BANJARNEGARA – Memperingati ulang tahun yang ke-2 Sedulur Ngaji Banjarnegara yang melakukan road show selama sepekan sukses menggelar sebuah pengajian bertajuk “Sedulur Ngaji Goes to Simpati” yang bertempat di Indoor, SMP N 1 Bawang, Sabtu (18/10) yang dihadiri oleh 800 siswa dengan didampingi para guru dan staf karyawan.
Pada kegiatan ini Sedulur Ngaji Banjarnegara menggandeng Starday Jogjakarta. Merupakan komunitas marbot masjid yang terdiri dari anak-anak muda yang bermarkas di Real Masjid Jogjakarta. Kegiatan ini menghadirkan Dio Diadon, seorang inspirator muda yang dikenal aktif berdakwah dan memberikan inspirasi positif khususnya kepada generasi muda atau biasa disebut dengan Gen Z. Sejak pagi, ratusan lebih anak muda sudah mulai memadati lokasi. Mereka hadir bukan untuk sekadar nongkrong, melainkan untuk ikut mengaji bareng membahas peran generasi muda di tengah arus deras digitalisasi.
Acara dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh wakil kepala sekolah. Akhmad sangat mengapresiasi atas kehadiran para anak muda yang punya kepedulian terhadap dakwah Islam dan pembentukan karakter generasi Z. Dia mengajak peserta untuk fokus mengikuti pengajian. Disampaikannya bahwa tidak setiap kesempatan diberikan kepada setiap orang dan tidak setiap orang bisa mendapatkan kesempatan. “Ini merupakan suatu kesempatan yang langka karena dengan kehadiran para anak muda ini diharapkan bisa menguatkan karakter para siswa di sini,” ungapnya.
Selanjutnya dilanjutkan dengan sesi interaktif yang dipandu oleh Husen dan Fajar selaku MC sebelum pemaparan materi utama oleh Dio Diadon. Suasana gemuruh dan gegap gempita menggema di indoor saat MC dan pemateri menyapa peserta. Peserta sangat antusias mengikuti acara. Dengan suasana yang akrab dan membangun interaksi yang familiar Dio menyampaikan materinya kepada para peserta yang juga merupakan Gen Z.
Dengan bertema : “Jaga Hati Jaga Arah, Raih Sukses Di Masa Depan.” Disampaikan bahwasanya Gen Z merupakan anugerah terbesar dari Allah. Mereka dianugerahi banyak kemudahan terlahir di dunia dengan segala fasilitas digitalisasi hampir di setiap lini kehidupan.
Semua aktivitasnya hampir bisa dilakukan dengan sarana digital dan lingkungan dunia maya. Bahkan untuk mendapatkan rezeki pun bisa dilakukan hanya cukup dari dalam kamar saja. Dio menceritakan kisahnya kalau dulu di masa belianya dia pernah menjadi anak jalanan (Punk) yang dijalaninya sekitar satu setengah tahun. Dalam perjalanan hidupnya dia juga pernah bergabung dengan grup band Endang Soekamti. Bahkan pernah juga diminta oleh MNC untuk membuat film animasi serial Adit Sopo Jarwo.
Sebagai CEO dan Manager Utama pada produksi film tersebut tentunya hal itu merupakan hal yang istimewa bagi seorang anak muda seperti Dio yang kala itu masih berusia 18 tahun. Dan dengan penghasilan yang lebih dari cukup itu Dio selain berhasil mencukupi kebutuhannya sendiri juga bisa menyisihkan penghasilannya untuk membangun sebuah masjid yang hingga kini menjadi markas kerjanya sekaligus tempat tinggalnya. Masjid itu dinamai dengan Real Masjid yang berlokasi di daerah Condong Catur Sleman Yogyakarta.
Dio bersama timnya berhasil menarik minat peserta. Dio menciptakan sebuah pengajian yang dikemas dengan konsep tongkrongan yang asyik dan gaul. Program ini membahas tema-tema viral di media sosial, dengan pendekatan sosio-kultural yang relevan dengan kehidupan anak muda. Menyanyi bareng adalah cara Dio dan timnya untuk menyentuh para peserta agar lebih fokus mengikuti materi pengajian. Hal ini menunjukkan kreativitas mereka dalam berdakwah di era gen z. Di setiap penyampaian materi Dio selalu mengajak anak muda agar lebih lurus ibadahnya sesuai syariat yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Fenomena berpacaran di kalangan pelajar juga disinggungnya. Bahwa hal itu sangat dilarang oleh agama bahkan menjadi haram ketika dilakukan.
“Janganlah teman-teman tergoda untuk berpacaran karena agama melarangnya dan menyebabkan tidak fokus pada tugas utamanya sebagai seorang pelajar yaitu belajar,” jelas Dio. Lebih baik jika anak-anak muda membekali dirinya dengan banyak belajar dan berlatih keterampilan hidup agar kelak siap menghadapi tantangan zaman. Ada tindak lanjut usai pengajian. Sedulur Ngaji mengadakan pelatihan keterampilan kepada para pemuda dan secara regular diadakan aneka kegiatan ngaji. Acara diakhiri dengan doa dan foto bersama. (mjp/Tj).




0 Komentar