DS – Penduduk lanjut usia (lansia) di Kabupaten Banjarnegara yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) jumlahnya mencapai 7600 jiwa. Pemerintah melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPP) berupaya memberikan perlindungan sosial dengan berbagai program bantuan baik dari APBD maupun APBN Kementerian sosial untuk menjamin kesejahteraan hidup para lansia tersebut.

Kepala Dinsos PPP, Aziz Ahmad menyampaikan, lansia berumur 60 tahun keatas di dalam keluarga tidak mampu menjadi tanggung jawab pemerintah. Mereka otomatis akan masuk dalam DTKS yang diusulkan dalam Program Keluarga Harapan (PKH) berdasarkan identitas kependudukan serta berhak mendapatkan bantuan sosial.

“Bantuan diberikan dalam bentuk logistik berupa sembako dan dana sosial. Bagi lansia yang belum tercover dalam PKH maka dapat dimasukan pada program Kartu Jawa Tengah Sejahtera dengan pendampingan dari Tim Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK),” terangnya saat ditemui di Kantor Dinsos PPP, Selasa (20/11)

Partisipasi masyarakat juga perlu ditumbuhkan di lingkungannya masing-masing, kata Aziz, agar jangan sampai ada lansia yang terlantar. Jika ada lansia yang terlantar karena hidup sendiri, jauh dari keluarga atau tempat tinggal harap dilaporkan untuk ditindaklanjuti oleh pemerintah.

Kepala Bidang Perlindungan Jaminan Sosial dan Rehabilitasi Sosial, Sri Winarni menyampaikan, di tahun 2019 Pemkab Banjarnegara telah menyalurkan bantuan-bantuan sosial bagi lansia antara lain dari APBD dengan memberikan paket sembako untuk lansia terlantar sebanyak 160 orang. Sedangkan bantuan sosial yang berasal dari APBN yang telah dilaksanakan adalah Bantu LU (Bantuan Bertujuan Lanjut Usia) tahap pertama pada pertengahan tahun 2019 kepada 276 lansia tidak mampu dengan besaran Rp.1.200.000 per orang.

Selain itu juga ada Program Perawatan Sosial melalui lembaga kesejahteraan sosial (LKS), dengan sasaran 200 orang lansia. Dana sosial yang dibagikan sejumlah Rp.1.200.000 yang dicairkan dalam tiga tahapan. “Bantuan Ini peruntukannya untuk pengingkatan gizi dan asupan makanan seperti susu, madu, buah atau daging serta terapi kesehatan bagi lansia. Sasarannya adalah mereka yang tidak memiliki keluarga atau hidup sendiri,” jelasnya

Bantuan juga diberikan untuk 57 lansia produktif yang masih mampu bekerja seperti pedagang kecil atau peternak yang masing-masing menerima tiga juta rupiah pada program Family Suport, imbuhnya

Upaya lain untuk mengakomodir penanganan lansia adalah dengan dibentuknya Komisaris Daerah (Komda) Lansia di Kabupaten Banjarnegara, lanjutnya. Adapun tugas dari Komda Lansia ini adalah mengkoordinasikan perumusan strategi program serta langkah-langkah yang diperlukan dalam penanganan lansia sesuai dengan kebijakan pemerintah dan memantau serta mengevaluasi pelaksanaan program lanjut usia.

“Komda Lansia tidak melaksanakan langsung secara teknis tetapi mengkoordinasikan tugas dari masing-masing OPD dan pihak terkait yang tergabung di dalamnya,” tuturnya

Harapannya, Komda Lansia bisa menjembatani tidak hanya lansia yang tidak mampu, tetapi juga bisa mefasilitasi kegiatan lansia lain, seperti pelayanan kesehatan dan senam sehat untuk lansia melalui Dinas Kesehatan. (*_amar/ed DS)