Banjarnegara – Kegiatan dari BPIP dan AGSI, Tiga guru dari Kabupaten Banjarnegara mengikuti kegiatan Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila, Jumat (29/11) hingga Senin (2/12), yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bekerjasama dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) di Hotel Shangri La Surabaya. Mereka adalah Heni Purwono, Candra Bahara dan Abdul Kahar.

Heni Purwono mewakili Pengurus AGSI Pusat, Candra Bahara selaku Ketua AGSI Kabupaten Banjarnegara dan Abdul Kahar mewakili MGMP Pendidikan Agama Islam Kabupaten Banjarnegara. Ketiganya mendapatkan materi mengenai ideologi Pancasila dari Plt. Kepala BPIP Prof Hariyono, Sekretaris Dewan Pengarah BPIP Mayjend TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, sejarahwan JJ Rizal, Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Budayawan Sujiwo Tejo. Sayangnya Mendikbud Nadiem Makarim batal mengisi kegiatan tersebut dikarenakan sakit.

Heni Purwono mengatakan, Kabupaten Banjarnegara memiliki keistimewaan tersendiri bagi penyelenggara kegiatan karena dua hal.

“Pertama, Banjarnegara termasuk salah satu dari dua kabupaten di Indonesia yang kepengurusan AGSI-nya sudah terbentuk. Kedua, Banjarnegara memiliki tokoh sejarah penting Soemitro Kolopaking Poerbonegoro yang merupakan anggota Dokuritzu Cunbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Sehingga wajar jika kabupaten Banjarnegara mendapatkan kuota cukup banyak” jelas Heni.

Kegiatan itu sendiri diikuti oleh 500 guru dari seluruh provinsi di Indonesia. Adapun Candra Bahara mengungkapkan, ia yang ditunjuk AGSI Pusat untuk menentukan peserta dari Banjarnegara memilih Abdul Kahar, guru SMAN 1 Wanadadi, karena beliau dianggap memiliki pengalaman empiris mengenai ujian kebhinekaan.

“Pak Kahar dulu mengajar di Sampit. Beliau dari etnis Madura, dan akhirnya hijrah ke Jawa karena konflik antar suku di Sampit. Pengalaman itu tentu menarik diungkap dalam Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila ini” jelas Candra.

Presiden AGSI Sumardiansyah Perdana Kusuma dalam kegiatan tersebut mengatakan pendekatan sejarah paling tepat dalam rangka mengideologisasikan Pancasila.

“Pada hakikatnya Pancasila berakar dan lahir dari sejarah. Maka menggunakan pendekatan sejarah dalam mengkontekstualisasikan nilai-nilai luhur yang terkandung melalui peristiwa masa lalu dan keteladanan para pendiri bangsa adalah keniscayaan bagi pendidik Pancasila. Ini sesuai sekali dengan tema Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila ini, yaitu Pancasila dalam Narasi, Rasa dan Laku Lampah. Banjarnegara punya tokoh Soemitro Kolopaking Poerbonegoro yang sangat inspiratif. Maka pendekatan historis mengenai Pancasila di Banjarnegara tentu sangat tepat” jelas Sumardiansyah. (Muji P/Dinkominfo)