DCF lima Diyakini Akan lebih Semarak

 BANJARNEGARA – Dieng Culture Festival (DCF) ke V dirancang akan lebih semarak dibanding penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan kegiatan DCF V mendatang akan melibatkan warga Dieng Wetan dalam penyelenggaraan DCF V, masuknya agenda acara baru, dan bertambahnya jumlah lampion yang diterbangkan.

Hal ini merupakan kesimpulan rapat persiapan penyelenggaraan DCF ke V di Pendopo Withlem Dieng yang dihadiri Wakil Bupati, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kades Dieng Kulon, Pokdarwis Dieng Pandawa dan mitra kerjanya dari Komunitas Film Indie serta Komunitas Musik Jazz.
Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., menyatakan bahwa Pariwisata itu tidak mengenal batas territorial. Tidak mengenal apakah ini batas wilayah Banjarnegara atau masuk wilayah Wonosobo. Oleh karena itu, lanjutnya, dirinya menekankan bahwa untuk kepentingan pengembangan Pariwisata di wilayah Dieng ini maka hanya ada satu kata yaitu Dieng. Sehingga pada kegiatan DCF V nantinya, lanjutnya, symbol itu semestinya ada dan tercermin dalam penyelenggaraannya.
“Saya ingin penyelenggaraan DCF V besok juga melibatkan warga Dieng Wetan untuk bersama-sama nyengkuyung kegiatan DCF V” katanya. 
Dalam gambaran saya, lanjutnya, salah satu peran Desa Dieng Wetan pada kegiatan DCF V nanti ada pada sesi saat rambut anak-anak gembel akan diruwat di Telaga Warna. Peran Kades Dieng wetan dan sesepuh Dieng Wetan, lanjutnya, adalah menyambut iring-iringan ruwatan di batas desa dan kemudian turut serta mengantarkannya ke tempat pelaksanaan labuhan hingga selesainya acara.
“Diharapkan nanti semua warga masyarakat Dieng Wetan ke luar rumah dan ikut serta menyambut iring-iringan. Sehingga kegiatan akan Nampak semarak sekali” katanya.
Selain agenda tersebut, kata Hadi, ada usulan pembenahan agenda DCF penerbangan lampion agar kegiatan ini diselenggarakan menjauhi candi. Diharapkan juga, lanjutnya, kegiatan ini melibatkan lebih banyak lagi orang.
Terhadap usulan ini, lanjutnya, dirinya setuju jika agenda penerbangan lampion ini penyelenggaraannya di tempat yang lebih luas, menjauhi Candi namun tidak meninggalkannya sebagai latar kegiatan, serta dengan menambah jumlah lampion.
“Penyelenggaraan di tempat yang lebih luas dan penambahan jumlah lampion ini, saya yakin akan menarik lebih banyak lagi keterlibatan wisatawan dalam kegiatan ini” katanya.
Penerbangan lampion ini, lanjutnya, sesungguhnya merupakan kegiatan yang menarik karena selain melibatkan cukup banyak wisatawan, kegiatan ini juga dilakukan dengan penuh suka cita dan bernuansa melankolis.
“Sungguh indah melihat banyak orang di malam hari, berkumpul bersama melepas balon lampion yang makin lama dengan cahaya redupnya terbang makin tinggi sementara dibawahnya terlihat samar dalam terpaan lembut cahaya lampion yang cukup banyak tersebut hamparan bayangan komplek candi Arjuna. Sungguh indah dan unik karena ada bayangan candi sebagai latarnya…Apalagi bila moment ini dapat ditangkap  oleh kamera photo maupun video. Tentu akan menjai moment indah dan tak terlupakan...” katanya.
Hal baru yang ditawarkan dalam penyelenggaraan DCF V mendatang, lanjutnya, adalah paket wisata eskpedisi Pawonan. Paket wisata Bukit Pawonan ini, lanjutnya, menjanjikan sejumlah keuntungan yang dapat dinikmati oleh wisatawan, baik karena keindahan wisata alamnya maupun wisata edukasi.
“Di puncak Pawonan dapat dilihat indahnya savanna yang di dalamnya terdapat dua telaga, yaitu telaga sumurup dan telaga nirmala. Konon dikisahkan di telaga nirmala inilah Hanoman mengalami malih rupa menjadi manusia kembali setelah jamasan dengan air telaga. Selain itu, di sekitar telaga sumurup ini untuk pertama kalinya ditemukan tanaman Puwaceng yang melegenda sebagai viagranya orang Jawa. Dan yang lebih hebat lagi, di puncak Pawonan ada tempat yang sangat bagus untuk menyaksikan pemandangan matahari terbit dan sekaligus tempat untuk menyaksikan matahari terbenam. Dari tempat ini pula kita bisa menyaksikan terbenamnya matahari di atas telaga Merdada. Sulit menemukan tempat seperti ini di tempat lain” katanya.
Bagi mereka wisatawan yang ingin melanjutkan dengan wisata edukasi, lanjutnya, di bagian puncak Pangonan ini juga terletak lokasi Candi Wisanggeni yang belum lama berselang ditemukan. Menyusul beberapa waktu kemudian, lanjutnya, di sekitar situs tersebut juga ditemukan sejumlah temuan sejumlah artefak sisa-sisa bangunan kuno. Meskipun belum ditemukan kepastiannya, lanjutnya, arkelog menganalisa tempat tersebut sebagai Dharmasala artinya tempat belajar.
“Bagi mereka wisatawan yang menyukai mempelajari sejarah dapat belajar banyak dari tempat ini” katanya.
Karena itu saya minta kepada Kepala Dinhubpar dan jajaranya untuk dapat menyelesaikan jalur pendakian menuju puncak Pawonan sebelum kegiatan DCF V dimulai pada akhir Agustus mendatang. Saya tidak tahu, lanjutnya, apakah jalur setapak maupun jalur kuda dapat diselesaikan bersama, tapi paling tidak satu jalur harus sudah siap.
“Sebagai perkenalan jalur ini, nanti di kegiatan acara ada kegiatan ekspedisi Pawonan yang diikuti oleh anak-anak SMP dan SMA. Jalurnya lewat Kawang Sikidang dan pulangnya lewat atas museum Kailasa. Saya rasa jalur rute ini tidak berat. Dibutuhkan waktu setengah sampai satu jam untuk mendakinya” katanya.
Sementara untuk kegiatan utama ruwat rambut gembel, lanjutnya, saya minta dilakukan dengan serius. Serius di pelaksanaan maupun waktunya.
“Saya minta pelaksanaan ritual ruwat rambut gembel pada hari Minggu waktu pelaksanaannya dimajukan lagi. Jangan sampai terlalu siang seperti tahun lalu yang dimulai di atas pukul 10.00 WIB. Pada pelaksanaan tahun ini saya minta waktunya maju dimana pukul 08.00. Saya serahkan caranya kepada pak Kades untuk mengaturnya” katanya.
Kelompok Pokdarwis Dieng Pandawa Alif menyatakan bahwa selama ini upaya untuk mengajak keterlibatan warga Dieng Wetan dan desa-desa di sekitar Dieng selalu dilakukan pada setiap kegiatan. Peran mereka diantaranya terlibat sebagai pengisi acara kesenian.
Selain itu, lanjutnya, upaya untuk mengajak serta pemerintahan di atasnya juga sudah dilakukan namun dalam perjalanan penyelenggaraan kegiatan DCF perannya makin ke sini makin tidak terlihat.
Pada penyelenggaraan tahun lalu, lanjutnya, diakui jumlah penonton lebih menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari efek erupsi kawah Timbang dan juga terputusnya akses jalan dari arah Wonosobo. Namun untuk tahun ini, lanjutnya, semua hambatan itu sudah tidak ada lagi sehingga harapan kami akan terjadi peningkatan jumlah pengunjung.
Agenda kegiatan DCF tahun ini hampir sama dengan tahun sebelumnya hari pertama diisi jalan sehat anak-anak sekolah, pameran UMKM, balon udara, pertunjukan kesenian, minum purwaceng bersama, bakar jagung bersama, dan wayang kulit. Hari kedua merupakan puncak acara saat penyelenggaraan ritual potong rambut gembel. Urutan dan materi acaranya, lanjutnya, sama dengan tahun lalu bedanya hanya di tempat larungan.
“Tempat larungan rambut gembel tahun sebelumnya di telaga Balekambang. Pada tahun ini dipindah lokasinya kembali ke Telaga Warna yang masuk wilayah administrative Kabupaten Wonosobo. Kami berharap pada kegiatan DCF V ini mampu mengundang pengunjung lebih banyak lagi” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinhubpar Banjarnegara, Aziz Ahmad, Sos., menyatakan bahwa kegiatan DCF ini sudah masuk dalam daftar Agenda Pariwisata Propinsi Jawa Tengah dan sudah disebarluaskan di banyak media dan kepada banyak pihak. Sesuai kesepakatan, lanjutnya, pihaknya sudah mendaftarkan jadual kegiatannya pada tanggal 30 – 31 Agustus 2014.
Karena itu dirinya minta kepada penyelenggara untuk memantapkan waktu tersebut. Sebab kemantapan waktu penting untuk memastikan pengaturan jadwalnya mengingat banyak juga kegiatan lain yang diselenggarakan. Selain itu dirinya mengingatkan, bahwa DCF sekarang ini telah menjadi agenda kegiatan budaya yang menjadi perhatian banyak orang.  Hal ini didasarkan pada kegiatan Rapat bersama Gubernur, Dinas Pariwasata dan sejumlah Event Organizer Pariwisata penting di Jawa Tengah, kata Aziz, disampaikan oleh Koordinator EO bahwa kegiatan paling menarik tahun ini di Jawa Tengah adalah Dieng Culture Festival.
“Itu penilaian pihak luar. Dan itu membanggakan sebab mereka para professional di bidang kepariwisataan itu meyakini bahwa DCF mampu mengalahkan pamor kegiatan besar lainnya yang ada di Jawa Tengah. Karena itu saya sangat berharap semua pihak yang berkepentingan untuk mendukung sepenuhnya pelaksanaan DCF V sehingga dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya” katanya. (**--eko br)

 

 

 

новинки кинематографа
Машинная вышивка, программа для вышивания, Разработка макета в вышивальной программе, Авторский дизайн