggarakan untuk mendukung keberadaan Batik Gumelem. Dengan adanya masukan dari perajin, kemungkinan besar pelatihan akan kami selenggarakan dengan waktu minimal sepuluh hari, ataupun dengan cara magang. Kami juga akan merespon pelatihan pembuatan souvenir karena bahanya yang tersedia melimpah” katanya. (**--eko br)

новинки кинематографа
Машинная вышивка, программа для вышивания, Разработка макета в вышивальной программе, Авторский дизайн