LINTAS SERAYU Bencana Alam, Karena Ketidakseimbangan Alam

LINTAS SERAYU
Bencana Alam, Karena Ketidakseimbangan Alam

Bencana Alam yang terjadi adalah karena alam yang tidak seimbang sehingga alam mencari keseimbangannya sendiri. Saat manusia memulai pemukimannya di suatu tempat yang asri, maka sejak mula itu pula keseimbangan alam terganggu. Berdirinya bangunan rumah dengan menyingkirkan pepohonan, munculnya aliran air dari kegiatan manusia yang harus dialirkan sesuai jalannya, aktivitas manusia yang berpengaruh pada lingkungan, dan seterusnya.
Demikian disampaikan Rektor STAIN Purwokerto Dr. A. Luthfi Hamidi, M.Ag, (23/12) di aula Lantai 3 Setda. “Seharusnya keseimbangan yang hilang tersebut digantikan agar alam menjadi seimbang kembali. Alam yang tidak seimbang ini akan mencari keseimbangannya sendiri yang dikhawatirkan bentuk keseimbangan itu adalah lahirnya bencana itu sendiri,” katanya.
Sehingga kurang tepat kiranya, lanjutnya, menghubung-hubungkan bencana alam karena orang-orang tidak sholat. Namun sholat itu sendiri, lanjutnya, mmang bisa menjadi ukuran kebaikan suatu kaum. Kita percaya, lanjutnya, bahwa orang yang sholatnya benar, maka akan membawa pengaruh positif bagi orangnya. Sehingga saat keburukan ada pada suatu tempat, lanjutnya, maka bisa kita tanyakan bagaimana sholatnya.
“Namun ini juga harus hati-hati. Pertanyannya kalau sholat menjadi ukuran, maka kala semua orang Islam sholatnya telah benar sholatnya seharusnya tidak ada lagi orang Islam miskin, tidak ada lagi orang Islam bodoh sebab orang Islam akan menyukai pengetahuan. Namun di kenyataannya, kondisinya berbeda jauh dari harapan-harapan ini. Berarti ada yang salah dengan kita umat Islam” katanya.
Di dalam suatu pertemuan 1000 ornag Yahudi, lanjutnya, di dalamnya ada 200 orang doktor. Sebaliknya, lanjutnya, saya tidak yakin di pertemuan 1000 orang Islam ada Doktornya, berapa orang  S2, dan berapa yang sarjana.
“Ini bukti kecil bahwa umat Islam kurang mencintai Ilmu dan pengetahuan. Tidak sesuai pesan ajarannya Nabi belajar hingga liang kubur ataupun mencari ilmu hingga negeri Cina,” katanya.
Sekretaris Daerah Drs. Fahrudin Slamet Susiadi, MM, menyatakan bahwa sepanjang Januari – Desember ini beragam musibah terjadi di wilayah Kabupaten Banjarnegara. Dari awal tahun di bulan Januari, lanjutnya, sudah ada longsor. Disusul kemudian di bulan berikutnya, lanjutnya, angin ribut, kekeringan, dan longsor. Paling besar tentunya, lanjutnya, di bulan Desember ini yang menelan korban jiwa cukup banyak.
“Bencana yang terjadi sepanjang tahun ini tidak bisa dianggap sebagai kondisi biasa saja. Namun bencana ini harus dimaknai bahwa Tuhan sedang memperingatkan kita umatnya. Barangkali berkaitan dengan akhlak kita yang harus diperbaiki. Mari kita instropeksi” katanya.
Ketua Panitia Pengajian Umum (PPU) Drs. M. Sobri menyatakan bahwa kegiatan Pengajian Lemtekda dengan penyelenggara Badan Kepegawaian Daerah (BKD) bekerja sama dengan PPU dimaksudkan agar peserta pengajian membludak. Alasannya sederhana, lanjutnya, sebab BKD kantor yang mengurusi nasip para pegawai. Posisi ini, lanjutnya, diharapkan mampu membawa pengaruh kehadiran peserta.
“Agaknya harapan tersebut masih jauh api dari panggang. Mungkin ada kegiatan lain yang menjadi saingan dan juga kesibukan akhir tahun sehingga tidak bisa memenuhi target” katanya.
Selain pengajian Lemtekda, lanjutnya, PPU masih mempunyai lima agenda pengajian lain di tingkat kecamatan. Pengajian berikutnya akan diselenggarakan di Kecamatan Madukara, Karangkobar, Pejawaran, Punggelan, dan Mandiraja.
“Mungkin untuk kecamatan Karangkobar akan ada penjadualan ulang karena adanya musibah yang menimpa dukuh Jemblung, Kecamatan Karangkobar” katanya. (**—eko br).

новинки кинематографа
Машинная вышивка, программа для вышивания, Разработка макета в вышивальной программе, Авторский дизайн