BKSDA Akan Lakukan Penataan Ulang Cagar Alam

BANJARNEGARA – Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) dalam tahun ini akan melakukan penataan ulang Cagar Alam yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Mengenai kapan waktunya, masih belum ada ketentuan. Namun hal tersebut sudah menjadi agenda BKSDA untuk tahun ini. Demikian disampaikan oleh Kepala Resort BKSDA Wonosobo Endi Suryo, Selasa (22/04) di kantornya.

“Penataan ulang tersebut nantinya akan berupa rencana pengelolaan Cagar Alam. Pada saatnya nati, untuk membahas hal tersebut kami akan mengundang stake holder dari BKSDA, Perguruan Tinggi, Pemkab, Kepala Desa, warga masyarakat, dan penggiat pariwisata” katanya.
Pengelolaan Cagar Alam di Kabupaten Banjarnegara, lanjutnya, masuk wilayah BKSDA Wonosobo. Sedangkan untuk obyeknya, lanjutnya, di Banjarnegara terdapat tiga obyek Cagar Alam yaitu Telaga Sumurup dan Telaga Dlingo di Dieng, Kecamatan Batur, serta hutan alam Pringamba di Kecamatan Sigaluh.
“Kalau menurut aturan, sebenarnya tidak boleh obyek Cagar Alam dijadikan obyek wisata. Namun kita tidak memungkiri jika obyek Cagar Alam telah menjadi bagian dari daya tarik pariwisata. Karena itulah dalam pertemuan nantinya semua hal dibicarakan untuk mencari titik temunya” katanya.
Saran saya, lanjutnya, bila Pemkab mempunyai rencana untuk memanfaatkan obyek Wisata Cagar Alam sebaiknya mengajukan surat resmi kepada pimpinan BKSDA di Semarang sejak dini. Sebab pengalaman kami, lanjutnya, proses perijinannya biasanya cukup lama.
“Itupun, kita belum tahu apakah diijinkan atau tidak” katanya.
Perlu diketahui, imbuh Endi, dengan adanya aturan baru pengelolaan obyek Cagar Alam sekarang ini berbeda dengan tahun-tahun sebelummnya. Bila disetujui adanya kerjasama, sambungnya, maka total wilayah Cagar Alam tersebut akan dikelola sepenuhnya oleh BKSDA.
“Pendapatan yang masuk akan disetorkan seluruhnya ke kas Negara karena dikategorikan sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Jadi tidak ada pembagian hasil dengan daerah” katanya.
Hal ini, lanjutnya, sama dilakukan BKSDA dengan Obyek Cagar Alam Telaga Warna. Sejak tanggal 1 Agustus 2013, lanjutnya, pemkab Wonosobo telah menyerahkan sepenuhnya pengelolaan Cagar Alam Telaga Warna kepada BKSDA.
“Semula tariff masuk senilai Rp 6.000;- dimana Rp 2000 disetor ke BKSDA. Namun sejak tanggal itu, tariff diberlakukan sebesar Rp 2000 dan hasil seluruhnya tanpa dipotong pajak diserahkan seluruhnya ke Kas Negara” katanya.
Kepala Dinhubpar melalui Sekretaris Drs. Tulus Sugiharto menyampaikan pihaknya menyambut baik akan adanya rencana penataan ulang pengelolaan sejumlah obyek Cagar Alam di wilayah Kabupaten Banjarnegara. Namun demikian, lanjutnya, mengingat obyek Cagar Alam tersebut juga mempunyai fungsi yang kaut mendukung pengembangan pariwisata dirinya berharap hal ini kiranya pembahasan tersebut dilakukan secara proporsional.
“Banyak wisatawan sengaja datang ke Dieng karena mereka ingin melihat keelokan dan keeksostisan alamnya. Termasuk keinginan mereka untuk melihat indahnya obyek Cagar Alam Telaga Dlingo dan Sumurup. Barangkali yang perlu dicari titik temu adalah bagaimana baiknya agar pariwisata jalan namun kegiatan ini aman bagi upaya Cagar Alam” katanya.
Di sisi lain, lanjutnya, kita juga harus obyektif bahwa pariwisata telah melahirkan sejumlah kesempatan bagi warga di sekitar obyek untuk mencari mata pencaharian di bidang pariwisata seperti warung dan rumah makan, penginapan, transportasi, souvenir, guiding, dan seterusnya.
“Sebaliknya justru saya berharap, dari kesadaran warga bahwa pariwisata dapat memberikan peluang ekonomi muncul kesadaran kuat warga untuk terlibat aktif melestarikan lingkungan, termasuk obyek wisata Cagar Alam” katanya. (**--eko br)

 

 

 

новинки кинематографа
Машинная вышивка, программа для вышивания, Разработка макета в вышивальной программе, Авторский дизайн