Evaluasi DCF V

 Koordinasi jadi sorotan
BANJARNEGARA – Secara keseluruhan Dieng Culture Festival (DCF) V berlangsung sukses. Baik sukses penyelenggaraan maupun sukses mendatangkan penonton. Hal ini termasuk luar biasa bagi sebuah festival yang dimotori oleh masyarakat. Meski demikian, ada sejumlah hal yang menjadi ganjalan dalam penyelenggaraan tahun ini yang perlu dievaluasi agar tahun depan dapat terlaksana lebih baik lagi. Demikian disampaikan oleh Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., Rabu (08/10) dalam sarasehan Evaluasi DCF V di aula Pendopo Soeharto Withlam Dieng.

“Diantara masalah itu adalah parahnya kemacetan arus lalu lintas dalam penyelenggaraan DCF V lalu. Penyebab masalah ini, tidak bisa dilihat semata karena membanjirnya pengunjung dan jalan yang sempit. Analisa saya, pengaturan lalu lintas yang tidak terkoordinasi dengan baik, menjadi penyebab utama parahnya kemacetan” katanya.
 Padahal Polisi dan petugas dari DLLAJ, lanjutnya, sudah bekerja keras mengatur arus lalu lintas dengan baik.
“Untuk pelaksanaan tahun depan, putuskan saja lalu lintas satu arah. Sehingga meskipun macet tetap ada pergerakan. Biar pengunjung memutar tidak apa-apa” kataya.
Karena jika sudah diputuskan satu arah, lanjutnya, para petugas yang berada di kantong-kantong parkir mestinya tidak akan mengeluarkan kendaraan semaunya. Namun mengarahkan kendaraan sesuai arah pergerakan satu arah. Sehingga tidak akan membuat kendaraan menumpuk.
“Meski begitu, Pemkab juga mengakui masalah kemacetan ini ada andil Pemkab yaitu masalah sarana jalan yang sempit. Jalan yang menjadi kewenangan Pemprop tersebut memang tengah kita usulkan untuk diprioritaskan agar mendukung kegiatan pariwisata di Dieng” katanya.
Hal lain yang disorot Hadi adalah masalah pelayanan terhadap media. Menurutnya, peristiwa penolakan ID Card Press yang dibuat Humas Pemkab oleh salah seorang panitia adalah kurang pada tempatnya. Apalagi, lanjutnya, hal ini disertai dengan penekanan bahwa kegiatan ini adalah bukan kegiatan Pemkab.
“Kegiatan DCF V ini sejak awal dibangun secara sinergi antara masyarakat Dieng Kulon, Pokdarwis, dan Pemkab. Saya kira masalah ini muncul lebih karena kurangnya koordinasi. Maka ke depan harus dipastikan siapa yang akan mengkoordinir ID Card sejak awal. Jangan sampai peristiwa ini berulang. Sebab besarnya DCF V juga tidak lepas dari peran media local sejak acara ini dirintis untuk pertama kalinya” katanya.
Padatnya jadual acara, lanjutnya, namun tidak disertai dengan informasi yang jelas mengenai waktu dan tempat pelaksanaan juga perlu menjadi perhatian. Sebagai contoh, lanjutnya, saat orang ramai menonton jazz rupanya di sisi lain tengah berlangsung acara penerbangan lampion.
“Ke depan saya minta Dinhubpar membangun baliho besar yang berisi informasi jelas run down acara. Di situ diinformasikan acara apa, dimana tempatnya, dan kapan waktu pelaksanaannya. Sehingga pengunjung tahu dan dapat mengatur waktunya, apa yang mau ditontonya” katanya.
Hal lain yang menggembirakan dari kegiatan DCF V ini, lanjutnya, keterlibatan masyarakat yang semakin besar, makin solidnya dukungan dari desa-desa sekitar, banyaknya kesenian yang mengisi acara, dan popularnya DCF V di dunia maya.
“Salah satu yang saya catat adalah sampai tengah malam masih ada penampil seni pertunjukan. Hal ini tentunya menghibur dan mengisi waktu bagi mereka pengunjung yang tidak mendapatkan tempat untuk menginap dan mereka yang ingin menikmati Dieng lebih lama” katanya.
Sarasehan diselenggarakan oleh Pokdarwis Dieng Pandawa di aula Pendopo Soeharto Withlam Dieng. Hadir pada kesempatan ini Wakil Bupati, Staf Ahli Bupati bidang Pemerintahan, Kepala Dinhubpar dan sekretaris, seluruh panitia DCF V, Kades Dieng Kulon dan kades dari desa pendukung kegiatan DCF V, dan Muspika kecamatan Batur.
Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa, Alif Fauzi, mengakui bahwa sebagai sebuah event penyelenggaraan tentu saja DCF V ada kekuatan dan kelemahannya. Karena itu dirinya berharap dalam evaluasi ini ada masukan-masukan kritis yang diyakininya akan berguna untuk memperbaiki kinerja panitia di tahun mendatang.
“Salah satu hal yang paling diharapkan dari evaluasi ini adalah masukan mengenai materi event. Sebab dalam industry pariwisata, unsure kebaruan penting untuk mempertahankan sebuah event untuk tetap hidup” katanya. (**--eko br)

 

 

 

новинки кинематографа
Машинная вышивка, программа для вышивания, Разработка макета в вышивальной программе, Авторский дизайн