Sat08242019

Last updateFri, 23 Aug 2019 7am

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Berita Umum Dikoordinasikan, Paket Wisata Bukit Pangonan

Dikoordinasikan, Paket Wisata Bukit Pangonan

 BANJARNEGARA –Paket Wisata Bukit Pangonan dibicarakan khusus dalam Rapat Dieng Culture Festival (DCF) V, Sabtu (05/03) di Pendopo Soeharto Withlem. Hal ini dikarenakan dalam paket Wisata tersebut tercantum obyek Cagar Alam Telaga Sumurup sebagai salah satu tujuan serta melalui hutan milih Perhutani Kawasan Pemangku Hutan (KPH) Banyumas Timur.

Ketua Rapat Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., menegaskan bahwa ekspedisi Pangonan merupakan upaya rintisan pengembangan wisata alam baru. Pengembangan destinasi wisata baru ini penting untuk menyemarakan pariwisata yang telah ada.

Bukit Pangonan, lanjutnya, memiliki banyak keunggulan sehingga pantas untuk dikembangkan sebagai obyek wisata baru. Di bukit Pangonan, lanjutnya, terletak kawasan padang savanna telaga Sumurup yang sangat indah. Di lokasi ini pula, lanjutnya, terdapat telaga nirwana yang dikisahkan merupakan tempat tokoh kera Hanoman malih rupa menjadi manusia kembali setelah membasuh muka dan badannya dengan air telaga nirwana.

“Di tengah savanna terdapat pohon cemeti yang mistis. Dan juga di tempat ini merupakan habitat asli tanaman purwaceng, ginseng dari tanah Jawa. Tempat asal muasal Purwaceng yang melegenda sebagai jamu kuat lelaki” katanya.

Tidak hanya itu, lanjutnya, dari bukit Pangonan ini, orang bisa menikmati dua keindahan alam yang luar biasa yaitu sunrise di pagi hari dan sunset di Sore hari. Dari atas ini pula, lanjutnya, orang bisa melihat keindahan landskap Komplek Candi Dieng dari atas bukit.

“Saya minta kegiatan ekspedisi Pangonan nantinya ada moment untuk menyaksikan sunrise ataupun sunset dari atas bukit Pangonan. Selain itu, kegiatan ekspedisi bisa dilaksanakan di siang hari sebab di atas bukit Pangonan selain keindahan savanna telaga sumurup juga terdapat sejumlah obyek wisata candi Wisanggeni dan peninggalan artefak lainnya” katanya.

Untuk mendukung pengembangan obyek wisata baru ini, lanjutnya, Pemkab melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) akan membangun rute jalan setapak dan rute jalan kuda. Jadi bagi wisatawan yang tidak kuat jalan kaki, lanjutnya, dipersilahkan naik menggunakan kuda.

“Penggunaan kuda dimungkinkan sebab rute jalannya juga mendukung. Lagi pula, alternative ini seperti mengembalikan kodratnya bukit Pangonan yang menurut sejarahnya merupakan tempat angon kuda” katanya.

Untuk kepentingan pengembangan wisata baru ini, lanjutnya, pihak Dibudpar diminta untuk koordinasi terus dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Perhutani KPH Banyumas Timur  agar tercapai kesepahaman. Sebab pengembangan wisata baru ini berkait erat dengan keduanya. Jangan sampai dalam pengembangan wisata ini, lanjutnya, kita terjebak pada orientasi keuntungan semata hingga melupakan kelestarian alam.

“Trend wisata terkini adalah wisata yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Termasuk di dalamnya adalah wisata eko green yang mengutamakan kelestarian alam. Harapannya, pengembangan wisata ini mendukung partisipasi warga dalam menjaga alam tetap hijau dan ramah terhadap kehidupan” katanya.

Endi Suryo dari BKSDA menyampaikan bahwa sampai saat ini memang dari pihaknya belum pernah membicarakan mau bagaimana pengelolaan Cagar Alam di Banjarnegara, termasuk di dalamnya telaga sumurup. Apalagi ketika ada kaitannya dengan pengembangan potensi pariwisata.

Secara umum, lanjutnya, karena Telaga Sumurup merupakan lahan konservasi maka obyek tersebut sifatnya tertutup dan tidak boleh diselenggarakan kegiatan. Apalagi untuk kegiatan semacam off road yang berpotensi merusak kelestarian Cagar Alam. Namun kalau kegiatan yang dilakukan berupa jalan kaki dan penelitian, sambungnya, maka kemungkinan besar hal tersebut akan diijinkan.

“Kami sarankan panitia untuk mengajukan ijin ke kantor BKSDA Propinsi. Kegiatannya mau seperti apa dan mau bagaimana” katanya.

Selain karena kegiatannya berupa jalan kaki, sambungnya, biasanya kegiatan yang dilaksanakan secara terjadwal akan diijinkan karena sifatnya bukan terus menerus pelaksanaannya.

Selain masalah ini, lanjutnya, pada setiap kegiatan event budaya selalu diramaikan oleh fotografer dan pewarta Televisi yang jumlahnya sangat banyak. Karena itu, lanjutnya, kami berharap panitia menginventarisir jumlah pewarta dan darimana saja mereka.

“Hal ini dikarenakan ada larangan pengambilan gambar kamera video di wilayah obyek konservasi. Untuk dapat melakukannya setiap pewarta atau cameramen harus membekali dirinya dengan Surat Ijin Masuk Wilayah Konservasi atau popular dengan nama Simasi. Saya harap masalah ini dapat diselesaikan sebelum pelaksanaan DCF V” katanya.

Wakil Ketua Panitia Pelaksana DCF V Alif Fauzan yang juga Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa mengatakan biasanya sebelum pelaksanaan pihaknya telah membereskan segala urusan, baik dengan BKSDA maupun dengan Dinhubpar. Termasuk masalah perijinan masuk ke wilayah obyek Cagar Alam dan Pariwisata. Sebab selain untuk kepentingan acara inti Ruwat Rambut Gembel, lanjutnya, di dalam kegiatan tersebut ada paket wisata yang ditawarkan ke wisatawan.

“Seperti biasanya, semua aturan akan kita penuhi, termasuk masalah Simasi. Rencana kita akan mengkordinir perijinan Simasi bagi rekan-rekan media melalui Sekretariat DCF V. Harapannya saat pelaksanaan DCF V nanti rekan-rekan media tidak terganjal urusan administrative”  katanya. (**--eko br)

 

 

 

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan