Ponpes Tempat Ideal Bagi Pendidikan Pemuda

BANJARNEGARA-Pemuda merupakan asset bangsa yang sangat berharga, karena kemajuan atau kehancuran suatu bangsa banyak tergantung kepada kaum mudanya yang merupakan  pemegang asset kepemimpinan dimasa depan.

“Pada tahun 2014 BPS memproyeksikan jumlah pemuda di Jawa Tengah mencapai 10,1 juta atau sekitar 30 persen dari jumlah penduduk Jateng. Sebagai agen perubahan, pemuda harus memiliki karakter yang kuat, kecerdasan intelektual,moral dan budi pekerti luhur,” kata Bupati Banjarnegara Sutedjo pada acara pendidikan wawasan kebangsaan bagi  pemuda pondok pesantren di Rejasa room surya yuda hotel Banjarnegara Jum’at (28/3) .

Namun di era globalisasi ini banyak pemuda yang kehilangan jati dirinya. Adanya  arus materialism, hedonism dan liberalism mengakibatkan redupnya nasionalisme sehingga menurunkan rasa persaudaraan, individualism serta munculnya anarkisme yang semakin tajam.

“Nilai dan wawasan kebangsaan saat ini seakan menjadi isu kurang menarik, terutama bagi generasi muda, kalau pemahaman nilai dan wawasan melemah otomatis jiwa nasionalisme terancam,” lanjut Sutedjo.

Berkaitan dengan hal tersebut pondok pesantren (ponpes) menjadi tempat yang paling baik dalam mendidik manusia berakhlak, beriman  dan taat beragama. Peran pesantren dalam membentuk dan mendidik pemuda Indonesia tidak bisa dilupakan dalam sejarah Indonesia.

“Pahlawan nasional seperti pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Antasari, KH Hasyim Asy’ari adalah tokoh santri, hal ini menunjukan kuatnya peran kaum santri dalam memerangi penjajah,” jelasnya.

Lebih lanjut Sutedjo mengatakan pondok pesantren merupakan wahana pendidikan yang berupaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang menjadi salah satu tujuan bernegara. Pesantren memegang peran penting sebagai lembaga pendidikan yang memberikan kontribusi besar bagi dunia pendidikan di Indonesia, dalam upaya menumbuhkan semangat kebangsaan bagi para santri sebagai generasi penerus bangsa.

Prinsip pesantren sendiri adalah tetap memegang tradisi yang positif dan mengimbangi dengan hal baru yang positif. dengan demikian peran strategis yang dimiliki pesantren perlu diikuti ketersediaan materi ajar yang relevan, sesuai dengan kondisi wawasan kebangsaan kita saat ini.

“Peran pesantren juga perlu diikuti oleh penyediaan tenaga pengajar  yang menguasai materi ajar dan metode pembelajaran aktif, sehingga tenaga pengajar dapat menyampaikan materi dengan metode yang menarik,” tambahnya.

Sementara Kapten Infanteri Suharsana dari Kodim 0704 Banjarnegara  yang juga sebagai pemateri pada acara tersebut mengatakan meminta kepada pemuda khususnya pemuda di pondok pesantren untuk memahami jiwa kebangsaan.

“Salah satu wujud pemahamannya adalah dengan mengerti dan menjiwai lagu kebangsaan dan Pancasila sebagai dasar negara,” kata Suharsana.

Dia juga meminta kepada pemuda untuk ikut mengawal dan menjaga kadaulatan NKRI. Menurutnya kemerdekaan yang  telah diperjuangkan oleh para pahlawan dahulu harus terus dijaga jangan dengan semangat merah putih dan menjaga NKRI sebagai harga mati.

“Pemuda harus peduli dengan lingkungan kebangsaan, sebagai contoh jika kita melihat bendera merah putih yang sudah usang hendaknya kita menegur  si pemilik agar mereka mau menghargai warna merah putih sebagai bendera bangsa,”tambahnya.

Sementara Kepala Bagian Pendidikan Pemuda dan olah raga Propinsi Jawa Tengah Suharyanto mengatakan pendidikan wawasan kebangsaan bagi  pemuda pondok pesantren bertujuan untuk meningkatkan pemahaman wawasan kebangsaan bagi pemuda ponpes.

“Setelah mengikuti pendidikan ini kesadaran pemuda ponpes untuk mengimplementasikan wawasan  kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari,’ kata Suharyanto.

Pendidikan wawasan kebangsaan bagi  pemuda pondok pesantren diikuti oleh 80 peserta dari berbagai pondok pesantren di Karesidenan Banyumas (**anhar)

 

 

 

новинки кинематографа
Машинная вышивка, программа для вышивания, Разработка макета в вышивальной программе, Авторский дизайн