Wed08212019

Last updateWed, 21 Aug 2019 9am

Video Banjarnegara

Back You are here: Home Berita Umum Musik Keroncong Cocok untuk Pendidikan Karakter

Musik Keroncong Cocok untuk Pendidikan Karakter

BANJARNEGARA – Musik keroncong cocok untuk pendidikan karakter. Sebab lirik lagu keroncong pada umumnya berisikan pesan perjuangan, kecintaan pada negeri dan semangat cinta tanah air. Selain itu, beat irama music keroncong juga lembut, tidak hingar binger, dan tidak merangsang kekerasan. Demikian disampaikan Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., Jumat malam (14/11) pada acara Lesehan Keroncong di Pendopo Dipayudha Adigraha.
“Musik keroncong pas untuk sarana pendidikan karakter. Maka tepat kiranya jika music keroncong menjadi salah satu jenis music yang diajarkan dalam kurikulum pendidikan anak sekolah” katanya.

Dan sebagai warisan budaya, lanjutnya, music keroncong perlu mendapat pembelaan agar music ini tetap eksis. Sebab jika tidak ada pembelaan, lanjutnya, music keroncong akan kalah bersaing dengan jenis musik lain seperti pop dan dangdut. Sekarang saja, lanjutnya, mayoritas seniman keroncong tinggal yang tua-tua. Sebagian kecil diantaranya, lanjutnya, tampil anak-anak muda sebagai generasi penerus jenis music ini. Tanpa upaya pembelaan, lanjutnya, lama-lama music keroncong bisa hilang.
“Pembelaan bisa dilakukan dengan cara memberi reward kepada seniman music keroncong agar mereka tetap memainkan music keroncong sebagaimana adanya, sebagai warisan budaya. Diantaranya dengan memperbanyak ajang penampilan seperti penyelenggaraan festival keroncong, sebagai music pengisi acara kegiatan pemerintahan, dan ajang penampilan lainnya” katanya.
Kegiatan Sarasehan yang diselenggarakan dengan model takshow ini menampilkan dua pembicara yaitu Ketua Himpunan Musik Keroncong Indonesia (Hamkri) Suharjo, dan Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Otong Tjundaroso. Tampil sebagai pengisi acara music adalah Orkes Keroncong Sinten Sing Teyeng Marai (SSTM).
Menurut Suharjo, mengapa keroncong dimasukan kategori warisan budaya karena usia music keroncong yang sudah sangat tua dirunut sejak kehadirannya pertama kali pada abad 16 bersama migrasi penduduk Goa ke Jakarta. Musik yang disebut-sebut membawa pengaruh kuat Portugis tersebut, lanjutnya, mengalami adaptasi musikologi di Indonesia sehingga terlahir music keroncong yang asli Indonesia.
“Salah satu adaptasi musikologi yang kentara adalah alat musik cello dimana di Negara asalnya digesek, namun di khasanah music keroncong dalam memainkan alat ini bukannya digesek tapi dbetof” katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Aziz Ahmad, menambahkan bahwa tujuan dislenggarakannya acara Lesehan Keroncong ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa music keroncong merupakan salah satu karya bangsa Indonesia yang patut diuri-uri. Selain itu. Imbuhnya, kegiatan ini juga dalam rangka mempopulerkan keroncong pada khalayak luas agar keroncong juga dapat dinikmati oleh anak-anak muda.
“Di Banjarnegara ada kurang lebih 10 grup music keroncong. Anggotanya hampir semuanya adalah orang-orang tua pecinta music keroncong. Kalau tidak didukung anak-anak muda, pada saatnya akan sulit mencari group keroncong di Banjarnegara. Karena itu, patut disyukuri bahwa ada sejumlah anak muda yang bergabung dengan orkes keroncong SSTM dari Kelurahan Rejasa. Hal ini menunjukan bahwa music keroncong bisa diterima oleh kalangan muda. Saya kira bila kita berhasil mendorong anak muda untuk mempelajari music keroncong, maka ke depan music keroncong akan tetap eksis” katanya. (**--eko br)

 

 

 

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan