Thu08222019

Last updateThu, 22 Aug 2019 8am

Back You are here: Home

Wisata

Pesona Wisata Curug Bolong

Kecamatan Sigaluh memang layak dinobatkan sebagai gudangnya desa agrowisata. Salah satu yang
paling moncer adalah Desa Prigi. Desa ini bisa dikatakan semawis (memiliki segalanya) untuk agrowisata.
Terutama di Dusun Karanganyar dan Dusun Sidomulyo, dusun ini memiliki banyak sekali potensi. Dan
salah satu yang paling menarik adalah objek wisata Curug Bolong.
Menuju ke Curug Bolong, akan lebih afdol jika dilakukan berjalan kaki. Dari Dusun Sidomulyo maupun
Karanganyar jaraknya sekitar 2 kilo saja. Namun dengan jalan setapak yang rata-rata curam, perjalanan
menjadi lebih menantang dan bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Tapi tenang saja, sepanjang
perjalanan kita akan dilindungi oleh rimbunnya pepohonan salak sehingga akan sejuk terasa. Namun
bukan salak biasa yang ada di sini, karena sebagian besar telah tersertifikasi dan layak untuk diekspor ke
luar negeri. Sepanjang perjalanan kita pun bisa sesekali istirahat sambil memetik dan menikmati
manisnya buah yang berbahasa Inggris snake fruit ini. Akan lebih lengkap rasanya jika kita juga nyangu
(berbekal) kopi biji salak serta gethuk salak yang juga banyak diproduksi oleh warga dusun ini.
Setengah perjalanan, kita akan disuguhi pemandangan hutan pinus yang juga ditanami salak
dibawahnya. Gemericik sungai-sungai kecil yang bermuara ke Serayu, menjadikan suasana semakin
damai saja. Semakin mendekati air terjun Curug Bolong, kita harus menyusuri sungai Gomati yang berair
sangat jernih di musim kemarau. Suara gemuruh air terjun, dari jarak tidak kurang dari 200 meter sudah
terdengar. Namun penampakan air terjunnya tidak tampak dari jarak seperti itu. Itu karena air terjun
Curug Bolong dari arah aliran sungai di bawahnya agak menyerong ke kanan, sehingga baru dari jarak
puluhan meter, kegagahan aliran deras air terjun setinggi tidak kurang dari 20 meter itu baru tampak.
Hembusan uap airnya menjadikan keringat dan lelah berjalan sejauh 2 kilo meter lenyap seketika. Dan
yang ada, keinginan untuk segera terjun berenang ke air, menikmati kesegaran dan derasnya air terjun.
Menurut warga setempat Kisan Abdullah, nama Curug Bolong disematkan oleh warga sekitar karena
pada zaman dahulu di kala pepohonan besar masih mengelilingi air terjun menyamarkan asal pangkal
dari air terjun, sehingga yang nampak hanya seperti lubang di tebing yang mengeluarkan air terjun. Kini
meskipun pepohonan besar sudah jarang, namun dengan penanaman kembali yang dilakukan oleh
pihak Perhutani menjadikan kawasan tersebut tetap rindang dengan pepohonan pinus yang sedang
membesar.
Rasanya hanya dua kekurangan dari Curug Bolong, akses jalan dan fasilitas pendukung belum tersedia
secara memadai di sana. Sehingga, selain harus melalui jalan setapak yang licin dan curam, ada baiknya
jika pengunjung juga mempersiapkan bekal untuk dimakan di tepian Curug Bolong, sembari menikmati
hembusan uap air Curug Bolong, agar tidak kelaparan setalah asyik berenang di kubangan Curug Bolong.
Selamat melakukan perjalanan dan bertualang ke sana.
(Heni Pur).

Scotter, Destinasi Wisata Baru Dieng

Pariwisata Dieng punya destinasi wisata baru yang diberi nama Dieng Scotter. Lokasinya berada di
puncak bukit scotter yang berada 1 km arah utara desa Dieng Kulon. Dari tempat ini wisatawan
bisa menikmati indahnya blue sunset dan sekaligus sunrisenya. Bila kondisi cuaca cerah, laut utara
juga bisa terlihat dengan mata telanjang dari tempat ini. Demikian dijelaskan oleh Alif Fauzi,
Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa, baru-baru ini di lokasi wisata Scotter.
“Jarak tempuh ke Dieng Scotter relatif tidak terlalu jauh dan mudah menjangkaunya. Jalan kaki dari desa kira-
kira 20 - 30 menit sudah sampai di kaki bukit. Lalu naik melewati jalan berundak kurang lebih 5 menit sudah sampai
pada titik pandang. Bila tidak ingin capek-capek, bisa ditempuh dengan naik ojek sampai kaki bukit.” katanya.
Di puncak Scotter, lanjutnya, terdapat gazebo dan tempat duduk yang bisa digunakan untuk duduk-duduk santai
menikmati indahnya pemandangan alam Dieng dari atas bukit. Tempat ini bisa jadi alternatif bagi wisatawan yang
ingin menikmati indahnya pemandangan alam Dieng, baik di waktu senja maupun pagi hari.
“Saat sunset dan kondisi alam yang cerah, wisatawan bisa menikmati tenggelamnya matahari dengan latar
kawasan candi, telaga balekambang, dan wilayah pemukiman penduduk berada jauh di bawahnya” katanya.
Wakil Bupati Drs. Hadi Supeno, M. Si., mengapresiasi semangat dan upaya yang ditempuh Pemerintah Desa,
Pokdarwis Dieng Pandawa, dan masyarakat dalam rangka pengembangan destinasi wisata baru. Karena kebaruan
dalam pariwisata sangat penting agar wisatawan tidak bosan. Namun ke depannya upaya ini juga harus diimbangi
dengan pembenahan obyek, termasuk daya dukungnya seperti infrastruktur, parkir, toilet, warung makan, dan
seterusnya.
“Papan informasi scotter baiknya dilengkapi dengan informasi ketinggian. Selain itu penting kiranya sekali
waktu diadakan event seni budaya di tempat ini. Pemandangannya dari atas ternyata unik, dan bia event
diselenggarakan sore jelang sunset ataupun malam hari sungguh sangat eksotik pemandangannya” katanya.
Saat penyelenggaraan event maupun saat keramaian, koordinasi dengan pemilik ladang di sekitarnya sangat
penting untuk mengantisipasi rusaknya tanaman di sekitar titik pandang. Sebab lokasi Dieng Scotter berada di
tengah kebun milik warga.
“Pada saatnya kegiatan petani di sekitarnya bisa dikembangkan menjadi bagian dari obyek. Dari mengolah lahan,
menanam, merawat, dan memanen tanaman mereka. Apalagi jika budidaya tanamannya merupakan tanaman
organik. Wisatawan bisa diajak juga untuk terlibat dalam kegiatan ladang, dari pengolahan sampai memetik
hasilnya. Ini juga laku dipasarkan untuk wisatawan” katanya. . (**—eko br)

Launching Desa Wisata Giritirta

Desa Wisata Giritirta (Dewi Gita) Kecamatan Pejawaran, (18/10) dilaunchingkan oleh

Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo  di lapangan Desa Giri Tirta kecamatan
Pejawaran.
Dengan dilauncingkannya Dewi Gita diharapkan bisa menjadi desa wisata mandiri yang mampu

meningkatkan pendapatan bagi masyarakat desa dari sektor pariwisata. “Terbentuknya Pokdarwis juga

diharapkan bisa menjadi mesin penggerak dalam bidang usaha pariwisata, selain itu bagi masyarakat, dengan

ditetapkannya desa wisata bisa menjadi tonggak awal majunya desa wisata dan menambah rasa kepedulian akan

pariwisata,” kata Bupati Sutedjo saat memberikan sambutan pada acara gelar sapta pesona dan launching desa

wisata Giri Tirta.

Dilaunchingkannya Dewi Gita merupakan upaya pemkab dalam pengembangan kepariwisataan dan

mendorong kemandirian desa wisata sebagai salah satu destinasi pariwisata yang memiliki daya saing.

“Sektor pariwisata merupakan sektor usaha yang sangat bertahan dalam menghadapi iklim perekonomian

dunia yang tidak menentu, selain itu usaha pariwisata juga membawa pengaruh yang sangat positif secara makro

kepada masyarakat,” lanjutnya.

Lebih lanjut Bupati Sutedjo menambahkan kecendrungan minat wisatawan yang beralih pada wisata alam

menjadi angin segar bagi pelaku wisata khususnya desa wisata yang layak sebagai daerah tujuan wisata. “Desa

wisata harus mempunyai keunikan lokal atau objek wisata yang layak untuk dikenalkan untuk menarik

wisatawan,” tambah Sutedjo.

Sutedjo menambahkan pendirian desa wisata selain dimaksudkan untuk mendatangkan wisatawan adalah

untuk upaya pengentasan kemiskinan, sehingga dalam upaya membangun desa wisata, perlu adanya

perencanaan yang terintegrasi dan pembinaan sumber daya manusia untuk menjadi desa wisata yang siap

menerima wisatawan dengan program sapta pesonanya. Sementara kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata

Banjarnegara mengatakan, Desa Giritirta memiliki obyek wisata yang menarik berupa air terjun dan air terjun

hangat

Setiap hari tempat wisata ini banyak didatangi wisatawan lokal dan wisatawan dari luar Banjarnegara .

“Biasanya liburan akhir pekan banyak yang datang ke Giritirta, apalagi saat ini akses jalan menuju lokasi air

terjun sudah dilebarkan, sedangkan di lokasi air terjun juga sudah di bangun jembatan , fasilitas untuk mandi

dan akses jalan,” kata Aziz.

Aziz menambahkan dengan digelarnya sapta pesona dan launching Desa Wisata Giri Tirta maka  masyarakat

harus siap menerima pengunjung dan memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan. Masyarakat juga

harus memiliki kesadaran wisata dan menjaga keseimbangan alam agar obyek wisata tidak rusak.

“Jika masyarakat menerapkan sapta pesona di sekitar tempat wisata tentunya maka akan berpengaruh kepada

tingkat kunjungan wisata,” jelasnya. (**anhar).

‘Dewi Gita’ Terus Bersolek

Menjadi Destinasi Wisata Unggulan

Dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat sebagai buah dari usaha ekonomi daerah

yang mandiri, pengembangan sektor pariwisata sebagai industri merupakan suatu

keniscayaan. Pengembangan industri tanpa cerobong asap ini sangat dimungkinkan

mengingat begitu kayanya alam Banjarnegara dengan banyaknya ragam pesonanya. Mulai

dari keindahan alam, khazanah peninggalan sejarah, keunikan adat budaya berbagai

wilayah serta aneka atraksi festival dan pagelaran seni budayanya. Salah satu potensi

pariwisata Banjarnegara yang siap menjadi destinasi unggulan baru adalah ‘Dewi Gitia’

(Desa Wisata Giritrirta) Kecamatan Pejawaran, dengan potensi keindahan alam yaitu dua

air terjun (curug) dan pemandian air hangat yang mempesona.

Semua daya pesona itu tentu tidak dapat begitu saja memberi nilai tambah bila kemudian tidak diiringi

dengan ikhtiar menggugah minat pasar untuk mengunjungi serta menikmati terhadap berbagai obyek

wisata yang ada. Di antara usaha untuk menarik minat pasar itu adalah adanya inisiatif dari industri

pariwisata secara periodik berkelanjutan untuk dikenalkan dan dipromosikan ke masyarakat.

Desa Giritirta Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara menyimpan beberapa obyek wisata alam

yang cukup menakjubkan. Setidaknya, ada dua sumber air panas dan dua air terjun yang bisa kita nikmati

jika kita mengunjungi desa yang berada di dataran tinggi ini.

Empat obyek wisata yang dimiliki Giritirta diantaranya Curug Genting, Curug Mrawu dan dua sumber

air panas yang jarak satu dengan lainnya tidak berjauhan. Hanya saja, untuk dapat ke lokasi tersebut tidak

dapat dilalui sepeda motor, apalagi kendaraan roda empat mengingat masih  jalan setapak.

Perjalanan ke desa Giritirta  memang membutuhkan waktu yaitu dari kota Banjarnegara berjarak sekitar

35 km. ke arah Dieng melalui jalanan pegunungan yang sangat indah dengan pemandangan alam dikanan

kiri jalan,  setelah sampai pasar Karangkobar, ke arah Pejawaran berjarak sekitar 7 km, di sebelah kiri jalan

akan ada gapura Curug. Rasanya tak akan menyesal datang ke Curug Genting. Benar indah, jauh seperti

yang terbayang, guyuran air tumpah dari ketinggian 70 meter. Di bawah telah menyambut bebatuan besar

kecil yang berserakan. Rumput hijau tampak menghampari bebatuan itu di sisi luarnya.

Dengan potensi keindahan alam dan partisipasi masyarakatnya melalui kelompok sadar wisata Tirta

Pesona yang ikut berperan untuk memajukan dan menegembangkan sektor pariwisata diwilayahnya, maka

sangat patut desa Giritirta menyandang predikat desa wisata, harapan masyarakat tentunya dengan

diresmikanya desa wisata yang peresmiannya dilakukan bersama dengan aksi sapta pesona dan

pengukuhan kelompok sadar wisata Tirta Pesona pada bulan Oktober 2015 oleh Bupati Banjarnegara,

maka akan membuat pariwisata Giritirta semakin bergeliat dan berkembang. Selama ini memang potensi

dan keindahan alam yang ada di Giritirta belum banyak dikenal masyarakat terutama luar daerah, namun

dengan dicanangkanya desa wisata maka gaung dan gema desa wisata giritirta akan semakin dikenal

masyarakat luas.

Kepala desa Giritirta Mister M Yusuf mengatakan, keindahan yang dimiliki obyek wisata di desanya

tak sebanding dengan kendala jalan yang tidak memadai untuk menuju objek wisata ini. Pihaknya berharap

ada pihak ketiga yang berminat untuk mengembangkannya.

”Untuk itu kami mengundang investor yang professional untuk menyulap Curug Genting menjadi objek

wisata andalan di Banjarnegara setelah Dieng. lokasinya masih terbuka lebar dan sangat potensial untuk

dikembangkan.” ungkap dia. Menurut dia, sumber mata air panas juga sangat potensial untuk dijadikan

kolam renang. Sumber mata air panas dengan debet yang cukup besar dan mengandung belerang kuning

yang dikeluarkan mata air panas ini menambah indahnya bebatuan Sungai Merawu. Selain itu, debit air

hangat ini tetap stabil meskipun kemarau panjang sedang melanda.

Rupanya gayung bersambut dalam hal ini pemerintah daerah bersama pemerintah desa dan masyarakat

merespon positif pengembangan obyek Giritirta untuk dikembangkan menjadi lebih baik dan indah yaitu

dengan dibangunnya jembatan gantung menuju lokasi curug, perluasan area parkir kendaraan roda empat

maupun roda dua, gazebo, kamar mandi dan toilet dilokasi obyek wisata, sehingga dengan pengembangan

awal ini membuat para wisatawan lokal maupun mancanegara berdatangan untuk menikmati keindahan

obyek wisata yang ada, hal ini dapat dilihat dari kunjungan wisatawan setiap hari dan puncaknya pada

setiap akhir pekan selalu penuh wisatawan.

Dari pengembangan awal yang sudah dilaksanakan maka pemerintah daerah bersama pemerintah desa

Giritirta merencanakan pembangunan pelebaran jalan dari area parkir menuju  ke lokasi obyek wisata dan

juga pelebaran saluran air yang dapat digunakan untuk lalu lintas perahu karet ke lokasi wisata. Selain itu

direncanakan pula pembangunan pendukung lainya seperti mushola,  kios-kios suovenir, makanan

minuman serta kuliner khas giritirta , dan pembangunan loket-loket penjualan tiket masuk.

Pada peresmian desa wisata Giritirta juga dilakukan penanaman pohon sebagai upaya langkah

konservasi dan penghijauan dilingkungan area wisata , sehingga akan menjadi kawasan hijau dan

menambah keindahan obyek wisata. Keberadaan desa wisata Giritirta tentunya akan menambah banyak

pilihan wisatawan dari luar kota untuk menikmati pemandangan alam dan keindahan Giritirta setelah
Dieng.    Oleh : Kumbokarno.

‘Dewi Gita’ Terus Bersolek Menjadi Destinasi Wisata Unggulan

Dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat sebagai buah dari usaha ekonomi daerah 

yang mandiri, pengembangan sektor pariwisata sebagai industri merupakan suatu 

keniscayaan. Pengembangan industri tanpa cerobong asap ini sangat dimungkinkan 

mengingat begitu kayanya alam Banjarnegara dengan banyaknya ragam pesonanya. Mulai 

dari keindahan alam, khazanah peninggalan sejarah, keunikan adat budaya berbagai 

wilayah serta aneka atraksi festival dan pagelaran seni budayanya. Salah satu potensi 

pariwisata Banjarnegara yang siap menjadi destinasi unggulan baru adalah ‘Dewi Gitia’ 

(Desa Wisata Giritrirta) Kecamatan Pejawaran, dengan potensi keindahan alam yaitu dua 

air terjun (curug) dan pemandian air hangat yang mempesona.

Semua daya pesona itu tentu tidak dapat begitu saja memberi nilai tambah bila kemudian tidak diiringi 

dengan ikhtiar menggugah minat pasar untuk mengunjungi serta menikmati terhadap berbagai obyek 

wisata yang ada. Di antara usaha untuk menarik minat pasar itu adalah adanya inisiatif dari industri 

pariwisata secara periodik berkelanjutan untuk dikenalkan dan dipromosikan ke masyarakat.

Desa Giritirta Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara menyimpan beberapa obyek wisata alam 

yang cukup menakjubkan. Setidaknya, ada dua sumber air panas dan dua air terjun yang bisa kita nikmati 

jika kita mengunjungi desa yang berada di dataran tinggi ini.

Empat obyek wisata yang dimiliki Giritirta diantaranya Curug Genting, Curug Mrawu dan dua sumber 

air panas yang jarak satu dengan lainnya tidak berjauhan. Hanya saja, untuk dapat ke lokasi tersebut tidak 

dapat dilalui sepeda motor, apalagi kendaraan roda empat mengingat masih  jalan setapak.

Perjalanan ke desa Giritirta  memang membutuhkan waktu yaitu dari kota Banjarnegara berjarak sekitar 

35 km. ke arah Dieng melalui jalanan pegunungan yang sangat indah dengan pemandangan alam dikanan 

kiri jalan,  setelah sampai pasar Karangkobar, ke arah Pejawaran berjarak sekitar 7 km, di sebelah kiri jalan 

akan ada gapura Curug. Rasanya tak akan menyesal datang ke Curug Genting. Benar indah, jauh seperti 

yang terbayang, guyuran air tumpah dari ketinggian 70 meter. Di bawah telah menyambut bebatuan besar 

kecil yang berserakan. Rumput hijau tampak menghampari bebatuan itu di sisi luarnya.

Dengan potensi keindahan alam dan partisipasi masyarakatnya melalui kelompok sadar wisata Tirta 

Pesona yang ikut berperan untuk memajukan dan menegembangkan sektor pariwisata diwilayahnya, maka 

sangat patut desa Giritirta menyandang predikat desa wisata, harapan masyarakat tentunya dengan 

diresmikanya desa wisata yang peresmiannya dilakukan bersama dengan aksi sapta pesona dan 

pengukuhan kelompok sadar wisata Tirta Pesona pada bulan Oktober 2015 oleh Bupati Banjarnegara, 

maka akan membuat pariwisata Giritirta semakin bergeliat dan berkembang. Selama ini memang potensi 

dan keindahan alam yang ada di Giritirta belum banyak dikenal masyarakat terutama luar daerah, namun 

dengan dicanangkanya desa wisata maka gaung dan gema desa wisata giritirta akan semakin dikenal 

masyarakat luas.

Kepala desa Giritirta Mister M Yusuf mengatakan, keindahan yang dimiliki obyek wisata di desanya 

tak sebanding dengan kendala jalan yang tidak memadai untuk menuju objek wisata ini. Pihaknya berharap 

ada pihak ketiga yang berminat untuk mengembangkannya. 

”Untuk itu kami mengundang investor yang professional untuk menyulap Curug Genting menjadi objek 

wisata andalan di Banjarnegara setelah Dieng. lokasinya masih terbuka lebar dan sangat potensial untuk 

dikembangkan.” ungkap dia. Menurut dia, sumber mata air panas juga sangat potensial untuk dijadikan 

kolam renang. Sumber mata air panas dengan debet yang cukup besar dan mengandung belerang kuning 

yang dikeluarkan mata air panas ini menambah indahnya bebatuan Sungai Merawu. Selain itu, debit air 

hangat ini tetap stabil meskipun kemarau panjang sedang melanda.

Rupanya gayung bersambut dalam hal ini pemerintah daerah bersama pemerintah desa dan masyarakat 

merespon positif pengembangan obyek Giritirta untuk dikembangkan menjadi lebih baik dan indah yaitu 

dengan dibangunnya jembatan gantung menuju lokasi curug, perluasan area parkir kendaraan roda empat 

maupun roda dua, gazebo, kamar mandi dan toilet dilokasi obyek wisata, sehingga dengan pengembangan 

awal ini membuat para wisatawan lokal maupun mancanegara berdatangan untuk menikmati keindahan 

obyek wisata yang ada, hal ini dapat dilihat dari kunjungan wisatawan setiap hari dan puncaknya pada 

setiap akhir pekan selalu penuh wisatawan.

Dari pengembangan awal yang sudah dilaksanakan maka pemerintah daerah bersama pemerintah desa 

Giritirta merencanakan pembangunan pelebaran jalan dari area parkir menuju  ke lokasi obyek wisata dan 

juga pelebaran saluran air yang dapat digunakan untuk lalu lintas perahu karet ke lokasi wisata. Selain itu 

direncanakan pula pembangunan pendukung lainya seperti mushola,  kios-kios suovenir, makanan 

minuman serta kuliner khas giritirta , dan pembangunan loket-loket penjualan tiket masuk.

Pada peresmian desa wisata Giritirta juga dilakukan penanaman pohon sebagai upaya langkah 

konservasi dan penghijauan dilingkungan area wisata , sehingga akan menjadi kawasan hijau dan 

menambah keindahan obyek wisata. Keberadaan desa wisata Giritirta tentunya akan menambah banyak 

pilihan wisatawan dari luar kota untuk menikmati pemandangan alam dan keindahan Giritirta setelah 

Dieng.    Oleh : Kumbokarno.

Homestay Diusulkan Bebas Pajak

 

Homestay itu ada syaratnya. Salah satunya adalah jumlah kamar maksimal 5. Lebih dari itu bukan lagi homestay. Namanya penginapan atau hotel” katanya.

 

Pemberian insentif bebas pajak ini, lanjutnya, agar mendorong tumbuhnya ekonomi kerakyatan. Lagi pula homestay di Dieng khususnya, sambungnya, ramainya hanya pada musim tertentu seperti saat kegiatan Dieng Culture Festival. Selain hari itu, kata Hadi, kondisi homestya cenderung sepi.

 

Selain itu, penetapan pajak dirasa juga kurang mencerminkan aspek keadilan. Hal ini karena kondisi homestay tidak kontinue ramai namun insidental. Sementara untuk homestay di dalam akan memperoleh tamu jika ada limpahan tamu dari homestay yang berada di di tepi jalan utama” katanya.

 

Tidak ada pajak, lanjutnya, namun masyarakat harus menjaga kebersihan.

 

Kalau jorok, coret saja dari daftar homestay” katanya.

 

Pada tahun 2001, kata Hadi, di Dieng baru ada 4 home stay. Kini di Dieng Kulon saja lebih dari 60 homestay. Ini menunjukan, sambungnya, masyarakat Dieng yang semula petani kentang makin ke sini makin dapat menerima kehadiran pariwisata. Mereka tidak lagi cuek atau hanya menjadi penonton, tapi kini terjun langsung di usaha pariwisata dengan mengambil berbagai peran yang salah satunya adalah menjual jasa homestay.

 

Homestya merupakan usaha pariwisata yang tumbuh dari inisiatif masyarakat sendiri. Pemerintah hanya memfasilitasi saja. Dimotori oleh Pokdarwis Dieng Pandawa, usaha homestay ini kemudian tumbuh subur seiring makin banyak event pariwisata di Dieng” katanya.

 

Berkait dengan usulan penghapusan pajak, Kabid Pendapatan Daerah Lainnya pada DPPKAD, Anang Sutanto, S. STP., mengatakan soal pembebasan bea pajak untuk homestay diperbolehkan asal memang itu untuk homestay. Jika pertimbangan memenuhi seperti omsetnya kecil, bukan termasuk sarana industri pariwisata besar, dan keberadaannya menjadi bagian fasilitas pendukung pariwisata yang pemerintah sendiri belum mampu menyediakannya.

 

Syaratnya buat surat ke Bupati minta dibebaskan pajak” katanya.

 

Pajak homestay itu 10% dari omset. Dari pengalaman tahun lalu, lanjutnya, dari yang mendaftar 90 homestay setelah dikaji ternyata sebagian besar tidak memenuhi syarat sebagai homestay karena sejumlah alasan salah satunya jumlah kamar lebih dari 5 buah.

 

Homestya dipungut pajak untuk memenuhi asas keadilan. Karena penginapan dan hotel yang mempunyai segmen sama dipungut mengapa homestya tidak. Meskipun dengan kondisi fluktuasi pariwisata membuat upaya ini kurang ekonomis, namun karena begitu bunyi aturannya” katanya.

 

Staf Kementrian Pariwisata Ambarukmi menambahkan homestay rumahan adalah homestay yang dikelola pemiliknya dengan memanfaatkan sebagian atau seluruh rumah untuk disewakan kepada tamu dan maksimal 5 kamar. Dengan melihat pada fenomena pariwisata yang makin berkembang dan tingkat kunjungan wisata yang meningkat, maka homestya ini menjadi pilihan yang tepat untuk pariwisata berbasis masyarakat.

 

Disamping harga relatif murah dan terjangkau, sekaligus dapat meningkatkan pendapatan masyarakat karena dapat menjadi tambahan penghasilan” katanya. (**—eko br)

 

Read more: Homestay Diusulkan Bebas Pajak

Wisata

Pariwisata di banjarnegara
Pariwisata
Banjarnegara

Perkebunan

POHON KARET
Perkebunan &
Kehutanan

Pertanian

Potensi
Pertanian

Industri

Potensi Perindustrian di Banjarnegara
Potensi
Industri

Pertambangan

Potensoi Pertambangan
Potensi
Pertambangan